Ini artinya Moderna memiliki waktu enam bulan untuk mendaftarkan secara resmi penggunaan vaksin tersebut di Australia.
"Memberikan izin sementara bukanlah jaminan bahwa nantinya mendapat persetujuan penuh," kata TGA dalam pernyataannya.
Pekan lalu Menteri Kesehatan Jerman, Karl Lauterbach, mengatakan Badan Pengatur Obat-obatan Eropa akan menyetujui penggunaan vaksin kombinasi Moderna tersebut bulan depan.
Bulan Juni lalu, Badan pengatur obat-obatan di Amerika Serikat, FDA, mengatakan kepada para pembuat vaksin bahwa vaksin booster yang dibuat yang akan tersedia di musim gugur harus juga memiliki kemampuan untuk melindungi dari varian terbaru Omicron, yaitu BA.4 dan BA.5, dan bukannya BA.1 seperti di dalam vaksin Moderna terbaru.
FDA kemudian mengatakan di bulan Juli bahwa tidak akan lagi mempertimbangkan pemberian pengesahan bagi vaksin booster kedua bagi orang dewasa, namun akan memfokuskan pada vaksin yang bisa melawan subvarian terbaru.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), peningkatan kasus COVID di dunia sekarang disebabkan oleh subvarian BA.5 dengan sekitar 70 persen kasus sampel yang ada.
Subvarian BA.5 ini lebih mudah menular dibandingkan varian Omicron yang pertama dan memiliki beberapa perbedaan genetik, yang tidak bisa ditangani oleh vaksin sebelumnya.
Para ilmuwan mengatakan terus berubahnya virus COVID tersebut akan membuat pabrik obat akan tertinggal satu langkah di belakang dalam usaha mereka mengembangkan vaksin.
Jonathan Ball, professor di bidang virus di University of Nottingham mengatakan vaksin Moderna terbaru ini akan masih bisa memberikan perlindungan walau virus akan terus berubah.
Baca Juga: Inggris Negara Pertama yang Menyepakati Vaksin dengan Fungsi Ganda
"Virus tidak akan diam saja, dan imunitas yang menyasar pada Omicron mungkin akan memaksa virus itu mencari jalan evolusi lain," katanya.
Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News.
Berita Terkait
-
Isuzu GIGA FVM Jadi Solusi Logistik Modern Hasil Kolaborasi IAMI dan MODA di GIICOMVEC 2026
-
WFH ASN Tidak Berlaku di Kementerian PU,Menteri Dody Ungkap Alasan Tugas
-
LG Ungkap Tantangan Smart Home di Indonesia, Edukasi Konsumen dan Teknologi AI Jadi Kunci
-
Kena OTT KPK, Bupati Tulungagung Gatut Sunu dari Partai Apa?
-
Fajar/Fikri Diadang Kuda Hitam Korea, 2 Wakil Indonesia Jadi Tumpuan Terakhir di BAC 2026
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- 7 Tablet Rp2 Jutaan SIM Card Pengganti Laptop, Spek Tinggi Cocok Buat Editing Video
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
DPRD DKI Bentuk Pansus, Target Jakarta Bebas Sampah 2030
-
Sampah Setinggi 6 Meter di Pasar Induk Kramat Jati Berhasil Dibersihkan
-
Terjaring OTT, Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo Tiba di Gedung KPK Pagi Ini
-
Ada Lebaran Betawi, Berikut Rekayasa Lalu Lintas di Lapangan Banteng
-
OTT KPK di Tulungagung: Selain Bupati Gatut Sunu Wibowo, 15 Orang Juga Diamankan
-
Tiba di Pakistan, Tim Perunding Iran Ingatkan Pengalaman Pahit Dikhianati AS
-
Jaga Kelestarian Alam, Ekowisata Mangrove di Lombok Timur Ini 'Mengalah' Demi Napas Lingkungan
-
Kisah Supriadi: Dulu Belajar Silvofishery ke Kalimantan, Kini Sukses Budidaya Nila di Lombok Timur
-
KPK OTT di Tulungagung, Bupati Gatut Sunu Diamankan
-
Seskab Teddy Pastikan Indonesia Tidak Akan Tarik Pasukan dari UNIFIL