Suara.com - Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2014, Institut Ungu mempersembahkan teater “Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer”, yang akan dipentaskan tanggal 7-8 Maret 2014di GoetheHaus, Menteng, Jakarta Pusat.
Naskah drama “Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer” ditulis oleh Faiza Mardzoeki yang sekaligus menyutradarai dan menjadi produser pertunjukan teater ini. Proses teater ini berawal dari penelitian yang dilakukan Faiza bersama timnya selama hampir dua tahun. Penelitian ini dilakukan antara lain dengan mewawancarai para perempuan penyintas tahanan politik ‘65 di Jogjakarta, Solo, Klaten, Sragen, Semarang, Jakarta, serta beberapa eksil Swedia dan Belanda, hingga mengunjungi lokasi yang dulu dipakai sebagai tempat isolasi para tahanan perempuan, Plantungan.
“Selain wawancara, tim membaca berbagai literatur sejarah dan diadakan pula diskusi dengan berbagai kalangan ahli sejarah ‘65. Penulisan naskah drama dengan latar sejarah ‘65 bukan perkara mudah. Apalagi Faiza dan timnya adalah generasi yang lahir tahun 70 an, yang bertahun-tahun mengalami langsung era ‘ketakutan’ akibat propaganda hitam tentang perempuan-perempuan tahanan politik ‘65 oleh Orde Baru. Apa yang dijumpai di lapangan saat melakukan riset adalah hal yang bertolak belakang dengan apa yang dijejalkan melalui kurikulum sekolah resmi,” demikian keterangan tertulis dari Institut Ungu.
Akhirnya naskah bisa diselesaikan di awal Januari 2013. Proses selanjutnya melakukan tahapan reading dan bongkar-pasang struktur cerita hingga menemukan titik yang paling dianggap tepat. Lalu melakukan audisi calon pemain dan memulai proses latihan dan diskusi bersama tim kreatif dan para aktor yang akan berperan, sejak Oktober 2013.
Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer mengangkat kisah pergulatan pikiran dan batin lima perempuan berumur 70an sampai 83 tahun yang dulu pernah menjadi tahanan politik ‘65 selama lebih dari sepuluh tahun.
Mereka bertahan menghadapi hari-hari di masa tuanya dan bergulat dengan kenangan kegembiraan dan kebanggaan akan masa mudanya. Dengan menggendong pengalaman pahit dan traumanya akibat kekerasan seksual, mereka menghadapi stigma yang ditempelkan padanya oleh kekuasaan.
Ini semua harus dihadapi oleh cucu salah seorang dari Eyang-eyang ini, baik sebagai tantangan pribadi dan keluarga maupun sebagai perempuan muda yang memikirkan realitas negerinya.
Masa lalu mereka merupakan bagian dari sejarah Indonesia yang ikut membentuk generasi sekarang, yaitu kita semua. Teater ini dibuat untuk memberi suara dan menolak lupa tentang para perempuan korban politik ‘65. Mereka, para penyintas itu adalah warga negara sah yang mempunyai hak sama dengan warga negara lainnya. Mereka bahkan telah turut serta membangun fondasi bagi berdirinya bangsa Indonesia, terutama bagi kemajuan perempuan.
Akan tetapi mereka telah diperlakukan tidak adil dalam berbagai bentuknya, antara lain dengan dipenjara bertahun-tahun tanpa pernah ada proses hukum, mengalami kekerasan seksual selama masa penahanan, diberi stigma dan fitnah seksual. Teater Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer didedikasikan kepada para perempuan yang pernah menjadi tahanan politik ‘65 dan korban kekerasan seksual di Indonesia dan di seluruh dunia.
Diperankan oleh enam pemain perempuan yang sudah berpengalaman di dunia panggung dari tiga kota, yakni Jakarta, Bandung dan Lampung. Mereka adalah Niniek L Karim, Pipien Putri, Irawita, Ani Surestu (Jakarta) Ruth Marini, aktor yang banyak ditempa di sebuah grup teater ternama di Lampung dan Heliana Sinaga, aktor teater asal Bandung.
Tim Kreatif terdiri dari Penata Musik dan Komposer Marcello Pellitteri, musisi yang berbasis di New York (pernah bekerjasama dalam produksi Institut Ungu 2011, Rumah Boneka), Penata Panggung dan Cahaya Iskandar Loedin, Penata Suara Mogan Pasaribu, Videografer Amerta Kusuma, Penata Kostum Irina Dayasih, Penata Rias Atta Cucok dan Asisten Sutradara Ayez Kassar serta Pelatih Akting Wawan Sofwan.
Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer mendapat dukungan dana dari Hivos dan Elemental Productions (Los Angles) dan donasi dari berbagai kalangan. Kegiatan ini juga didukung oleh berbagai organisasi masyarakat antara lain ELSAM, Perempuan Mahardhika, Indonesia untuk Kemanusiaan dan Bites.
Berita Terkait
-
Vonis Ditambah Tanpa Saksi Mata, Serikat Tapol Ajukan Amicus Curiae Bela Dua Aktivis Demo Agustus
-
Kesaksian Akbar Husein soal Tragedi Bawaslu 2019: Ditangkap, Disiksa, hingga Ada yang Meninggal
-
Eks Tapol Bongkar Ngerinya Siksaan 'Ular Listrik' Rezim Jokowi: Ada Ojol Disiksa Sampai Mata Copot
-
Akbar Husein Kenang Kerusuhan 21-22 Mei 2019 di Bawaslu: Ada Koordinasi Aktivis hingga Purnawirawan
-
Gerakan Muda Lawan Kriminalisasi Ungkap Rantai Kekerasan Jerat 709 Tahanan Politik Muda Indonesia
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
Pilihan
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
-
Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
Terkini
-
Prabowo: Perkuat Koperasi Bukan Berarti Anti Perusahaan Besar
-
Ibarat Sapu Lidi, Prabowo Sebut Koperasi Alat Orang Miskin Bersatu Jadi Kuat
-
Prabowo Blak-blakan: Semua Partai Banyak Patriot, Banyak Juga Bajingannya
-
Prabowo Ultimatum Koruptor: Sadar Diri, Hentikan, dan Kembalikan Uang Rakyat!
-
Meninggal karena Serangan Jantung, Temon Sempat Dilarikan ke RSUD Mampang
-
Mantan Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani Meninggal Dunia
-
Akrab di GBK, Intip Gestur Hormat Jaksa Agung-Panglima TNI dan Kapolri Sambut Prabowo
-
LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
-
Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Resmi Ditetapkan, Apa Maknanya?
-
BNI Dorong UMKM Batik Bertransaksi Digital melalui Promo di Puspa Nuswantara 2026