Karier Palar sebagai pengibar bendera NKRI di luar negeri sendiri terus berlanjut. Sejarawan A. B. Lapian dalam Terminologi Sejarah 1945-1950 & 1950-1959 (1996) mengemukakan bahwa selain menjadi Duta Besar RI untuk PBB yang pertama, putra daerah Minahasa ini juga melakoni tugas serupa di India pada 1953 hingga 1956
Pada tahun 1960, konsep 12 mil wiayah perairan dinyatakan konsep kelautan 1939.
Pada zaman kepemimpinan Soeharto, saat itu ada diplomat handal Mochtar Kusumaatmaja. Mochtar menyatakan luas wilayah Indonesia hanya 2.027.087 kilometer persegi tanah diperluas menjadi 5.139.250 atau bertambah banyak 3.166.163 kilometer persegi.
Konsep Nusantara yang dikenal saat ini diadopsi dari era Soekarno. Tahun 1969, Indonesia mengajukan Hukum Selat Kontinental dengan negara tetangga, pada 1973 DPR meloloskan Archipelago Outlook dan dimasukan dalam GBHN, yakni istilah Tanah Air.
Belum lagi Menteri Luar Negeri Ali Alatas yang punya prestasi mentereng, salah satu prestasi spekatkuler yang dibuat Ali sebagai diplomat adalah mewujudkan perdamaian di Kamboja.
Dia bersama PM Kamboja saat itu, Hun Sen, Ali berhasil mengakhiri perang melawan Khmer Merah yang diperkirakan menewaskan antara 1,4 hingga 2,2 juta jiwa warga sipil.
Dalam pemerintahan Soekarno ada tiga politik luar negeri, yakni Menteri Luar Negeri Adam Malik tahun 1966-1978 dan Mochtar Kusumaatmaja 1978-1988 nasionalis-sekuler. Politik luar negeri sebelum Orde Baru. Pertama, periode Revolusi (1945-1949). Kedua, periode Demokrasi Parlementer (1950-1958). Dan ketiga, periode Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
Pada 2 September 1948, Hatta berpidato di depan kelompok kerja KNIP yang isinya dikenal awal politik bebas aktif.
Hatta berpendapat politik luar negeri Indonesia harus ditentukan oleh kepentingan Indonesia sendiri dan dijalankan dengan situasi dan kenyataan yang dihadapi.
Baca Juga: Disentil Jokowi, Menpora Segera Benahi Sistem Pembinaan Olahraga Nasional
Kabinet pertama 1949-1950, Hatta dianggap arsitek utama politik luar negeri Indonesia dam menolak bersekutu dengan negara adidaya. Kabinet Sukiman dari Masyumi menanda-tangani perjanjian mutual security dengan Amerika Serikat dengan tujuan memperoleh bantuan ekonomi dan politik.
Setelah Irian Barat Politik Luar Negeri Indonesia tetap militan. Soekarno membagi dua menjadi Nefos (New Emercing Forces) dan Oldefos (Old Established Forces) Barat.
Saat Indonesia keluar dari PBB, Soekarno mengajukan dibentuknya Conefo (Confrence of New Emerging) untuk menandingi PBB dan didukung oleh Beijing dan markas di Jakarta dengan poros Beijing-Pyong Yang-Hanoi-Jakarta dengan orientasi anti barat.
Awal Orde Baru terumus politik luar negeri militer (Departemen Pertahanan dan Keamanan HANKAM, Lemhanas, Badan Koordinasi Intelejen Negara (BAKIN) dan Deplu.
Selain Adam Malik, Mochtar Kumumaatmaja, Ali Alatas Indonesia punya diplomat ulung Anwar Sani (dubes di PBB), Hasyim Jalal Ahli Kelautan dan Nana Sutresna.
Keputusan dibuat penasihat Soeharto, Kopkamtib (Jenderal Soemitro), Bakin (Benny Moerdani), CSIS (Ali Moertopo) Bappenas (Ali Wardhana, Widjojo Nitisastro), Deplu (A Malik).
Berita Terkait
-
Bukan Sekadar Isu! Said Didu Bongkar Alasan JK Khawatir Indonesia Chaos Juli-Agustus Mendatang
-
Misi Gelap WNA Rusia Selundupkan 202 Reptil Digagalkan Gakkum Kemenhut! Pelaku Terancam 10 Tahun Bui
-
Seret Inisial AA dan FA, dr. Tifa Klaim Kantongi Bukti Upaya Pembujukan RJ di Kasus Ijazah Jokowi!
-
Rismon Bandingkan Diri dengan Einstein: 'Ilmuwan Saja Bisa Revisi, Kenapa Saya Dicap Pembelot?'
-
Tak Bisa Hadir Jadi Saksi Kasus Ijazah Jokowi, Aiman Witjaksono Utus Tim Legal Temui Penyidik Polda
Terpopuler
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- 6 Smartwatch di Bawah Rp1 Juta, Fitur Premium untuk Aktivitas Sehari-hari
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
Pilihan
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
-
Brady Ebert Bekas Gitaris Turnstile Ditangkap Terkait Kasus Percobaan Pembunuhan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
Terkini
-
Tragis! Niat Cari Makan, Karyawan Laundry Tewas Tersambar KRL di Pancoran
-
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Said Abdullah Desak PBB Seret Israel ke Mahkamah Pidana Internasional
-
Perkuat Hak Saksi dan Korban, Komisi XIII DPR dan Pemerintah Mulai Bahas RUU PSDK dengan 491 DIM
-
Halmahera Tengah Membara, Wagub Malut dan Petinggi TNI-Polri Turun Tangan Redam Bentrok Antarwarga
-
Tragedi Maut di Proyek TB Simatupang: Niat Menolong Berujung Petaka, 4 Pekerja Tewas
-
Plt Ketum PPAD Komaruddin: Purnawirawan TNI AD Harus Jadi Perekat Persatuan, Tak Mudah Terprovokasi
-
KPK Wanti-wanti Investasi Rp6,74 Triliun di Kawasan Industri, Ini Titik Rawan yang Disorot
-
BPKP Tegaskan Kerugian Rp1,5 T Kasus Korupsi Chromebook Nyata, Ini Penjelasannya
-
Tiba Besok di Halim, Jenazah Kopda Farizal Rhomadhon Bakal Disambut Upacara Nasional Pimpinan TNI
-
Tragedi Maut di Basement TB Simatupang: Niat Tolong Rekan, 4 Pekerja Tewas Terjebak Gas Beracun