Suara.com - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengatakan, ada mantan menteri asal PKS yang menginginkan dirinya mundur dari jabatannya saat ini. Pasalnya jika dia tidak mundur maka yang bersangkutan akan terkena sasaran kasus hukum.
"Saya dengar isu, ada mantan menteri yang ditekan-tekan agar kalau saya tidak diturunkan maka yang bersangkutan akan kena sasaran karena pernah menjabat menjadi menteri dan ada kasusnya," kata Fahri di Gedung Nusantara III Komplek DPR, Selasa (12/1/2016).
Namun politisi PKS itu tidak mau menyebutkan siapa yang dimaksud. Ia hanya mengatakan masalah ini dibawa ke ranah Badan Penegak Dispilin Organisasi (BPDO) PKS. Fahri mengaku sudah memberikan klarifikasi kepada BPDO pada Senin (11/1/2016).
Dalam klarifikasi ke BPDO, Fahri menerangkan, posisinya sekarang adalah pilihan paketan koalisi di DPR yang merujuk pada Undang-undang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3). Dia pun hanya menjalankan mandatori dari undang-undang itu. Sehingga, tidak bisa asal mundur dari jabatannya.
"Saya sudah jelaskan, posisi saya sebagai pejabat publik," katanya sambil menerangkan dirinya pernah tidak hadir dalam panggilan BPDO pada 4 Januari karena berada di Kuala Lumpur, Malaysia.
Yang dipermasalahkan Fahri adalah isu ini dibuat secara sistematis yang seolah-olah dirinya diproses karena laporan kasus tidak disiplin. Isu ini pun sudah dia rasakan sejak Desember tahun lalu.
"Saya dianggap melawan partai? Ini ada orang yang merangkai-rangkai cerita, melakukan penggalangan opini. Tradisi PKS tidak begini. Kalau ada masalah diselesaikan di dalam, tidak menggunakan opini publik," katanya.
Dia mempertanyakan mengapa dirinya diperlakukan seperti itu, yaitu menjadikannya sebagai posisi tawar bagi mantan menteri itu untuk selamat dari jerat hukum.
"Saya bertanya mengapa dibeginikan, yang jelas di luar sana ada otoritasnya," katanya.
Berita Terkait
-
Fahri Hamzah Usul Peradilan Etik, Pejabat Bisa Langsung Dipecat Sebelum Terjerat Korupsi
-
Fahri Hamzah : Prabowo Fokus Putus Rantai Ketimpangan Kaya dan Miskin
-
Kiamat Rumah Tapak? Orang Indonesia di Masa Depan Harus Hidup Vertikal
-
Tepis Salah Paham Ekonomi Prabowo, Fahri Hamzah: SDA Harus Dikuasai Negara, Bukan Korporasi
-
Fahri Hamzah Merespons Pernyataan Saiful Mujani Soal 'Jatuhkan Prabowo'
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?
-
Filosofi Baru Oscar Bruzon Mulai Menggila, Pemain Bhayangkara FC Dipaksa Beradaptasi
-
Polda DIY Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Pembubaran Ibadah Gereja di Bantul
-
Puji Target Defisit Turun di RAPBN 2027, Habib Idrus Tetap Minta Keberpihakan pada Usaha Kecil
-
Ingin Setia: Debut Aziz Padurasta yang Meleburkan Reggae, Rock, dan Punk
-
Tren Botox Meningkat, Ini Pentingnya Memastikan Perawatan Dilakukan Sesuai Standar Medis
-
Sadar Kebijakan Tak Bisa Bahagiakan Semua Pihak, Rudy Susmanto Janji Terus Pembenahan di Bogor
-
Judi Online Kamboja Pakai Pulsa Buat Transaksi Rp890 M, 8 Markasnya Digerebek Bareskrim
-
Dasco Bicara Soal Rencana Dwikewarganegaraan Terbatas, Fasilitasi Diaspora Potensial