Suara.com - Presiden Filipina Rodrigro Duterte pada Jumat mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah mengunjungi Amerika Serikat, yang dia sebut sebagai negara "jelek." Duterte melontarkan pernyataan itu untuk merespon sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat yang akan menentang kunjungan presiden Filipina tersebut ke Gedung Putih.
Sebelumnya, anggota Kongres dari negara bagian Massachusetts, James McGovern, mengatakan dalam rapat dengar pendapat Komisi Hak Asasi Manusia bahwa dirinya akan menentang kunjungan itu jika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengundang pemimpin Filipina ke Gedung Putih.
Komisi yang terdiri dari sejumlah anggota majelis rendah Amerika Serikat itu bertemu pada Kamis di Washington untuk membahas kebijakan anti-narkoba berdarah Duterte yang telah menewaskan ribuan warga Filipina.
Sejumlah kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa sebagian besar kematian itu disebabkan oleh eksekusi oleh pihak kepolisian. Tudingan tersebut kemudian dibantah oleh pemerintah.
"Saya tidak punya waktu untuk mengunjungi Amerika Serikat selama menjadi presiden, ataupun setelahnya," kata Duterte, yang tidak pernah menyembunyikan kekesalannya kepada Amerika Serikat, meski Washington adalah sekutu lama negaranya.
"Jadi, apa yang membuat orang itu berpikir bahwa saya akan terbang ke Amerika?" kata dia kepada sejumlah wartawan, merujuk pada pernyataan McGovern.
"Saya sudah melihat Amerika dan ternyata jelek. Seharusnya Kongres Amerika Serikat memulai sendiri investigasi untuk pelanggaran hak asasi manusia di mana banyak orang tewas oleh persekusi di Timur Tengah," kata dia.
"Jika tidak, saya terpaksa harus menginvestigasi Anda (Amerika Serikat). Saya akan memulai dengan dosa-dosa lama Anda," kata Duterte.
Trump mendapat kritik tajam di Washington saat dia mengundang Duterte ke Gedung Putih saat kedua pemimpin itu berbicara melalui hubungan telepon pada April lalu. Dia tidak mengungkapkan kapn undangan resmi akan dikirim.
Sementara itu juru bicara Duterte mengatakan bahwa Trump memuji kinerja pemimpin Filipina. Sebuah bocoran transkrip yang diperoleh The New York Times menunjukkan bahwa Trump sempat mengatakan bahwa Duterte "melakukan pekerjaan luar biasa terkait persoalan narkoba."[Antara]
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
Pilihan
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
Terkini
-
Cak Imin Pastikan Bantuan BPJS Tepat Sasaran, Masyarakat Miskin Tetap Bisa Berobat
-
Komisi XII DPR Minta ESDM Hitung Akurat Kebutuhan Energi Ramadan-Lebaran: Jangan Ada Kurang Pasokan
-
Seorang Pemotor Tewas Usai Tertemper Kereta Bandara di Perlintasan Kalideres Jakbar
-
Komisi III DPR Beri Deadline 1 Bulan ke Kapolri, Ambil Alih dan Sikat Habis Oknum Polisi Bermasalah!
-
Sekretaris Eks Mendikbudristek Sebut Nadiem Makarim Larang Rekam Semua Rapat Daring
-
Saksi Sebut Nadiem Makarim Transfer ke 5 Stafsus Pakai Uang Pribadi
-
Bikin Publik Kecewa, Dasco Langsung Minta Pemerintah 'Rem' Rencana Impor 105 Ribu Mobil dari India!
-
Dedi Mulyadi Jemput 13 Korban LC di NTT, Pastikan Proses Hukum Tetap Berlanjut!
-
Soal Alumni LPDP Ogah Anaknya Jadi WNI, Ketua Komisi X: Alarm Sosial dan Ujian Komitmen Kebangsaan
-
Menteri PPPA Minta Hukum Transparan Bagi Oknum Brimob Penganiaya Anak di Tual