News / Metropolitan
Kamis, 21 April 2016 | 19:37 WIB
Nelayan dari Komunitas Nelayan Tradisional (KNT) Muara Angke membawa hasil laut dari sekitar pulau reklamasi untuk diserahkan ke Balai Kota DKI, di Gedung YLBHI, Jakarta, Selasa (19/4/2016). [Suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Suara.com - Pemerintah pusat saat ini telah menghentikan proyek reklamasi Teluk Jakarta untuk sementara. Namun, meski aktivitas reklamasi sudah terhenti, para nelayan mengaku masih kesulitan mendapatkan ikan.

"Saat reklamasi dihentikan kemarin ikan pada minggir," kata Teddy Kusnadi, salah satu nelayan yang ditemui Suara.com di kawasan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta, Kamis (21/4/2016)

Menurutnya, saat ini jarak tempuh para nelayan untuk mencari ikan juga cukup jauh, lantaran akses ke laut terhadang oleh Pulau G, pulau buatan yang digarap oleh PT Muara Wisesa Samudera. Hal itu pulalah yang membuat nelayan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengisi bahan bakar lebih.

"Untuk ke laut ada batas waktunya, ketika ada gelombang angin besar harus kembali," kata dia.

Sebelumnya, ribuan nelayan telah menggelar aksi penolakan terhadap proyek reklamasi Teluk Jakarta, pada Minggu (17/4/2016). Dalam aksi tersebut, para nelayan menyegel Pulau G. Aksi penyegelan tersebut sebagai bentuk penolakan terhadap pembangunan 17 pulau buatan di pesisir Jakarta yang dilakukan Pemprov DKI bersama pengembang. Pemerintah juga telah sepakat memoratorium proyek reklamasi hingga semua persyaratan pembangunan dipenuhi.

Load More