Ketua DPR RI Setya Novanto usai menjalani pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta, Selasa (13/12). [suara.com/Oke Atmaja]
Direktur PT Avidisc Crestec Interindo Wirawan Tanzil mengatakan PT Murakabi Sejahtera yang ikut menggarap proyek kartu tanda penduduk berbasis elektronik memiliki hubungan dengan Ketua DPR Setya Novanto. Hal itu disampaikan Tanzil saat bersaksi dalam sidang lanjutan terdakwa Irman dan Sugiharto di gedung Pengadilan, Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (27/4/2017).
"Disebutkan bahwa Murakabi punya hubungan dengan Setya Novanto," kata Tanzil.
Kata Tanzil, informasi yang diterimanya tersebut berasal dari Direktur PT Java Trade Utama, Johanes Richard Tanjaya. Mendengar nama Setya Novanto, Tanzil pun tidak mau bergabung dengan konsorsium Murakabi yang diduga milik Setya Novanto tersebut.
"Saya tahu dari Johanes Tan. Dan saya bilang, wah nggak ikut-ikutan deh," kata Tanzil.
Padahal kata Tanzil sebelum itu dia diajak untuk bergabung ke Murakabi Sejahtera. Dia mencium ada ketidakberesan dalam pengelompokan konsorsium sehingga menjadi hanya tiga, yakni Perum PNRI, Astra Graphia, dan Murakabi Sejahtera.
"Prinsip saya nggak mau, saya lihat apa yang mau dilakukan resiko sangat tinggi kegagalan," katanya.
Ternyata setelah ditanya Jaksa, alasan Tanzil tidak mau beegabung ke Murakabi, karena sudah mengetahui kalau perusahaan yang memback up Perum PNRI dalam proyek e-KTP tersebut adalah milik Setya Novanto.
"Apakah karena Murakabi milik salah satu petinggi di DPR?," kata Jaksa saat menanyakan Tanzil.
"Ya isunya gitu juga," kata Tanzil menjawab jaksa.
Dalam surat dakwaan Irman dan Sugiharto, jaksa mengatakan bahwa konsorsium Murakabi Sejahtera ikut dalam lelang bersama konsorsium PNRI dan Konsorsium Astra Graphia. Keduanya diduga berada dibawah kendali Andi Agustinus atau Andi Narogong dan sengaja dibentuk untuk mempermudah kemenangan konsorsium PNRI.
Belakangan diketahui, Direktur PT Murakabi Sejahtera adalah Irvan Hendra Pambudi Cahyo. Irvan sendiri adalah keponakan Setya Novanto.
Namun, saat ditanya kepada Setya Novanto, dia mengaku keponakannya tersebut memiliki perusahaan yang bergerak di bidang jual beli kendaraan. Karena itu, Novanto mengaku tidak tahu apakah keponakannya tsrsebut terljbat dalam kasus e-KTP.
"Tidak tahu saya," jawab Novanto saat ditanya jaksa terkait keterkaitan Irvan dalam kasus e-KTP.
Komentar
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
Pilihan
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
Terkini
-
Thaksin Shinawatra Hirup Udara Bebas, Politik Thailand Kembali Memanas
-
Nadiem Makarim Akui Sempat Pendarahan hingga Dirawat di RS
-
Hadiri Sidang Nadiem Makarim, Rocky Gerung: Jaksa Pintar, Tapi Kelelahan
-
Wamensos Dorong Bandar Lampung Bentuk Kampung Siaga Bencana dan Perkuat DTSEN
-
Donald Trump: Saya Tidak Suka Surat dari Iran!
-
Purnawirawan Jenderal Semprot Dandim Ternate: Pembubaran Nobar 'Pesta Babi' Langgar Konstitusi!
-
Iran Bersumpah Tidak Akan Tunduk pada Tekanan Amerika Serikat, Harga Minyak Makin Runyam
-
Buntut Potongan Video JK, Jubir Ormas Islam Sebut Ada Unsur Pidana dan Niat Jahat Ade Armando dkk
-
Cuma Rp50 Ribu Per Hari, Polisi Ungkap Rahasia di Balik Penitipan Bayi Ilegal di Sleman
-
Minta Polri-PPATK Bongkar Sosok Pemodal Judol di Jakbar, Sahroni: Tak Mungkin 321 WNA Gerak Sendiri!