Suara.com - Sejak 21 Mei 2018 pengungsi erupsi Merapi di desa Glagaharjo mengalami sakit terutama pengungsi lansia (lanjut usia) banyak yang menderita hipertensi.
Hal tersebut didapat setelah adanya pengecekan kesehatan dari tim medis penaggulangan bencana di desa Glagaharjo pada Sabtu, (26/5/2018).
Menurut Kalis Via Nurul selaku bidan Puskesmas Cangkringan yang menangani kontroling terhadap pengungsi lansia, hipertensi terjadi karena pengungsi banyak pikiran seperti ingin segera kembali ke rumah, memikirkan hasil bumi sampai peternakan mereka. Selain itu, lanjut dia, banyak lansia mengeluh pegal dan kecapekan.
“Hipertensi karena mikirin rumah mereka, saya punya data awalnya normal, namun tensinya makin naik, mungkin kaget, jantungnya berdebar-debar, pusing itu kan baru saja terjadi,” kata Via saat ditemui di Pengungsian.
Ia menjelaskan tekanan darah para lansja bisa mencapai 200-220. Kondisi ini berbeda jauh saat mereka tidak tinggal di tempat pengungsian.
Menurut Via, data yang ia punya saat berada di posyandu, tekanan darah para lansia hanya mencapai 120-150, tidak lebih dari itu.
“Tensinya naik dari biasanya, di posyandu 120-150 sekarang malah jadi 200-220, hampir semua hipertensi,” ujarnya.
Selain hipertensi, gejala sakit yang dialami lansia dan pengungsi lainnya mulai nampak, seperti pegel, pusing, bantu-pilek dan flu. Hal ini perlu segera ditangani agar tidak terjadi gejala yang meluas. Ia dan timnya berusaha keras untuk menjaga kesehatan para pengungsi yang masih berada di balai desa Glagaharjo.
“Gejala sakit lainnya berupa pegel, pusing, batuk pilek flu rata-rata seperti itu,” kata Via
Ia bahkan menjelaskan sakit tidak hanya dirasakan oleh para lansia. Para pegawai dan relawan yang harus menjaga pengungsi selama 24 jam-pun mulai mengeluh mengalami gejala sakit, meskipun tidak terlalu berat sakit yang diderita.
Bagi Via semua akan mendapatkan pengobatan yang sama, sebab misi kemanusiaanya di tim kesehatan perlakuan sama menjadi kunci pengobatan untuk masyarakat.
“Tidak hanya lansia, para pegawai sini juga sudah mengeluh karena harus stanby 24 jam, begadang. Relawannya ada juga. Kami dari puskesmas ingin meng-cover semua. Semua kita akan periksa,” ujarnya. (Somad)
Berita Terkait
Terpopuler
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Rekam Jejak Muhammad Suryo: Pebisnis dari Nol hingga Jadi Bos Rokok HS
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
Pilihan
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
Terkini
-
Ray Rangkuti Khawatir Kemunculan Sjafrie Sjamsoeddin di Bursa Pilpres Mirip SBY 2004
-
AHY Ungkap Pesan Khusus SBY ke Prabowo saat Pertemuan 3,5 Jam di Istana
-
Operation Epic Fury, AS Kerahkan 50 Ribu Tentara dan 200 Jet Tempur Gempur Iran dari 2 Kapal Induk
-
Kapal Selam AS Tenggelamkan Kapal Perang Iran di Samudera Hindia
-
Militer AS Klaim Tewaskan Pejabat Iran yang Diduga Terlibat dalam Rencana Pembunuhan Donald Trump
-
Bantuan untuk eks Pengguna Narkoba dan ODHIV Cair, Kemensos Ubah Skema Jadi Uang Tunai Segini!
-
Setelah Bangkai Anjing, Kini Giliran Alat Berat! Misteri Teror Beruntun Tim Relawan di Aceh Tamiang
-
Kementerian HAM Kenalkan Program Kampung Redam dan Desa Sadar HAM di Lombok Barat
-
Menlu Sugiono Kirim Surat Belasungkawa Wafatnya Ali Khamenei ke Dubes Iran, Ini Alasannya
-
Detik-detik Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Kena OTT KPK Saat Ngecas Mobil Listrik di SPKLU