Suara.com - Pemilik Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani menjelaskan soal perbedaan selisih elektabilitas kandidat Pilpres 2019 antara hasil survei SMRC dan Litbang Kompas yang berbeda.
Dalam hasil SMRC, selisih antara dua pasangan calon ialah 25,8 persen. Sementara dari hasil survei Litbang Kompas justru menyempit yakni 11,8 persen.
Saiful menjelaskan, hasil survei Capres - Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi - Maruf Amin makin meningkat karena beberapa faktor. Dalam survei itu, SMRC menerapkan sejumlah survei berdasarkan berbagai variable seperti ekonomi, politik, intesitas mobilisasi hingga sikap responden pasca debat pilpres.
"Dari semua itu saya tidak menemukan tanda-tanda yang membuat 01 turun dalam kurun waktu itu," kata Saiful dalam akun Twitter pribadinya @saiful_mujani pada Kamis (21/3/2019).
Saiful menyebut, elektabilitas Jokowi - Maruf Amin sempat turun. Penurunan itu terjadi kala adanya agenda besar bertajuk Reuni Akbar 212 pada Desember 2018 lalu. Namun demikian, elektabilitas keduanya tetap di atas Capres - Cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.
Elektabilitas Jokowi - Maruf Amin kembali naik pada Januari hingga Maret 2019 dengan berbagai faktor, salah satunya ialah debat pilpres.
"Apa yang membuat naik? pemirsa menilai 2 debat pertama dan kedua lebih positif ke 01. Mobilisasi 212 menurun pada Februari dibanding pada Desember," ujarnya.
Terkait dengan gap yang begitu jauh dengan hasil survei Litbang Kompas, Saiful mengatakan, bahwa perbedaan itu berasal dari jumlah responden yang memilih untuk tidak menjawab atau tidak tahu. Responden ini tidak bisa ditebak arah dukungannya.
"Dalam 4 kali survei terakhir sejak September, kenaikan 01 lebih karena menarik yang belum menentukan pilihan, bukan menggerogot 02. 02 relatif stabil di kisaran 29-33," cuitnya.
Baca Juga: Polling Pidato Terbaik Versi Fahri: Prabowo Lebih Berkelas Ketimbang Jokowi
Responden yang memilih tidak menjawab atau tidak tahu bisa disebut sebagai pemilih yang belum menentukan pilihannya atau swing voters.
Saiful menyebut kalau swing voters bisa saja direbut seluruhnya oleh salah satu pasangan calon, namun tidak pada peluanganya. Pasalnya, bisa saja swing voters itu kemudian terbagi untuk kedua pasangan.
"Kalau kita prediksi kemungkinan ke mana yang belum memilih itu dengan menggunakan prediktor demografi misalnya, kalau berdasarkan pada data terakhir saya bulan Maret, yang belum menentukan pilihan itu tidak habis diambil oleh satu pasang," ungkapnya.
Saiful kemudian mengungkapkan kalau alasan elektabilitas Jokowi - Maruf Amin bisa menurun. Hasil dari penelitian komprehensif, penurunan itu tidak disebabkan oleh sikap kritis masyarakat hasil dari pemberitaan media dan menghasilkan sentimen negatif kepada petahana.
Akan tetapi, sikap kritis masyarakat yang benar-benar merasakan perekonomian semakin berat hingga keamanaan yang memburuk.
"Biasanya yang sensitif adalah ekonomi makin berat, keamanan memburuk, sikap yang melukai identitas mayoritas. terjadikah itu dalam 5 bulan terakhir?," ujar dia.
Berita Terkait
-
Presiden Jokowi Ungkap MRT Belum Ramah Terhadap Kaum Disabilitas
-
Heboh Video Barisan Truk Kontainer Bergambar Jokowi - Maruf, inikah Isinya?
-
Guyon Prabowo Minta Sumbangan, Erwin Aksa: Pengusaha Siap Beri Dukungan
-
Cerita Prabowo Dituduh Zionis hingga Islam KTP
-
Bicara Kabinet, Prabowo - Sandiaga Colek Erwin Aksa dan Rizal Ramli
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
Pilihan
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
Terkini
-
Polisi Ungkap Kendala di Balik Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Konten Kreator Cinta Ruhama
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Propam PMJ Datangi SPBU Cipinang, Usut Oknum Aparat Diduga Aniaya Pegawai Hingga Gigi Copot
-
Balas Pledoi Kerry Riza, Jaksa Minta Hakim Tolak Seluruh Pembelaan Anak Riza Chalid
-
Lasarus Klarifikasi Soal Penutupan Gerai Alfamart-Indomaret: Bukan Ditutup, Tapi Dibatasi
-
Penampakan Before-After TNI Bersihkan Lumpur di Rumah Warga Terdampak Bencana di Aceh
-
Update RUU PPRT dan Revisi UU Ketenagakerjaan di DPR, Partisipasi Publik Digelar Mulai 15 Maret
-
Tragis! Ibu di Sumbawa Tega Bakar Anak Gegara Tolak Cari Pakan Ternak
-
Update RUU Perampasan Aset, Dasco: Komisi III Sedang Belanja Masalah dan Susun Draf RUU
-
Aksi Koboi Curanmor di Tanjung Duren Terekam CCTV, Polisi Ringkus Dua Pelaku