Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Ferry Juliantono, menilai pemerintah belakangan ini tampak mulai panik. Hal itu dikatakannya bisa ditilik dari banyaknya kebijakan pemerintah yang berlebihan belakangan ini dirilis terkait isu penanganan isu hoax ini dikhawatirkan akan berimbas pada meredamnya daya kritis masyarakat.
“Pemerintah belakangan ini memang panik dengan merilis banyak kebijakan soal penanganan hoax ini bisa meredam daya kritis masyarakat. Misalnya, tuduhan makar ke Rachmawati dan kawan-kawan itu merupakan bagian yang hampir sama untuk pembungkaman lewat medsos, ini sudah merampas hak mengkritisi kepada pemerintah,” tutur Ferry di Jakarta, Jumat (20/1/2017).
Menurutnya, hak pernyataan masyarakat lewat media sosial itu dianggap sebagai bentuk alternatif media perlawanan. Ia bersikeras untuk melawan kebebasan berpendapat. Sebab, masyarakat banyak yang beranggapan kalau media mainstreame itu rentan dikuasai dan dimonopoli pemerintah.
“Media sosial itu media alternatif perlawanan efektif. Banyak media mainstream saat ini telah dikuasai pemerintah,” katanya.
Ia menuturkan persoalan hoax sebenarnya bisa segera langsung tertangani tanpa membuat pembungkaman berlebihan. Semisal sumbernya bisa langsung dilacak baik dari penyebar hoax maupun pemilik akun yang bersangkutan.
“Hoax itu sebenarnya persoalannya bisa langsung tertangani. Sumbernya juga bisa di trace baik dari penyebar maupun pemilik akun terkait,” ujar Ferry.
Politisi Partai Gerindra ini menyatakan pemerintah terkesan cenderung ada yang sedang disenyembunyikan. Seharunya pemerintah mampu optimalkan instrumen yag ada. Padahal ada instrumen yang dimiliki pemerintah sebenarnya cukup untuk menangkal hoax, seperti adanyaada intelejen, media, data statistik, dan sebagainya.
“Kebenaran dari sebuah pembenaran kalau dimonopoli oleh pemerintah itu memang pemerintah cenderung ada yang sedang disembunyikan atau ada suatu kesalahan. Tapi kemudian disalahkan semua. Sikap kritis kita harus didorong,” pungkasnya.
Lanjut, ia juga mengisahkan bahwa terpilihnya presiden saat itu karena peran besar media sosial yang terbukti efektif. Termasuk keberhasilan penggalangan gerakan, seperti gerakan 212 yang dianggap titik lemah yang kemudian pemerintah mengintervensinya. Dan, hoax cenderung digerakin oleh buzzer yangg diinstruksikan oleh orang yang mempunyai kekuatan dan kepentingan politik.
“Presiden terpilih juga karena peran Socmed dan ternyata efektif. Kemunculan gerakan 212 seperti dinilai pemerintah sebagai titik lemah yang kemudian mengintervensinya. Penggerak hoax banyak yang dilakukan buzzer bayaran dari orang yang punya kekuatan dan kepentingan politik tertentu,” paparnya.
Juru Bicara Presiden, Johan Budi, meminta masyarakat untuk membedakan antara kritik dan fitnah. Presiden dikatakannya sangat terbuka untuk kritik, asalkan bukan fitnah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Promo Indomaret Terbaru 4 Agustus 2026: Susu Formula, Popok, hingga Skincare Diskon Besar
-
MMKSI Optimistis Penjualan Mitsubishi XForce Capai Target di GIIAS 2026
-
Ironi Perayaan Kemerdekaan: Pejabat Pakai Anggaran, Warga Bayar Patungan
-
Makin Runyam, Donald Trump Kembali Klaim Ambil Alih Hak Tarif Pelayaran Selat Hormuz
-
Pembangunan IKN Dipersoalkan, Suku Balik Sepaku Minta Hak Adat Dilindungi
-
Lirik Lagu Honk! no na dan Maknanya yang Viral, Bawa Budaya Lokal ke Kancah Global
-
4 Parfum Aroma Nanas yang Menyegarkan, Cocok Dipakai Saat Cuaca Panas!
-
IHSG Bertahan di Level 6.200, MDKA Melonjak
-
Gajah Jovi Mati setelah Sebulan Dirawat Intensif di PLG Minas
-
Salah Kaprah Soal Independent Woman: Kemandirian yang Terjebak Bias Kelas