Suara.com - Kelakuan brutal Mario Dandy Satrio jadi sorotan masyarakat. Senin malam pada pekan lalu, anak pejabat pajak itu menganiaya David, putra pengurus Gerakan Pemuda Ansor NU.
Mario menghajar David secara membabi buta layaknya tak tahu belas kasih. Dari video yang beredar luas di media sosial, Mario menendang kepala dan perut David hingga terkulai. Tindakan tak berperikemanusiaan itu mengakibatkan David koma di rumah sakit hingga saat ini.
AKSI kekerasan Mario itu mendulang kecaman dari berbagai kalangan masyarakat. Pemuda 20 tahun itu juga dipandang sebagai pribadi arogan lantaran kerap pamer kekayaan dan kegarangan mengendarai kendaraan mewah. Salah satunya mobil Jeep Rubicon yang dikendarainya saat menghajar David.
Kendaraan mewah yang digunakan Mario pemberian dari orang tuanya. Mulai dari Jeep Rubicon hingga sepeda motor Harley Davidson. Ayahnya adalah pejabat Direktorat Jenderal Pajak Kemenkeu, Rafael Alun Trisambodo yang memiliki harta kekayaan mencapai Rp56 Miliar, berdasarkan LHKPN. Belakangan harta Rafael dipertanyakan karena dinilai janggal untuk seorang pejabat level eselon III.
Perangai Mario itu dinilai sebagai sikap orang yang antisosial. Sikap yang tidak bisa melihat norma-norma yang berlaku di masyarakat. Berperilaku semaunya sendiri, egois, indivisualis dan didukung oleh kemampuan ekonomi keluarga yang serba mewah. “Dia bisa memamerkan kendaraan mewah itu adalah bagian dari sikap antisosial tersebut,” kata Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat kepada Suara.com, Senin (27/2/2023).
Kelakuan pamer kemewahan Mario itu menggambarkan dirinya tidak peduli dengan orang lain. Kenyataan ada orang yang tidak bisa makan, rumah kebakaranm nyawa terancam, dia tak peduli sama sekali. Yang penting dia bisa eksis, unjuk diri dengan status kekayaannya di media sosial ke publik. “Itu menggambarkan kondisi antisosial dari si pelaku,” terangnya.
Manurut Rakhmat, sikap antisosial menjadi paradoks, menjadi ironi karena didukung tindakan biadab seperti yang dilakukan Mario terhadap David. Hal ini semakin menunjukkan bahwa tindakan antisosial itu tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan.
Selain itu, latar belakang pendidikan Mario yang tak pernah tuntas juga turut berpengaruh. Mario bermasalah secara pendidikan dan edukasi. Ia sempat sekolah di Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah, namun dikeluarkan dan kembali ke Jakarta. “Itu menunjukkan bahwa ada relasi nilai edukasi yang diberikan oleh keluarganya bermasalah,” ujar Rakhmat.
“Karena itu tidak maksimal proses pendidikannya. Kalau keluarganya punya nilai-nilai pendidikan yang bagus dan baik, tentu saja tidak terjadi seperti itu kan,” lanjutnya.
Rakhmat menduga, orang tua Mario yang seorang pejabat eselon tiga di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan kurang memiliki waktu bersosialisasi dengan anaknya. Nilai-nilai edukasi menjadi hilang, menjadi sesuatu yang absurd di keluarganya. Sehingga Mario dan saudaranya akhirnya mencari eksistensi dengan pamer kekayaan, seperti mobil mewah di media sosial. “Jadi secara edukasi, dia megalami krisis edukasi di keluarganya,” tutur dia.
Hukuman Pidana dan Sosial
Atas tindakan kejinya, Mario mendapatkan dua ancaman hukuman, yakni pidana penjara dan hukuman sosial. Hukuman pidana, kini masih dalam tahap proses penyidikan di kepolisian yang nantinya bisa berlanjut ke pengadilan.
Sedangkan hukuman sosial, Mario mendapat kecaman dan hujatan dari masyarakat luas se-Indonesia. Bahkan hukuman sosial itu merembet ke keluarganya. Kedua hukuman itu harus diterima Mario.
Menurut Rakhmat, Mario harus menerima dan menjalani hukuman pidana untuk memulihkan kesadaran sosialnya. “Kenapa harus hukuman pidana itu harus ditempuh Mario, karena dengan cara itu dia bisa kembali diterima masyarakat, yang disebut sebagai proses resosialisasi,” kata Rakhmat.
Proses resosialisasi itu penting bagi Mario karena dia gagal bersosialisasi, disebabkan sikap antisosial. Pasalnya, Mario tidak mengerti norma-norma di masyarakat, tidak mengerti soal kepekaan, soal sensitivitas orang-orang miskin yang tak bisa makan. Maka proses hukuman pidana harus dijalani Mario, mulai dari di kepolisian, pengadilan, vonis penjara hingga di Lapas. “Harapan kita adalah dengan dia dihukum, berapa pun vonis nanti, dia akan merasakan efek jera,” tuturnya.
Tag
Berita Terkait
-
5 Fakta Terbaru Jejak Keluarga Eks Pejabat Pajak Rafael Alun Trisambodo di Jogja, Punya Istana Mewah hingga Ditegur Warga Gegara Knalpot Brong
-
Klub Moge Dibubarkan Buntut Anak Pejabat Pajak Bikin Anak Pengurus GP Ashor Koma: Mau Citrakan Hidup Sederhana
-
Lusa KPK Panggil Rafael Alun, Klarifikasi Harta Kekayaan yang Fantastis
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
60 Ton Sampah Menggunung, Pemprov DKI Janji Pasar Induk Kramat Jati Bersih dalam 5 Hari
-
Sinyal Bahaya Demokrasi, Lakso Anindito Sebut KUHP Baru Berpotensi Hidupkan Rezim Otoritarian Orba
-
KPK Sempat Terbelah dan Ragu Jadikan Yaqut Tersangka Korupsi Haji?
-
Lakso Anindito Prediksi Gelombang Praperadilan Koruptor Akibat KUHP Baru
-
Rumah Yaqut 'Dikepung' Aparat, Tamu Diperiksa Ketat Usai Jadi Tersangka Korupsi Haji
-
BNI Hadirkan agen46 hingga Pelosok Kota Bima, Perluas Inklusi Keuangan
-
Indonesia Terpilih jadi Presiden Dewan HAM PBB, Amnesty International Indonesia: Kebanggaan Semu!
-
KPK Bongkar Alasan Jerat Eks Menag Yaqut: 'Permainan' Kuota Haji Tambahan Jadi Pemicu
-
Sinyal Keras KPK, Eks Menag Yaqut Secepatnya Ditahan di Kasus Korupsi Haji
-
Tanggapi Soal Pilkada Langsung dan Tidak Langsung, Menko Yusril: Keduanya Konstitusional