Suara.com - Meningkatnya kasus COVID-19 varian Omicron di masyarakat menjadi perhatian Satgas COVID-19. Lalu, apakah akan ada aturan baru yang dikeluarkan demi menekan penularan?
Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan pemerintah terus melakukan evaluasi berbagai data dan faktor terkait dengan strategi menghadapi COVID-19 termasuk varian Omicron.
"Pada saat ini kami di pemerintah selalu mengevaluasi tentang data-datanya terutama kalau kami dari satgas melihat gambarannya, seperti yang kami sampaikan di RSDC," ujar dia ketika menjawab pertanyaan Komisi IX DPR RI dalam rapat kerja di Jakarta.
Ia menjelaskan bahwa evaluasi dari data terkait Omicron memperlihatkan kasus positifnya relatif rendah dengan lebih banyak terjangkit varian lainnya yaitu Delta.
Selain itu, katanya, mayoritas dari yang terkonfirmasi Omicron tidak memiliki gejala atau bergejala ringan.
"Hal-hal seperti ini dan mungkin nanti dengan adanya berkembangnya data dari tren beberapa waktu terakhir, kaitannya di komunitas, maka tentunya nanti akan menjadi masukan untuk apakah kita akan melakukan intervensi lain dalam kebijakan," kata Wiku.
Dia memberi contoh, jika terjadi peningkatan kasus COVID-19 secara signifikan maka sebagian dari pasien akan melakukan isolasi mandiri seperti saat gelombang kenaikan kasus beberapa waktu lalu.
Ia mengatakan meski saat ini terjadi kenaikan kasus baru, untuk sementara waktu satgas belum mengubah kebijakan karantina.
"Karena kami ingin menjaga betul importasi kasus jangan sampai ada untuk mendongkrak kasus di komunitas, itu yang kita jaga," demikian Wiku.
Baca Juga: Satpol PP DKI Jakarta Bakal Disiagakan di Sekolah, Pantau Pelaksanaan PTM 100 Persen
Indonesia pada hari ini mengalami penambahan kasus baru COVID-19 sebanyak 1.362 orang, dengan kasus aktif atau pasien yang menjalani perawatan dan isolasi sebanyak 9.564 orang. Jumlah itu memperlihatkan kenaikan kasus aktif sebesar 789 orang dibandingkan Senin (17/1). [ANTARA]
Berita Terkait
-
Efek Domino Pandemi Bikin Harga Mobil Bekas Gagal Turun
-
Menkes Pastikan Risiko Ebola di Indonesia Rendah, Penularannya Tak Semudah Covid-19
-
IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Pakar Medis Belanda Menjamin Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Baru Seperti COVID-19
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?