Suara.com - Di usia yang baru ke-15 tahun, Peter Susanto, anak pasangan asal Indonesia yang sekarang tinggal di Darwin, Australia Utara,sudah menjadi seorang mahasiswa kedokteran.
Peter adalah anak tertua dari pasangan Henri dan Lenny Susanto yang sebelumnya pernah tinggal di Adelaide, Australia Selatan.
Baik Henri dan Lenny melihat bahwa putra mereka Peter memiliki tingkat kecerdasan tinggi ketika dia bisa menerjemahkan kata-kata dari Bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris di saat masih berusia dua tahun.
Tiga belas tahun kemudian, Peter duduk di bangku kuliahdiCharles Darwin University untuk bisa menjadi seorang dokter.
"Menjadi seorang dokter adalah impian saya untuk bisa membantu orang lain dan juga adalah tantangan," kata Peter.
Ia sebelumnyapernah mengikutiprogram bernama "Child Genius"yang diselenggarakan jaringan televisi SBS di Australia.
Dalam lomba untuk menemukan siapa yang paling jenius di kalangan anak-anak berusia 9 sampai 12 tahun di tahun 2018 tersebut, Peter menduduki peringkat ketiga.
Setelah itu, Peter terlibat banyak kegiatan lain di saat sedang sekolah diHaileyburty Rendall, salah satu sekolah swasta ternama di Darwin.
Tahun lalu, Peter mendapatkan skor 99,60 untuk Sertifikat Lulusan Sekolah Menengah di Australia yang dikenal dengan nama ATAR dan menjadi siswa terbaik di sekolahnya.
Baca Juga: Kabar Baik, Indonesia Mulai Produksi Alat Kedokteran Gigi Sendiri
ATAR adalah nilai yang digunakan untuk menentukan masuknya siswa ke perguruan tinggi.
Nilai ATAR tertinggi yang bisa dicapai siswa di Australia adalah 99,95.
Peter mengatakan walau usianya baru 15 tahun, dia sudah siap untuk menjadi mahasiswa, baik secara akademis maupun saat nanti bergaul bersama mahasiswa lain.
"Orang tua saya maupun sekolah sudah mempersiapkan saya dengan baik, dalam soal bergaul dengan yang lain, juga memperkenalkan saya dengan siswa lain yang lebih tua.
"Saya punya keterampilan untuk menjadi tidak berbeda dengan yang lain selama di universitas," katanya.
"
"Saya siap untuk menjadi dokter."
'Tidak ada gunanya pintar kalau tidak bisa menerapkan ilmu'
Orang tua Peter, Henri dan Lenny Susanto mengatakan keberhasilan putranya adalah hasil dari nilai-nilai yang mereka tanamkan sejak kecil, kehidupan bersama dalam keluarga dan juga kerja keras anaknya.
"Saya berani mengatakan saya tidak pernahmelihat ada anak lain yang belajar begitu giat sepanjang tahun kemarin," kata Henri.
Menurut penuturan Lenny kepada wartawan ABC Indonesia Sastra Wijaya, mereka sekeluarga mendukung cita-cita Peter untuk menjadi dokter.
"Dia semakin mantap mau menjadi dokter setelah belajar ilmu tentang otak [ilmu saraf]untuk [berpartisipasi dalam]'Brain Bee Challenge'.
"Dia tertarik dengan cara kerja otak. Peter sadar kalau dia tahu bagaimana otak bekerja, dia bisa membantu menyelesaikan misteri tentang manusia," kata Lenny.
Rata-rata mereka yang tamat sekolah menengah di Australia berusia antara 18-19 tahun, dan menurut Lenny, Peter memangbeberapa kali loncat kelas ketika masih SD, sehingga tamat SMA di usia 15 tahun.
"Peter loncat kelastiga tahun. Waktu di SD, loncat dari kelas 2 langsung ke kelas 4. Terus pindah sekolah dan langsung naik ke kelas 5. Di kelas 6 di paruh waktu keempat, dinaikkan lagi ke kelas 7," kata Lenny.
Lenny mengaku bangga karenaPeter adalah anak yang selalu berusaha mengerjakan yang terbaik dari hari ke hari.
"
"Di SMA, Peter selalu nomor satu di semua mata pelajaran. Dia belajar keras dan selalu termotivasi untuk menjadi lebih baik dari kemarin," kata Lenny.
"Menurut ayahnyanilai lain yang mereka ajarkan ke anak-anak adalah untuk bersikap sosial.
"Dalam perjalanan liburan, misalnya, kami selalu memberikan mereka pengalaman lain seperti kalau ke Indonesia, kami selalu mengunjungi panti asuhan," kata Henri.
Menurutnya, anak mereka diharapkan akan bisa memberikan kontribusi positif kepada masyarakat sekelilingnya.
"Tidak ada gunanya pintar, kalau kita tidak bisa menerapkan ilmu yang dipunyai dan tidak bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat," katanya.
Apa cita-cita Peter selanjutnya?
Dosen senior Charles Darwin UniversityDr Sufyan Akram sudah terkesan dengan mahasiswa termuda di universitas tersebut.
"Dia masih muda dan memiliki latar belakang akademik yang bagus, dan seseorang yang memiliki kemampuan seperti Peter tidak akan mengalami masalah di universitas," kata Dr Akram.
Dr Akram berharap apa yang dilakukan Peter akan memberikan inspirasi bagi yang lain untuk menjadi dokter dan bekerja di negara bagian Australia Utara.
"
"Tujuan kami adalah memperluas penerimaan siswa, agar lebih banyak yang masuk jurusan kedokteran, mendapat pelatihan dan bekerja di kawasan pedesaan dan pedalaman di seluruh Australia Utara," kata Dr Akram.
"Peter diperkirakan akan menjadi dokter di usia 21 tahun.
"Setelah itu saya akan bekerja dengan pemerintah Australia Utaraselama empat tahun, dan setelah selesai, saya akan tetap tinggal dan bekerja di Darwin, karena komunitas di sini menyenangkan," katanya.
Artikel ini diproduksi dari laporanABC Newsdalam bahasa Inggris
Berita Terkait
-
Jaringan PMI Ilegal ke Malaysia Terbongkar, 68 Orang Berhasil Diselamatkan
-
Resmi Disahkan! Panduan Lengkap UU PPRT: Apa yang Berubah bagi Majikan dan Pekerja?
-
BP Batam 'Ngebut' di 2026: Investasi Tembus Rp17,4 Triliun, Sektor Elektronik Jadi Jawara
-
Singgung Kasus Rocky Gerung, Todung Tak Yakin Saiful Mujani Berakhir di Pengadilan
-
Perintah 'Tembak Mati' Donald Trump: Selat Hormuz di Ambang Perang Terbuka!
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
Terkini
-
Apa Itu Visa Emas Trump? Izin Tinggal di AS Senilai Rp15 M yang Sepi Peminat
-
Purbaya Punya Wacana Pasang Tarif di Selat Malaka, Picu Perdebatan Netizen Malaysia
-
Sudahi 'Drama' Aspal Rusak! Dinas Bina Marga DKI Bakal Rombak Jalan Kebon Sirih Pakai Beton
-
Uang Rp40 M Buat Bayar Utang Dirampok, Hacker Bobol Sistem Kementerian Keuangan
-
Departemen Kehakiman AS Selidiki Dugaan Akal Bulus Trump Halangi Investigasi Skandal Epstein
-
Predator Seksual Sesama Jenis Berkeliaran Cari Mangsa Remaja Sengaja Tularkan HIV
-
Geram Setahun Masalah Tak Kelar! Rano Karno Pimpin Langsung Penertiban Parkir di Lebak Bulus
-
Alarm Bahaya! 4700 Warga Malaysia Kehilangan Pekerjaan dalam 16 Hari, Bagaimana di Indonesia?
-
Donald Trump Perintahkan Tembak dan Bunuh Jenis Kapal Ini di Selat Hormuz
-
Sebut JK Idola, Pakar Komunikasi: Gibran Sudah Belajar Banyak, Tak Lagi Terpancing Kritik Pedas