- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan defisit APBN sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap PDB pada semester pertama 2026.
- Penyampaian data tersebut berlangsung dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI di Jakarta pada hari Selasa, 7 Juli 2026.
- Pemerintah memastikan defisit APBN tetap terkendali dan berada di bawah ambang batas tiga persen sesuai amanat undang-undang keuangan negara.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp 196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di semester pertama 2026.
Bagi yang belum tahu, defisit APBN adalah pengeluaran negara lebih banyak ketimbang pemasukan negara. Hal ini disampaikan Menkeu Purbaya saat Rapat Kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI pada Selasa (7/7/2026).
"Defisit APBN semester satu tercatat sebesar Rp196,5 triliun dengan presentasi sebesar 0,76 persen hadap PDB," kata Purbaya, dikutip dari kanal YouTube TVR Parlemen, Selasa (7/7/2026).
Bendahara Negara mengklaim kalau angka defisit APBN ini masih dijaga dalam batas aman dan terkendali. Sebab angka ini belum melebihi 3 persen seperti yang diatur di Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Keuangan Negara.
Purbaya kembali menyinggung soal defisit APBN yang pertama kali disampaikan pada triwulan pertama 2026, di mana angkanya sempat tembus 0,9 persen dari PDB. Hal itu diklaimnya berdampak pada kepanikan kondisi ekonomi RI.
"Jadi kalau kita lihat dulu waktu kami publish angka triwulan pertama, keluarnya itu 0,9 (persen). Semua pengamat panik dan mereka bilang kalau dikali empat jadi 3,6 (persen)," lanjutnya.
Bendahara Negara kemudian menyindir para ekonom soal perhitungan tersebut. Ia mencontohkan apabila menggunakan rumus yang sama, maka defisit APBN setahun penuh 2026 hanya ada di angka 1,52 persen.
Meskipun defisit APBN lebih terkendali, Purbaya tetap yakin kalau para ekonom bakal bilang kondisi APBN Indonesia masih dalam keadaan parah.
"Jadi mereka tidak akan membahas ini. Mereka tetap akan bilang anggarannya parah gitu.
Baca Juga: Ajak Istri dan Anak Kunker Ke New York, Apakah Menteri PU Langgar Aturan Menkeu?
Purbaya tak menampik kalau defisit APBN 2026 bisa saja lebih tinggi karena adanya hitungan belanja Pemerintah yang akan terakumulasi di triwulan kedua. Namun ia memastikan anggaran tetap terkendali.
"Tapi kita pastikan bahwa anggaran kita tetap terkendali dan defisit akan di bawah 3 persen," jelas Purbaya.
Rincian pendapatan dan belanja negara
Dalam paparannya, Purbaya menerangkan kalau realisasi Pendapatan Negara mencapai Rp 1.459 triliun di semester pertama 2026. Angka ini setara 46,3 persen dari outlook APBN dan tumbuh 21,4 persen secara tahunan (yoy).
Pendapatan Negara itu terdiri dari Penerimaan Perpajakan sebesar Rp 1.187,8 triliun yang mencakup Penerimaan Pajak Rp 1.035,7 triliun serta Kepabeanan dan Cukai Rp 152,0 triliun. Kemudian ada Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp 271,0 triliun dan Penerimaan Hibah Rp 700 miliar.
Sementara itu Belanja Negara mencapai Rp 1.656,0 triliun atau setara 43,1 persen dari target APBN 2026. Angka ini juga tumbuh 17,8 persen yoy dari tahun lalu.
Belanja Negara itu terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat sebanyak Rp 1.298,6 triliun yang meliputi Belanja Kementerian Lembaga (K/L) Rp 658,9 triliun dan Belanja non K/L 639,7 triliun. Kemudian ada Transfer ke Daerah (TKD) sebanyak Rp 357,4 triliun.
Dengan kinerja APBN tersebut, keseimbangan primer mencatatkan surplus sebesar Rp 85,1 triliun. Kemudian di sisi pembiayaan anggaran realisasinya mencapai Rp 452 triliun atau 65,6% dari target APBN 2026.
Berita Terkait
-
Ajak Istri dan Anak Kunker Ke New York, Apakah Menteri PU Langgar Aturan Menkeu?
-
DPR Mulai Bahas RUU Pertanggungjawaban APBN 2025, Fraksi Sampaikan Sikap
-
Anggaran MBG 2027 Bakal Turun, Segini Hitung-hitungannya!
-
Menkeu Purbaya Resmi Tetapkan Daftar Batubara yang Dibatasi Ekspornya
-
Purbaya Mau Efisiensi Anggaran MBG Besar-besaran, Kemenkeu Ikut Awasi SPPG
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Tentang PFII dan Ambisi Bangun Pusat Finansial Pesaing Dubai
-
Komisaris Tanpa Kompetensi Hanya Jadi Beban bagi BUMN
-
Ajak Istri dan Anak Kunker Ke New York, Apakah Menteri PU Langgar Aturan Menkeu?
-
Bersama Danantara, Pegadaian Akselerasi Ekosistem Bank Emas Menuju Kancah Internasional
-
Bulog Gerak Cepat Tindaklanjuti Masukan Masyarakat, Direktur Operasi Tinjau Gudang Karawang
-
UU P2SK Dinilai Mampu Perkuat Daya Saing dan Kedaulatan Industri Kripto Nasional
-
Investor Asing Masih Jual Saham Rp365 Miliar di Sesi I, Tapi BBCA Tetap Diserok
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
Usai IPO, Saham JELI Langsung ARA
-
BI Tak Agresif Stabilkan Rupiah, Cadangan Devisa Naik Hingga Akhir Juni Jadi Rp2.606 T