News / Internasional
Senin, 06 Juni 2016 | 06:15 WIB
Teror ISIS via media internet. (shutterstock)

Suara.com - ISIS kembali melakukan eksekusi mati terhadap beberapa orang. Kali ini, yang mereka eksekusi bukanlah tawanan melainkan anggotanya sendiri lantaran disinyalir menjadi mata-mata.

Aksi eksekusi terhadap anggota sendiri ini kian intens setelah sejumlah petinggi ISIS tewas terbunuh dalam serangan udara pasukan koalisi Barat. Sejumlah anggota yang diyakini sebagai pembocor rahasia keberadaan para petinggi yang jadi korban pun kena getahnya.

Dalam beberapa pekan terakhir, ISIS sudah mengeksekusi banyak orang. Lansiran Metro, sebanyak 38 orang diantaranya dieksekusi lantaran diduga berperan sebagai informan bagi musuh setelah salah satu petinggi mereka, Abu Hayjaa al-Tunsi dari Tunisia, diledakkan mobilnya.

Akibatnya, beberapa anggota ISIS dipenjara, sementara sebagian lainnya kabur. Mereka khawatir akan ikut-ikutan dituduh menjadi mata-mata.

Informasi ini dibenarkan oleh para aktivis oposisi Suriah, komandan milisi pasukan Kurdi, sejumlah pejabat intelijen Irak, dan seorang informan pemerintah Irak yang menyusup ke dalam kelompok ISIS.

ISIS sengaja mempertontonkan jenazah-jenazah orang yang diduga sebagai mata-mata di hadapan publik. Hal itu dilakukan sebagai peringatan.

Ketua Badan Pemantau Hak Asasi Manusia Rami Abdurrahman, mengatakan bahwa sejumlah petempur mulai membocorkan informasi rahasia soal keberadaan para target karena diiming-imingi uang. Kabarnya, ISIS mengalami masalah pendanaan sejak tak lagi menguasai sejumlah rute suplai perdagangan minyaknya ke Turki. Oleh karena itu, mereka terpaksa menurunkan besaran gaji anggotanya.

"Mereka mengeksekusi puluhan petempur sebagai hukuman karena membocorkan informasi kepada pasukan koalisi atau memasang GPS atau alat pelacak agar pesawat musuh bisa melancarkan serangan di lokasi tertentu," kata Abdurrahman.

Namun, ISIS juga mempunyai metode tersendiri untuk mengantisipasi aksi para mata-mata. Salah satunya adalah dengan memberikan informasi palsu, misalnya soal keberadaan pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi, kepada anggota yang dicurigai sebagai pembocor rahasia. Apabila serangan udara menghantam lokasi palsu yang mereka berikan, maka kemungkinan besar si anggota adalah mata-mata. (Metro)

Tag

Load More