Suara.com - Febri Ramdani (26) pernah tinggal di Suriah, tempat di mana ISIS berkuasa. Kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, ia bercerita tentang masa-masa beratnya di salah satu negara Negara Timur Tengah itu.
"Motivasi terbesar saya itu karena dulu ada keluarga yang pergi ke sana karena keluarga besar ke sana jadi saya terpaksa ikut," kata dia melalui chanel youtube resmi Ganjar Pranowo.
Keluarga besar Febri berangkat ke Suriah pada tahun 2014 dengan menjual habis aset yang dimiliki. Setahun setelahnya, Febri yang masih berumur 22 tahun itu nekat menyusul keluarganya.
"Yang ajak karena itu melihat deklarasi di internet tentang khilafah waktu 2014, akhirnya rembugan bersama dan karena banyak faktor juga akhirnya memutuskan untuk pergi," kata dia.
Faktor yang Febri maksud adalah kebutuhan atas biaya pengobatan salah satu anggota keluarga. Tertarik pergi ke Suriah, mereka dijanjikan iming-iming yang menggiurkan.
"Jadi yang pertama karena pengobatan dan pekerjaan di sana, di sana bisa bebas jadi apa saja bahkan kalau enggak kerja akan dapat tunjangan dan sebagainya," tambahnya.
Tapi sesampainya di Suriah, Febri mengaku janji manis deklarasi khilafah nyatanya berbanding terbalik.
"Faktanya sangat berbanding terbalik pak, kita tidak mendapatkan apa-apa bahkan pemaksaan yang ada di sana," katanya pada Ganjar.
"Yang laki-laki dipaksa untuk ikut berperang dan yang perempuan dipaksa untuk menikah. Beberapa anggota keluarga itu suka diminta oleh kombatan sana untuk menikah, karena bagi ISIS jihadnya wanita itu ya menikah di sana dan laki-laki diwajibkan untuk berperang," terangnya.
Baca Juga: 10 Pemuda yang Keliling Bawa Sajam di Jalan Magelang Diamankan Polsek Mlati
BACA JUGA: Menolak Gabung, Anak Eks ISIS: Mereka Memotong Tangan dan Kaki Saya
Ia menambahkan bahwa bukan hanya warga luar yang dirugikan, sipil Suriah pun tidak akan mendapatkan fasilitas jika tidak bergabung dengan ISIS.
"Orang sipil di sana yang tidak mau bergabung dengan pihak ISIS pun tidak mendapatkan fasilitas, bahkan dikucilkan"
Keadaan Hancur
Sebelum pergi ke Suriah, Febri sempat mencari tahu gambaran tentang negara itu. Ia menemukan, bahwa negara tempat lahirnya ISIS itu sudah tertata secara infrastruktur.
"Tapi ternyata pas sampai sana hancur semua, bom di mana-mana, satu jam itu sudah tidak terhitung bom berapa kali," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Dompet Penarik Rejeki Warna Apa? Ini Pilihan agar Kamu Beruntung sesuai Shio dan Feng Shui
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Update! 9 WNI Diculik Tentara Israel di Kapal Global Sumud Flotilla
-
Kejagung Lelang Koleksi Harvey Moeis: Tas Mewah Hari Ini, Mobil dan Apartemen Menyusul
-
Duduk Perkara Kasus Chromebook: Kenapa Nadiem Makarim Dituntut 18 Tahun Penjara?
-
Menolak Lupa! 28 Tahun Reformasi, Aliansi Perempuan: Jangan Jadikan Tubuh Kami Sasaran Kekerasan
-
Suara Lantang di Depan Kantor Komnas HAM: Perempuan RI Menolak Lupa pada Luka Sejarah Kelam Bangsa
-
Film Pesta Babi Viral, Haedar Nashir Wanti-wanti soal Dominasi Politik di Papua
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
APJII: Penetrasi Internet Indonesia 2026 Capai 81,72 Persen, Jawa Masih Mendominasi
-
RS Sumber Waras Bantah Rawat Selebgram Ansy Jan De Vries usai Diduga jadi Korban Begal
-
Pemindahan Ibu Kota Negara Masih Tunggu Keppres, Pakar Desak Pemerintah Segera Tetapkan Arah Jelas