Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI mendukung pembentukan Lembaga Pemantapan Pancasila yang diinisiasi oleh Pemerintah. Lembaga ini dinilai perlu untuk menjaga ideologi negara yang harus menjadi falsafah hidup bangsa.
"Melihat perkembangan keadaan sekarang ini perlu menyampaikan kembali nilai-nilai leluhur keindonesiaan kita. Kemudian. Sebagaimana sudah ada Perpres-nya mengenai pembentukan Lembaga Pemantapan Pancasila, kami apresiasi karena ini usulan rapat konsultasi MPR dua tahun lalu, dan Presiden sudah menindaklanjuti," kata Ketua MPR Zulkifli Hasan dalam konfrensi pers usai rapat konsultasi di kantor Presiden, Jakarta, Selasa (24/1/2017).
Dia menuturkan, lembaga pemantapan pancasila ini perlu seperti di era Orde Baru juga ada yaitu Manggala BP7 yang berisi tentang pendidikan kewarganegaraan, pendidikan pancasila, penasaran dan sebagainya. Saat ini dianggap juga diperlukan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.
"Oleh karena itu kami mendukung, agar lembaga pemantapan Pancasila ini nanti bisa bekerjasama dengan MPR," ujar dia.
Zulkifli menambahkan, dalam rapat konsultasi dengan Presiden Jokowi tersebut juga disampaikan bahwa 1 Juni telah ditetapkan menjadi hari nasional. Maka dari itu peringatan 1 Juni sebagai hari Pancasila tidak lagi oleh MPR, namun pemerintah.
"Namun Bapak Presiden mengatakan, kalau bisa tetap saja MPR bekerjasama dengan pemerintah untuk melaksanakan peringatan setiap 1 Juni. Kemudian sidang tahunan MPR, DPR dan DPD setiap 16 Agustus kami minta agar Presiden hadir. Beliau mengatakan insyaallah hadir," tutur dia.
Selain itu, rapat juga mengusulkan pada 18 Agustus sebagai hari konstitusi yang dilaksanakan oleh MPR. Alasannya, Presiden RI pertama kali dilantik pada 18 Agustus.
"Oleh karena itu 18 Agustus sebagai hari konstitusi kami minta Presiden hadir, dan beliau bersedia," kata dia.
Baca Juga: Jokowi Rapat dengan Pimpinan MPR
Pertemuan ini dihadiri oleh semua pimpinan MPR. Diantaranya adalah Ketua MPR Zulkifli Hasan, dan beberapa Wakil Ketua MPR lainnya, yakni Oesman Sapta Odang, Hidayat Nur Wahid, Mahyudin, dan EE Mangindaan. Sedangkan Jokowi sendiri di dampingi oleh Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pilihan HP RAM 16 GB Paling Murah, Penyimpanan Besar dan Performa Kencang
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Prabowo Bakal Copot Lagi Pejabat 'Telur Busuk', Hashim Djojohadikusumo: Semua Opsi di Atas Meja
- 35 Link Poster Ramadhan 2026 Simpel dan Menarik, Gratis Download!
- Kronologi Penembakan Pesawat Smart Air di Papua: Pilot dan Kopilot Gugur Usai Mendarat
Pilihan
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
-
Lagu "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" Milik Gandhi Sehat Ditarik dari Peredaran, Ada Apa?
-
Geger Taqy Malik Dituding Mark-up Harga Wakaf Alquran, Keuntungan Capai Miliaran
Terkini
-
Sarmuji Luruskan Fatsun Politik Fraksi Golkar: Bukan Larang Kritik Prabowo-Gibran, Tapi Ada Etikanya
-
Respons Keluhan Warga, Kemensos Libatkan YLKI Awasi Penonaktifan BPJS PBI
-
Niat Gasak HP ASN di Tengah Gemerlap Imlek di Bundaran HI, Pria Paruh Baya Diciduk
-
Geledah Rumah di Ciputat, KPK Sita Lima Koper Berisi Uang Rp5 Miliar Terkait Kasus Bea Cukai
-
Ancaman Bagi Koruptor! Gibran Ingin Aset Hasil Judol Hingga Korupsi Disita, Apa Kata Pukat UGM?
-
Penumpang LRT Jabodebek Usul Penambahan Gerbong Khusus Wanita Guna Cegah Pelecehan
-
Hasto PDIP Tegaskan Bencana Adalah Teguran atas Kebijakan Masa Lalu, Harus Evaluasi Total!
-
Teror Cairan Kimia di Cempaka Putih: Saat Pelajar Jadi Korban Serangan Acak Teman Sebayanya
-
Isak Tangis di Pusara Kopilot Smart Air: Keluarga Pertanyakan Keamanan Bandara Usai Penembakan KKB
-
KPK Minta Saksi Lapor ke Dewas Terkait Dugaan Penyidik Minta Uang Rp10 Miliar