Suara.com - Peneliti Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia Sri Budi Eko Wardani menilai konsolidasi yang dilakukan Presiden Joko Widodo dalam sebulan terakhir sebagai wujud antisipasi atas isu makar yang berkembang menjelang demonstrasi 2 Desember di Ibu Kota Jakarta. Jokowi konsolidasi dengan para pemuka agama, militer, sebagian ketua partai, dan dunia usaha.
"Sebetulnya itu wujud antisipasi terhadap rumor yang ada, apakah demo makar atau kudeta atau sebetulnya ada hal lain, yang dianggap dapat mengganggu stabilitas politik dan keamanan," kata Sri kepada Suara.com, Minggu (27/11/2016).
Sri menilai langkah Kepala Negara dalam merespon rumor tersebut tergolong cepat agar tidak terus menerus berkembang.
"Presiden menahan supaya (rumor) tidak meluas, karena itu pendekatan elite yang dipakai, pendekatan terhadap simpul-simpul elite yang terkait langsung atau tidak langsung dengan katakanlah ormas atau tokoh yang ingin lakukan rencana demonstrasi 2 Desember itu," kata Sri.
Pendekatan yang dilakukan dapat dikatakan efektif untuk upaya pencegahan. Contohnya setelah pemerintah melakukan pertemuan dengan tokoh Majelis Ulama Indonesia, tak lama kemudian MUI mengimbau masyarakat untuk jangan demonstrasi. MUI menegaskan bahwa tak mempunyai keterkaitan dengan rencana demonstrasi 2 Desember, meski organisasi yang menggalang demonstrasi tersebut memakai embel-embel MUI.
"Kan MUI dipegang duluan. Lalu MUI katakan tidak perlu lagi ada demonstrasi. Dengan demikian kan menjadi tidak relevan lagi dengan penyebutan pengawal fatwa MUI itu," kata dia.
Sri mengatakan konsolidasi yang dilakukan Presiden Jokowi selama ini untuk menunjukkan bahwa isu yang diangkat dalam demonstrasi nanti sudah tidak relevan.
"Kalaupun itu demo tetap terjadi. Artinya secara opini publik, ini kegiatan sebagai bentuk partisipasi, silakan. Tapi secara muatan politik sudah sangat rendah. Saya pikir yang mau dituju supaya yang berkembang demo itu tidak relevan," kata Sri.
Sri menambahkan entah rencana makar atau kudeta itu benar atau tidak, safari politik yang dilakukan Presiden selama ini sekaligus ingin menunjukkan kekuatan pemerintah.
"Tunjukkan bahwa saya masih ada, masih kerja," kata dia.
Lebih jauh, Sri mengatakan isu makar atau kudeta yang dikait-kaitkan dengan demonstrasi 2 Desember berbeda dengan peristiwa 1998-1999.
"Kalau bicara sekarang dengan 98 dan 99, sekarang kan relatif tidak jadi isu nasional. Kan indonesia tidak hanya jakarta, walau Jakarta menjadi center politik. Konteks politik, ekonomi beda, terutama ekonomi. Kalau 98 kan kondisi politik diperburuk dengan ekonomi. Soeharto tidak bisa atasi, lagu legitimasi politik menjadi hancur," kata dia.
Sri menilai isu makar yang muncul jelang 2 Desember bisa dilihat dari berbagai macam perspektif.
Berita Terkait
-
Soroti Era SBY dan Jokowi, Purbaya Sebut Mesin Ekonomi Indonesia Pincang Selama 20 Tahun
-
Bahlil Bongkar Perintah Jokowi 4 Hari Setelah Dilantik: Larang Ekspor Bijih Nikel Tanpa Rapat
-
Jokowi Dinobatkan sebagai Sesepuh oleh 9 Raja Timor
-
Tak Hanya Politis, Ini Alasan di Balik Kunjungan Jokowi ke Bumi NTT
-
Jokowi Kunjungi NTT Besok, PSI Singgung Soal Legacy Indonesia Sentris
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang
-
Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun
-
Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel
-
Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
-
Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?
-
Filosofi Baru Oscar Bruzon Mulai Menggila, Pemain Bhayangkara FC Dipaksa Beradaptasi
-
Polda DIY Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Pembubaran Ibadah Gereja di Bantul
-
Puji Target Defisit Turun di RAPBN 2027, Habib Idrus Tetap Minta Keberpihakan pada Usaha Kecil