News / Internasional
Selasa, 19 Desember 2017 | 14:04 WIB
Tentara Israel sedang latihan perang kota di Tzeelim. Foto diambil 31 Maret 2011. [shutterstock]

"Israel adalah negaraku, dan tugasku menjaga perbatasan. Ketika aku memberitahukan keluargaku mengenai hal ini, mereka mendukung," tuturnya.

Saluta mengakui, ketika kali pertama menyatakan mau bergabung dengan IDF, ia dijauhi oleh rekan-rekan sejawatnya.

"Tapi, setelah aku menyebarkan pengalamanku selama menjadi anggota IDF, banyak Arab Muslim sebayaku mengikuti keputusanku melayani militer negara," tutur Saluta yang baru berusia 20 tahun ini.

Sejak Israel Berdiri

Sementara hasil riset Pusat Penelitian Politik dan Strategi "Javi: Universitas Barailan, Tel Aviv, tahun 2012 menyebut Arab Muslim sudah banyak bergabung dengan IDF sejak Israel didirikan pada tahun 1948.

Seorang Arab Muslim anggota IDF yang dianggap legendaris adalah Jenderal Yusuf Tarumbaldur. Ia menjadi ikon Arab Muslim yang rela berkorban demi Israel.

Riset itu menunjukkan pertumbuhan umat Muslim yang menjadi warga negara Israel mengalami kenaikan sejak tahun 1948 hingga 1956. Jumlah itu semakin meningkat sejak era 1970-an hingga puncak kenaikannya pada tahun 2008. Sejak saat itu, persentase umat Muslim di Israel mencapai 19 persen dari total penduduk.

Warga Arab Muslim yang mayoritas berdomisili di Galil dan Mutsalas dilindungi oleh pemerintah. Identitas kebangsaan mereka dijamin, begitu pula pendidikannya.

Baca Juga: Lab Sabu MG Club Sudah 2 Tahun, Polisi Bilang Bukan Kecolongan

Berdasarkan data itu, riset Javi menyebut anggota IDF dari kalangan Arab Muslim mencapai 12 ribu orang. Sementara 1.120 orang di antaranya berasal dari Mesir.

Asimilasi

Kolonel Wagdi Sarhan, kepala unit Arab Muslim IDF, dinasnya menargetkan merekrut lebih banyak lagi anggota untuk beberapa tahun ke depan.

Menurutnya, rekrutmen Arab Muslim ke IDF tersebut merupakan salah satu cara terbaik untuk mengasimilasi mereka ke dalam masyarakat umum Israel.

"Militer sangat mampu memperkuat keterkaitan populasi Arab dengan tatanan sosial Israel yang demokratis. Kami paham, melayani militer akan memudahkan kami terkoneksi dengan Israel," tuturnya.

Ia mengatakan, tak ada diskriminasi yang terjadi dalam dinas kemiliteran yang diikuti oleh warga Arab Muslim.

"Ketika diambil sumpah militer, kami menyatakan sumpah setia kepada negara dengan Al Quran di atas kepala kami," tukasnya.

Seorang Arab Muslim yang menjadi anggota IDF, Sersan Saleh Halil, menuturkan hal yang sama. Ia mengklaim tak ada perbedaan berbasis SARA dalam IDF.

Ia lantas menceritakan pengalamannya saat diterjunkan IDF ke daerah Palestina.

"Setelah menyelesaikan latihan, aku ditugaskan di Jenin, dekat daerah Palestina di Tepi Barat. Kau bisa membayangkan, bagaimana kagetnya mereka (warga Palestina) saat aku berbicara bahasa Arab," tereangnya.

Ditentang Politikus

Meski tak mendapat diskriminasi, rekrutmen Arab Muslim menjadi anggota IDF ditentang oleh banyak politikus di parlemen Israel.

Yousef Jabareen, anggota parlemen Israel dari kalangan Arab Muslim, menilai komunitasnya seharusnya tak bergabung melayani militer.

"Politikus maupun tokoh komunitas Arab Muslim Israel menolak keras rekrutmen tersebut. Kita tidak bisa menjadi bagian rezim yang menindas rakyat sendiri," tuturnya.

Ia mengatakan, IDF selama ini tidak hanya melakukan penjajahan di tanah Palestina, tapi juga melakukan indoktrinasi terhadap pemuda-pemuda Arab Muslim Israel.

"Ketika seorang dari kami bergabung dengan IDF, maka dia dipastikan diindoktrinasi prinsip-prinsip Zionisme. Itu sudah pasti," tandasnya.

Load More