Suara.com - Industri kelapa sawit raksasa Indonesia, yang telah lama menjadi target kelompok hijau aktivis lingkungan global, melabuhkan perlawanannya ke dalam negeri ketika mencoba bertahan mengatasi sentimen anti-kelapa sawit yang tumbuh di antara generasi muda Indonesia yang lebih sadar lingkungan.
Indonesia, produsen minyak sawit terbesar dunia, sedang melatih petani dan guru serta menjalankan kampanye media sosial untuk menyoroti "aspek positif" dari industri senilai $50 miliar.
Para pecinta lingkungan telah mengaitkan minyak sawit, yang ditemukan di banyak produk mulai dari keripik kentang hingga sabun, dengan pembukaan lahan, perusakan habitat, dan kebakaran hutan.
Indonesia memiliki kawasan hutan tropis terbesar ketiga di dunia, hutan belantara luas yang dianggap penting untuk mengatasi dampak perubahan iklim, sekaligus rumah bagi spesies yang terancam punah seperti orang utan, harimau, dan badak.
Setidaknya 1,6 juta hektar hutan dan lahan lainnya terbakar pada 2019 dan kerugian diperkirakan mencapai $5,2 miliar karena kabut asap menyelimuti Indonesia dan negara-negara tetangga.
Analisis Greenpeace menunjukkan sekitar sepertiga kebakaran hutan di Indonesia terjadi di areal sawit dan pohon bahan baku bubur kertas.
Namun, pemerintah ingin menyoroti aspek positif dari industri yang mempekerjakan lebih dari 15 juta orang Indonesia dan menghasilkan sekitar 13 persen dari ekspor Indonesia.
BPDP telah bekerja sama dengan Asosiasi Petani Kecil untuk memberikan program pelatihan media kepada petani sawit agar mereka dapat berkontribusi pada artikel berita dan konten media sosial yang menyentuh inovasi di industri kelapa sawit, serta pentingnya bagi perekonomian nasional. dan mata pencaharian masyarakat Indonesia.
Baca Juga: Asam Lemak yang Terkandung di Minyak Kelapa Sawit Bisa Menyebabkan Penyebaran Sel Kanker
BPDP juga telah bekerja sama dengan Persatuan Guru Indonesia untuk mengadakan lokakarya bagi guru di seluruh nusantara untuk "Mengungkap Mitos dan Fakta" tentang kelapa sawit.
“Dalam pemahaman saya, kelapa sawit adalah penyumbang devisa terbesar, tapi… ada juga informasi yang mungkin agak negatif,” kata Sukiter, seorang guru yang berbasis di kota Yogyakarta yang menghadiri acara tersebut.
"Tapi (berdasarkan) penjelasan tadi (di workshop), banyak sekali manfaat kelapa sawit," ujarnya dalam video promosi program tersebut.
Muda dan peduli lingkungan
Aktivis lingkungan selama beberapa dekade mencoba menyebarkan pesan anti-kelapa sawit di kalangan anak muda Indonesia, yang menjadi lebih mudah menerima seruan global melalui internet dan media sosial untuk memerangi perubahan iklim.
Ini telah mendorong industri kelapa sawit Indonesia untuk mencoba melawan apa yang dilihatnya sebagai penyebaran informasi sepihak di dalam negeri, kata Toggar Sitanggang, wakil ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) kepada Reuters.
Berita Terkait
-
BPDP Ungkap Temuan Riset Sawit, Bisa untuk Suplemen Ibu Hamil hingga Bensin
-
Komoditas Sawit Indonesia Bergantung pada CPO Mentah, Pengamat: Risiko Besar
-
Ekspor CPO Dapat Angin Segar, Pemerintah Turunkan Bea Keluar Juli 2026
-
Dilema B50 vs Ekspor CPO, Kebijakan Ini Bisa Jadi Pedang Bermata Dua?
-
Kebun Sawit PTPN Dijarah, Negara Rugi Rp62,6 Miliar
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan