- PT Dharma Inti Bersama membangun kawasan industri pengolahan bauksit di Pulau Penebang, Kalimantan Barat untuk mendukung hilirisasi nasional.
- Proyek ini telah menyerap 1.800 tenaga kerja lokal dan memicu pertumbuhan ekonomi baru di wilayah Kabupaten Kayong Utara.
- DPRD Kayong Utara mengapresiasi kontribusi ekonomi perusahaan serta mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui alih pengetahuan teknologi.
Suara.com - Investasi industri pengolahan bauksit di Kalimantan Barat mulai menunjukkan dampak nyata bagi masyarakat. Proyek yang dikembangkan Harita Group melalui anak usahanya PT Dharma Inti Bersama di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP), kini menjadi salah satu motor penggerak ekonomi baru di wilayah Kabupaten Kayong Utara.
Tak hanya berorientasi pada hilirisasi mineral, proyek ini juga membuka peluang kerja dalam jumlah besar. Hingga April 2026, sekitar 1.800 tenaga kerja lokal telah terserap dalam berbagai aktivitas pembangunan kawasan industri tersebut.
Ketua Pansus LKPJ DPRD Kayong Utara, Ishak ST, menilai kehadiran investasi ini memberikan dampak langsung bagi masyarakat setempat.
“Kami mengapresiasi PT DIB yang telah membuka banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal. Namun ke depan, peningkatan kompetensi tenaga kerja tetap menjadi hal penting agar mereka bisa berkembang ke posisi yang lebih strategis,” ujarnya dalam rapat kerja, belum lama ini.
KIPP sendiri dirancang sebagai kawasan industri terintegrasi untuk pengolahan dan pemurnian bauksit menjadi alumina hingga aluminium, yang menjadi bagian dari strategi hilirisasi nasional.
Selain menyerap tenaga kerja, dampak ekonomi yang ditimbulkan juga mulai terasa di tingkat lokal. Aktivitas proyek memicu pertumbuhan usaha baru, meningkatkan permintaan bahan baku, hingga menggerakkan ekonomi desa-desa penyangga seperti Pelapis.
Anggota DPRD lainnya, Abdul Rani, menyoroti bahwa kontribusi perusahaan sudah terlihat bahkan sebelum memasuki tahap produksi penuh.
“Walaupun belum beroperasi penuh, dampaknya sudah terasa. Ada penyerapan tenaga kerja, pelatihan keterampilan, hingga pemberdayaan masyarakat kepulauan,” katanya.
Di sisi lain, DPRD juga menilai keberadaan tenaga kerja asing masih diperlukan untuk posisi teknis tertentu. Namun, proses alih pengetahuan diharapkan mampu mempercepat peningkatan kualitas tenaga kerja lokal.
Baca Juga: Ekonomi Digital RI Diramal Bakal Cerah, Investasi Data Center Melejit Gila-gilaan!
Manajemen PT Dharma Inti Bersama menegaskan bahwa proyek ini dirancang untuk menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang berkelanjutan.
Selain membuka lapangan kerja, perusahaan juga menjalankan berbagai program tanggung jawab sosial (CSR), mulai dari bantuan kebutuhan dasar hingga dukungan pembangunan infrastruktur di sekitar kawasan industri.
Dengan percepatan pembangunan dan rencana operasional ke depan, DPRD Kayong Utara optimistis proyek KIPP akan memberikan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta memperkuat posisi daerah sebagai pusat industri berbasis sumber daya alam.
Transformasi dari daerah kepulauan menjadi kawasan industri strategis pun kini mulai terlihat, menjadikan investasi Harita Group di KIPP bukan sekadar proyek ekonomi, tetapi juga pintu masuk bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal secara berkelanjutan.
Berita Terkait
-
Alasan Harga Emas Justru Turun di Tengah Konflik
-
Anhar Sudradjat: Investasi Rumah Lebih Menguntungkan Dibanding Emas
-
Purbaya Pamer Kondisi Ekonomi RI ke Investor AS, Minta Tak Ragu Investasi
-
Bukan Sekadar Tabungan, Inilah 10 Tanda Keuangan Anda Aman dan Stabil
-
Jumlah Investor Reksa Dana Tembus 19,8 Juta di Awal 2026
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
Terkini
-
Tembus Rp10.355 Triliun, Likuiditas Uang Beredar Maret 2026 Tumbuh 9,7 Persen
-
BP Batam 'Ngebut' di 2026: Investasi Tembus Rp17,4 Triliun, Sektor Elektronik Jadi Jawara
-
7 Hari Menuju Ambang Batas: Trump di Ujung Tanduk, Kongres Beri 'Cek Kosong' Perang?
-
Lewat Kartini BISA Fest, Telkom Perkuat Peran Perempuan di Era Digital
-
Babak Akhir Utang 'Whoosh', RI Siap Sodorkan Skema Restrukturisasi ke China
-
Pemerintah Gunakan Cara Baru Pantau BBM Subsidi Agar Tak Bocor
-
Pengguna Aktif GoPay Tembus 26 Juta
-
Danantara Umbar Biang Kerok Kinerja Garuda Indonesia Masih Seret
-
Pegang 42 Persen Cadangan Dunia, Nikel Masih Jadi 'Raja' Investasi Hilirisasi RI
-
Jumlah BUMN Dipangkas Jadi Hanya 300, Begini Klaster-klasternya