Suara.com - Direktur Eksekutif Perkumpulan Prakarsa Ah Maftuchan mengatakan bulan ini merupakan waktu yang tepat untuk merombak susunan Kabinet Kerja pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
"Bulan ini momen yang tepat untuk perombakan kabinet. Tak hanya itu, dirjen-dirjen dan deputi itu juga perlu dilakukan perombakan dan perubahan mendasar. Sebab banyak sekali dirjen di kementerian yang masih pelaksana tugas (plt), bahkan mereka tidak mengerti apa itu Nawa Cita," kata Maftuchan dalam diskusi bertajuk Gaduh Partai Jelang Reshuffle: Mau Kemana di Warung Kopi Deli, Jalan Sunda 7, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (17/4/2016).
Menurut dia saat ini birokrasi di kementerian dan lembaga negara masih memakai cara-cara lama dalam menjalankan fungsi. Bahkan, menurut dia, rata-rata lambat dalam menyelesaikan pekerjaan.
"Jadi sehebat apapun menteri, tapi birokrasinya tidak punya performa yang baik, tidak akan ada perubahan besar. Sementara Pemerintahan Jokowi sekarang butuh akselerasi dalam merealisasikan program kerja yang telah dijanjikan. Jadi tidak hanya perombakan kabinet, tapi juga perlu perombakan level dirjen. Harus kita ingat bahwa dirjen itu kewenangan Presiden, level direktur baru kewenangan menteri," kata Maftuchan.
Lembaga setingkat kementerian, katanya, juga perlu terobosan baru. Contohnya lembaga Badan Nasional Narkotika, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, dan Badan Ekonomi Kreatif.
"Kita ambil contoh seperti BNN, sebuah lembaga yang setingkat kementerian ini kalau tidak bagus akan mempengaruhi kinerja Presiden. Begitu pula dengan BNPT, Badan Ekonomi Kreatif dan lainnya," kata Maftuchan.
Maftuchan bercerita dia dan peneliti-peneliti lainnya pernah diundang Presiden Jokowi pada Desember 2015. Presiden mengajak peneliti berdiskusi mengenai kinerja pemerintahan.
Ketika itu, kata dia, Jokowi mengungkapkan yang membuat pusing sebenarnya bukan kegaduhan politik di DPR, tetapi malah pejabat di level eselon I.
"Ketika itu Pak Jokowi bilang yang bikin dia pusing bukan gaduh politik atau kritikan anggota DPR pada pemerintah. Namun yang paling berat menurut beliau adalah mengurus birokrasi yang penyakitnya akut. Yaitu pejabat level dirjen, deputi di kementerian," kata dia.
"Saya menganalogikan birokrasi itu ibarat orang yang mengidap obesitas. Saking gemuknya dia tidak bisa mengurus dirinya sendiri," Maftuchan menambahkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
- 5 HP Infinix Termurah dengan Fitur NFC yang Canggih, Mulai Rp1 Jutaan
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Pesan Menohok Foke soal Beasiswa LPDP: Anak Betawi Nilainya Harus 11 untuk Bisa Jadi Tuan di Jakarta
-
Ratusan Dapur MBG Di-Suspend! BGN Temukan Masalah Serius dari Menu hingga Higiene
-
Lebaran Betawi 2026 Meriah di Lapangan Banteng, Pramono: Ini Identitas Asli Jakarta
-
Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus, Komnas HAM Tunggu Izin Panglima TNI Periksa 4 Prajurit
-
Fakta Baru OTT di Tulungagung: Adik Bupati Juga Ikut Diamankan KPK
-
Proyek Dikebut! Stasiun JIS Siap Beroperasi Juni 2026, Warga Bisa Naik KRL Langsung ke Stadion
-
Terungkap! OTT KPK di Tulungagung Diduga Terkait Skema Pemerasan
-
OTT KPK Tulungagung: 13 Orang Dibawa ke Jakarta, Bupati Ikut Diperiksa
-
Bupati Tulungagung Kena OTT KPK, Uang Ratusan Juta Ikut Disita
-
Kasus Pegawai KPK Gadungan Peras Sahroni, Ketua KPK Minta Tunggu Hasil Pemeriksaan Polisi