News / Nasional
Selasa, 01 Oktober 2019 | 15:02 WIB
Pendiri Watchdoc Documentary Maker yang juga jurnalis Dandhy Dwi Laksono. (Suara.com/Ummy Saleh)

(link berita berjudul: “Saksi: perusakan dan pembakaran bangunan di Wamena karena terprovokasi.”)

Twit keempat 14.00 WIB atau 16.00 WIT

Berita tentang apa yang terjadi di Jayapura (kampus Uncen dan taman budaya Expo Waena) sedang disusun, tapi tidak mudah mengumpulkan informasi karena akses peliputan untuk jurnalis juga tidak bebas.

(link berita berjudul: “Polisi halangi tiga wartawan meliput pembukaan pos eksodus mahasiswa di Uncen”)

Twit kelima 14.24 WIB atau 16.24 WIT

Ini berita tentang peristiwa di Jayapura hari ini. Kepala Dinas Kesehatan Papua mengonfirmasi ada 4 korban tewas (3 mahasiswa/orang Papua dan 1 TNI) setelah mahasiswa dilarang mendirikan posko di lingkungan kampus Universitas Cendrawasih.

(link berita berjudul: “Empat korban meninggal pasca pembubaran mahasiswa di Uncen”)

Poster yang berisi tuntutan untuk membebaskan Dandhy Laksono di Twitter pada Jumat dini hari. [27/9/2019]. [Twitter]

Penjelasan

1. Untuk bisa melihat informasi apa saja yang dilihat timeline Dandhy di twitter pada hari dan jam-jam itu, maka metode yang bisa digunakan adalah melihat “Tweets & replies” yang ada di akun @Dandhy_Laksono. Kurang lebih itulah yang menggambarkan informasi apa yang menarik perhatiannya, dikomentari, dan dibagikan ulang terkait peristiwa di Papua.

Baca Juga: CEK FAKTA: Heboh Kemenag akan Hapus Materi Perang Uhud dan Badar, Benarkah?

Cara lain adalah dengan melihat apa yang di “Likes” –nya, juga terkait peristiwa di Papua.

a. Retweet pertama Dandhy pada 23 September 2019 adalah posting dari akun @AprilaWayar pada jam 8.45 WIB. https://twitter.com/AprilaWayar/status/1175949397114281984

“Jayapura & Wamena Siaga 1. Internet diblokir lagi?”

(link berita: “Pemblokiran Internet Tak Mampu Menghalangi Isu Papua Mendunia”)

Ini adalah fakta pertama, bahwa ada peristiwa di Jayapura dan Wamena yang sudah muncul di media sosial, 5 jam sebelum twit pertama Dandhy tentang Jayapura dan Wamena.

Peristiwanya sendiri belum jelas jika dilihat dari urutan informasi yang muncul dan menjadi perhatian Dandhy di linimasa Twitter-nya.

2. Retweet kedua dari akun @VeronicaKoman pada pukul 9.25 WIB atau 11.25 WIT. https://twitter.com/VeronicaKoman/status/1175959237291151360

23/9/19 Wamena, West Papua

Hundreds of West Papuan high school (some junior high school) students shouting:
“Papua! Freedom!

(video ratusan/ribuan pelajar berpakaian putih abu-abu)

Inilah retweet kedua Dandhy yang mengandung kata “Wamena”, 4 jam sebelum unggahannya sendiri.

3. Pada pukul 10.20 WIB, atau satu jam kemudian, ia meretweet lagi akun @Joko85234663 yang memosting video kota Wamena yang telah terbakar di mana-mana dengan caption atau keterangan:

“Wamena memanas”.
https://twitter.com/Joko85234663/status/1175973099185016832

Akun ini sebenarnya mengomentari (“Quote Tweet”) posting Dandhy tentang informasi kota-kota di seluruh Indonesia yang pada hari itu menggelar unjuk rasa beserta aspirasinya.

Maka konfirmasi bahwa beberapa bangunan di kota Wamena telah terbakar setidaknya SUDAH TERJADI 3 jam sebelum Dandhy mengunggah informasi apapun oleh dirinya sendiri.

Kronologi selanjutnya berupa retweet dari Dandhy yang masih soal insiden kerusuhan baik di Jayapura maupun Waena. Di mana setelah 10 retweet dan quote tweet yang dilakukan Dandhy terhadap peristiwa di Jayapura dan Wamena selama 5 Jam terakhir, barulah ia memposting unggahan yang dipersoalkan polisi dan disebut sebagai bentuk 'provokasi' atas kerusuhan di Wamena.

Padahal, dari struktur Twit Dandhy itu, ia justru beritikad untuk mestruktur informasi atau berusaha merangkum secara sederhana dan sitematis apa yang dalam lima jam terakhir menarik perhatiannya di linimasa Twitter. Ia juga menyertakan sejumlah link berita sebagai rujukan kepada publik untuk memeriksa setiap informasi.

Load More