Suara.com - Setelah tiga bulan berada di laut, Aslam Jusuf sudah tak sabar lagi untuk naik ke darat, menikmati liburan selama dua pekan.
"Sekarang saya lagi melaut. Ikut kapal penangkap ikan milik perusahaan yang berbasis di Darwin," ujar Aslam kepada Farid Ibrahim dari ABC Indonesia.
Pelaut asal Makassar ini bersama seorang rekannya, Arfan Uddin, datang ke Australia sejak beberapa bulan lalu di saat perbatasan Australia belum dibuka untuk warga asing.
"Kami mendapatkan pengecualian [untuk datang ke Australia] karena adanya permintaan tenaga kerja sektor perikanan," kata Aslam.
Bulan Oktober lalu, Seafood Industry Australia (SIA), badan nasional yang membawahi industri pangan hasil laut mengatakan industri perikanan merasakan kekurangan pekerja sebagai dampak dari penutupan perbatasan Australia akibat pandemi COVID-19.
"Kurangnya akses mendapat pekerja awak kapal telah menyebabkan banyak kapal penangkap ikan hanya diikat di dermaga dan tidak dapat beroperasi selama dua hingga tiga bulan. Industri perikanan tidak dapat memenuhi target produktivitas dan mengelola pertumbuhan tanpa tenaga kerja terampil," ujar Veronica Papacosta, Direktur Eksekutif SIA.
"Sederhananya, tanpa tenaga kerja dari luar negeri, industri perikanan tidak akan dapat melanjutkan kegiatannya saat ini."
Veronica mengatakan industri perikanan di Australia tidak mampu menarik tenaga kerja terampil dari dalam negeri, karenanya SIA sangat menyambut baik adanya visa khusus pekerja di bidang pertanian dan perikanan yang dikeluarkan Pemerintah Australia bulan Oktober.
Apa saja yang dilakukan nelayan asal Indonesia di Australia?
Bagi Aslam, yang belum lama menikah, kedatangannya ke Australia bukanlah yang pertama kali.
Baca Juga: Australia Umumkan The Base dan Hizbullah Sebagai Organisasi Teroris dan Terlarang
Pada tahun 2016 dia pernah ikut kapal penangkap tuna yang berbasis di Queensland.
"Untuk masuk ke sini begitu banyak persyaratan yang harus kami lengkapi. Termasuk karantina di Sydney dan lanjut lagi karantina di Darwin," tuturnya.
"Saya datang berdua dengan teman saya, kemudian ada satu orang lagi yang menyusul belakangan. Kami bekerja di perusahaan yang sama, hanya kadang beda kapal," kata Aslam.
Pelaut-pelaut ini bekerja pada kapal jenis 'trawl', yaitu kapal penangkap ikan dengan menggunakan jaring.
Aslam menuturkan kapalnya berangkat meninggalkan Pelabuhan Darwin menempuh perjalanan selama satu setengah hari.
"Operasi membuang jaring mulai dilakukan sekitar Pukul 6 pagi. Jaring ini akan ditarik oleh kapal selama tiga jam," jelasnya.
Setelah itu, para awak kapal beristrirahat sambil menunggu sampai waktunya untuk menarik jaring.
"Ikan-ikan yang terjaring ini akan disortir, dipilih jenis-jenis ikan yang diinginkan. Ikan yang tak diinginkan akan dilepas kembali," katanya.
Ikan-ikan yang sudah dipilih kemudian dimasukkan ke wadah untuk disimpan di ruangan bersuhu 2 hingga 3 derajat.
Pada saat ikan sudah dinaikkan ke kapal, jaringnya kembali dilepas ke laut, dan akan ditarik lagi selama tiga jam.
"Rata-rata kami membuang jaring ini sebanyak tujuh kali selama pergantian hari," jelas Aslam.
Setelah berada di laut sekitar dua minggu, kapal ini biasanya bongkar muatan di pelabuhan. Lalu, setelah menyiapkan perbekalan, mereka kembali melaut.
"Begitulah pekerjaan jadi nelayan di sini. Durasinya kami lakukan selama tiga bulan. Setelah itu kami mendapatkan jatah cuti dua minggu di darat," kata Aslam.
"Sehabis putaran tiga bulan ini, saya akan mendapat libur selama dua minggu," ucapnya.
Penghasilan bersih sekitar Rp30 juta
Soal bayaran, Aslam menyebutkan gaji yang mereka terima dibayarkan setiap tanggal 8 dan tanggal 22.
Rekan Aslam, Arfan Uddin, mengatakan penghasilan bersih yang mereka peroleh sekitar Rp30 juta setelah dipotong dengan pengeluaran untuk makan.
Bagi Arfan, tantangan terberat yang dia alami di kapal trawl yakni harus banyak belajar karena ini pengalaman pertamanya.
"Saya harus belajar menjahit jaring, cara menata ikan di wadahnya serta menyusun wadah di palka," ujarnya.
Pria yang telah memiliki seorang anak berusia enam bulan ini mengaku masih harus belajar juga persiapan ketika bongkar muat di pelabuhan.
"Kita harus mengecek jaring, tali kawat penarik jaring dan membongkar puluhan ton ikan," kata Arfan.
Meski kedengarannya mudah untuk datang ke Australia dan bekerja di kapal ikan, namun Arfan menyebut apa yang dialaminya tidaklah segampang itu.
"Ketika saya masih bekerja di Taiwan ada informasi dari agen di Jakarta tentang lowongan kerja di kapal ikan Australia," jelasnya.
"Setelah balik ke Indonesia, ternyata syarat untuk pergi ke Australia harus ada sertifikat bahasa Inggris IELTS," tambahnya.
Karena kemampuan bahasa Inggrisnya sangat terbatas, Arfan bersama Aslam dan rekan pelaut lainnya yakni Harifuddin, Iswan dan Akbar, pergi ke Pare di Kediri, Jawa Timur untuk belajar.
"Setelah belajar sekitar tiga bulan, kami ikut tes IELTS di Jakarta dan tak satu pun di antara kami yang lulus," ujarnya.
Tak berputus asa, anak-anak muda ini kembali ke Pare, lalu setelah tiga bulan mereka ikut tes lagi dan lulus.
Setelah memiliki sertifikat IELTS, kelima pelaut ini pun pulang ke kampung masing-masing, karena tabungan mereka dari hasil bekerja di kapal Taiwan sudah habis.
Sambil menunggu panggilan ke Australia, mereka melakukan berbagai macam pekerjaan. Afran dan Aslam bahkan pergi ke Kendari untuk ikut di kapal ikan tradisional.
"Setelah bekerja sekitar tiga bulan, salah satu dari kami berlima sudah ada panggilan bekerja ke Australia," katanya.
Beberapa bulan kemudian Arfan juga menerima panggilan melalui agennya di Jakarta.
"Masih ada prosedur yang harus dilakukan seperti cek kesehatan, perpanjangan sertifikat pelaut dan tanda tangan kontrak. Sebelum berangkat pun kami harus membayar ke agen sekitar Rp25 juta," jelasnya.
Merasa senang bekerja di Australia
Membandingkan pengalamannya saat bekerja di kapal Taiwan, Aslam menyebut, pekerjaan mereka saat ini jauh lebih menyenangkan.
"Setelah tamat sekolah perikanan di Kabupaten Bone, saat pembagian ijazah, guru kami memperkenalkan salah satu perusahaan yang menyalurkan pekerja ke kapal Taiwan," katanya.
Ada 12 pelaut yang mendapatkan kontrak kerja di kapal Taiwan selama dua tahun.
"Kami bekerja di kapal ikan dan cumi selama 6 hingga 7 bulan per trip. Tapi setelah satu trip ternyata banyak teman kami yang pulang karena tidak tahan," ucap Aslam.
Ia menyebut seringkali terjadi kekerasan di atas kapal serta gaji yang diterimanya terbilang minim. Mereka bekerja bersama pelaut dari Filipina, China, Vietnam, dan Taiwan.
Dari 12 rekannya, tinggal lima orang yang bertahan di kapal Taiwan tersebut termasuk Aslam sendiri.
Ia menyebutkan kelima orang ini kemudian disalurkan ke kapal ikan di Australia pada tahun 2016 hingga 2019.
"Kami bertahan di kapal Taiwan karena ingin menginjakkan kaki di benua kanguru," ujar Aslam.
"Akhirnya kami berlima berada di Australia bekerja di kapal perikanan," katanya.
Di kapal tempatnya bekerja sekarang, ada tujuh orang yang terdiri atas kapten, mekanik, dan kru.
"Saya berdua orang Indonesia, satu orang Prancis, orang Australia, dan Selandia Baru. Mereka semua baik dan ramah," tuturnya.
"Tapi dibandingkan dengan kerja sebelumnya, kami merasa sangat senang sekarang," ucap Aslam.
Aslam dan Arfan menggunakan fasilitas 'WiFi' di kapal untuk menelepon istri mereka di Indonesia setiap hari.
Pada akhir November ini, ketika trip tiga bulan kapal mereka telah berakhir, Aslam dan Arfan sudah punya rencana jalan-jalan mengisi jatah libur dua minggu.
"Mungkin akan menikmati pemandangan kota Darwin," katanya.
Ikuti artikel lainnya dari ABC Indonesia.
Berita Terkait
-
Uang Rp40 M Buat Bayar Utang Dirampok, Hacker Bobol Sistem Kementerian Keuangan
-
Terima Telepon PM Albanese, Prabowo Bahas Ekspor Pupuk Urea ke Australia
-
Bantai Australia 4-0, Vietnam Raih Tempat Ketiga Piala AFF Futsal 2026
-
Isu Pindah Tuan Rumah Menguat, AFC Tegaskan Piala Asia 2027 Tetap di Arab Saudi
-
Dunia Desak Israel Segera Berhenti Serang Lebanon
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
KPK Dalami Aliran Dana CSR di Kasus Madiun, Dirut Perumda Ikut Diperiksa
-
Jakarta Jadi Sering Mati Lampu, ESDM Investigasi Dugaan Kerusakan Gardu PLN, Apa Penyebabnya?
-
Prabowo Harus Diturunkan? Kritik Keras Saiful Mujani soal Ancaman Konstitusi dan Demokrasi
-
Kemenkes Libatkan NU dan Muhammadiyah, Lawan Hoaks Vaksin yang Masih Marak
-
Rekaman Mengerikan Dua Pesawat Nyaris Adu Banteng di Bandara JFK
-
Belum Ada APAR untuk Mobil Listrik, DPRD DKI Peringatkan Risiko Kebakaran
-
Cara Culas Prajurit AS Untung Rp6,5 Miliar dari Operasi Penangkapan Nicolas Maduro
-
Peringati Hari KI Sedunia, DJKI Gelar Layanan di Car Free Day Serentak 33 Provinsi
-
Babak Baru Tragedi Benhil: Polisi Bidik Agen dan Majikan Buntut PRT Tewas Terjun dari Lantai 4!
-
Gatot Nurmantyo dan Eks Panglima TNI Bahas Izin Lintas Udara, Menhan Sjafrie: Kepentingan Nasional