Suara.com - Belakangan ini masyarakat Indonesia dihebohkan dengan penemuan kerangkeng di rumah pribadi Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Perangin Angin. Kerangkeng tersebut dihuni oleh sejumlah orang.
Melansir Wartaekonomi.co.id -- jaringan Suara.com, Anggota DPR RI Dedi Mulyadi tak ingin berspekulasi lebih jauh apakah kerangkeng tersebut tempat rehabilitasi narkoba atau tempat perbudakan modern para pekerja sawit.
"Kalau saya sih tidak mau masuk ke perdebatan itu karena saya belum berkunjung ke sana, belum melihat fakta yang sebenarnya. Itu baru sekadar kata orang," ucap Kang Dedi Mulyadi.
Bagi Dedi perdebatan seperti itu sudah biasa terjadi di Indonesia. Terlebih jika orang tersebut sudah tidak lagi jabatan segala sesuatunya akan dibuka kesalahannya dan menjadi omongan di luar.
"Padahal ketika menjabat tidak ada yang ngomong bahwa di rumah bupati itu ada tempat misal rehabilitasi korban narkoba kemudian tempat itu tidak memenuhi syarat sehingga diminta untuk memperbaiki persyaratannya. Kan harusnya dulu diomonginnya, jangan sekarang," katanya.
"Di kita mah biasa, kalau orang lagi menjabat betul terus. Kalau sama orang menjabat di Indonesia mah, ‘bapak bagus’, ‘bapak betul’, seluruh keinginannya diiyakan, dipuji terus, pokoknya top. Begitu berhenti balik kanan paling kencang ngejelekin, segala diomongin," tutur Dedi.
Sehingga, kata Dedi, ia belum bisa berkomentar banyak terkait apakah kerangkeng tersebut benar rehabilitasi narkoba atau tempat orang yang dipekerjakan di kebun sawit.
"Walaupun kalimat itu otak saya belum bisa menjangkau apakah mungkin itu dilakukan," ucapnya.
Terlepas dari itu, menurutnya ada hal yang harus diubah dari negeri ini yakni otokritik terhadap kesalahan orang sebaiknya dilakukan saat masih menjabat sehingga bermanfaat. Bukan malah sebaliknya saat orang tersebut tak lagi menjabat.
Baca Juga: Perbudakan Modern: Kejahatan Serius yang Jarang Terekspos dan Minim Perhatian dari Negara
"Jadi di Indonesia itu punya kebiasaan beraninya saat berhenti jabatan, kalau lagi menjabat enggak pada berani. Misal di Langkat, bagi saya sih apakah itu tempat rehabilitasi narkoba atau itu dikatakan kerangkeng pekerja sawit, saya tidak mau mengomentari lebih jauh karena saya belum ke sana belum melihat langsung, itu semua kata berita," katanya.
Kang Dedi Mulyadi menilai terpenting dari penemuan kerangkeng tersebut adalah mengapa baru diketahui saat ini. Padahal ada banyak aparat dari berbagai unsur berada di sekeliling bahkan menjadi bagian dari Bupati Langkat saat itu.
"Terpenting bagi saya andai kata itu tempat rehabilitasi narkoba kemudian tidak memenuhi syarat kenapa tidak diperbaiki sejak lama? Kan aparat di sana banyak, kenapa bukan melakukan perbaikan. Tapi kalau pun itu untuk perbudakan kenapa kok sampai tidak diketahui sejak lama? Jadi otokritiknya adalah lakukan perbaikan sesuatu saat orangnya masih menjabat agar perbaikannya bermanfaat," ujar Dedi.
Tag
Berita Terkait
-
Sederet Kontroversi Bupati Langkat Terbit Rencana Perangin Angin, Belum Tuntas Soal Kerangkeng Kini Ada Orangutan
-
Kerangkeng Puluhan Orang, Menko PMK Muhadjir Effendy Tidak Yakin Bupati Langkat Punya Tabiat Seburuk Itu
-
Fakta Mengejutkan Soal Kerangkeng Manusia di Rumah Bupati Langkat
-
Lihat Langsung Kerangkeng Manusia Bupati Langkat, Komnas HAM: Semakin Terang Benderang
-
Perbudakan Modern: Kejahatan Serius yang Jarang Terekspos dan Minim Perhatian dari Negara
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
- 7 Sepatu Lari Lokal Paling Underrated 2026: Kualitasnya Dipuji Runner, Tapi Masih Jarang Dilirik
Pilihan
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
Terkini
-
Kejagung Klaim Sudah Lacak Keberadaan Jurist Tan Buron Kasus Chromebook
-
DPR: Daerah Sudah Tak Mampu Gaji PPPK, Guru Harus Diangkat Jadi PNS
-
Kisah Warga di Jabar Rela Patungan untuk Bayar Penjaga Perlintasan Rel Liar
-
Heboh Fenomena Tentara Korsel: Latihan Militer No, Operasi Plastik Yes
-
Tim Advokasi Khawatir Ada Upaya Damai dalam Kasus Tragis PRT Benhil
-
Ketakutan Penjaga Perlintasan Rel Liar Usai Tragedi Bekasi: Kami Juga Tak Mau Celakakan Orang!
-
Nadiem Jadi Tahanan Rumah, Kejagung Siapkan Pengawasan 24 Jam dan Gelang Elektronik
-
Targetkan 500 Ribu Lulusan SMK Kerja di LN, Cak Imin Prioritaskan Siswa dari Keluarga Miskin
-
23 Selamat, 14 Hilang! Drama Mencekam Pekerja Migran Indonesia di Laut Malaysia
-
Blokade Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Gas Jerman, Ancaman Krisis Energi Menghantui Warga Eropa