Suara.com - Aksi demonstrasi, di depan Kementerian Kebudayaan telah bubar secara tertib, setelah mereka menyerahkan dokumen yang berisi tentang fakta-fakta pelanggaran HAM Soeharto.
Sebelumnya dalam demonstrasi yang memprotes komentar Menteri Budaya soal fakta kerusuhan dan pemerkosaan masal perempuan Tionghoa di Mei 1998, pada demonstran yang terdiri dari Koalisi Masyarakat Sipil juga membawa boneka kepala babi.
Kontras, yang tergabung dalam koalisi, mengatakan ada tiga poin utama yang mereka sampaikan dalam aksi kali ini. Pertama adalah penolakan gelar pahwalawan untuk Soeharto, kedua memprotes penulisan ulang sejarah versi Fadli Zon; dan terakhir menolak pernyataan Fadli Zon yang menihilkan fakta pemerkosaan massal terhadap perempuan Tionghoa dalam Kerusuhan 1998.
“Dari tiga rentetan itu kami melakukan aksi dengan maksud mengingatkan kepada negara agar tidak gegabah dalam memberikan statemen publik terkait pelanggan HAM. Tidak hanya pemerkosaan masal tapi juga penembakan misterius dan lainnya,” kata Wakil Koordinator Kontras Andrie Yunus kepada Suara.com, di kawasan Senayan, Kamis (26/6/2025).
Dari hasil pantauan Suara.com di lokasi aksi, para peserta membawa sejumlah poster dan spanduk yang berisi penolakan dijadikannya Soeharto sebagai pahlawan nasional.
Kemudian, mereka juga membawa patung dengan tubuh menggunakan jas dan dasi namun berkepala babi. Aksi ini berjalan cukup damai, dan tidak mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Dalam aksi tersebut, massa juga menyediakan buku bacaan yang bisa dibaca secara gratis.
Penjelasan Fadli Zon
Sebelumnya melalui media sosial, Fadli Zon menyebut peristiwa 13-14 Mei 1998 disangsikan kebenarannya. Fadli bahkan bilang pemerkosaan massal perempuan Tionghoa di berbagai kota di Indonesia pada Kerusuhan 1998 tak pernah terjadi.
Padahal dalam laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk Presiden BJ Habibie, secara gamblang dinyatakan peristiwa pemerkosaan massal itu benar terjadi. Presiden Habibie sendiri bahkan sudah minta maaf kepada publik terkait peristiwa kelam tersebut.
Baca Juga: Pandji Pragiwaksono Dorong Korban Pemerkosaan 98 Buka-bukaan di Depan Fadli Zon
“Laporan TGPF ketika itu hanya menyebut angka tanpa data pendukung yang solid baik nama, waktu, peristiwa, tempat kejadian atau pelaku. Di sinilah perlu kehati-hatian dan ketelitian karena menyangkut kebenaran dan nama baik bangsa. Jangan sampai kita mempermalukan nama bangsa sendiri,” kata Fadli Zon dikutip dari media sosial X miliknya, Senin (16/6/2025).
Dia mengaku mengecam keras berbagai bentuk perundungan dan kekerasan seksual pada perempuan yang terjadi pada masa lalu dan bahkan masih terjadi hingga kini.
Menurut dia, pernyataannya tidak menegasikan berbagai kerugian atau menihilkan penderitaan korban yang terjadi dalam konteks kerusuhan Mei 1998.
Sebaliknya, lanjut dia, segala bentuk kekerasan dan perundungan seksual terhadap perempuan adalah pelanggaran terhadap nilai kemanusiaan paling mendasar, dan harus menjadi perhatian serius setiap pemangku kepentingan.
“Pernyataan saya dalam sebuah wawancara publik menyoroti secara spesifik perlunya ketelitian dan kerangka kehati-hatian akademik dalam penggunaan istilah perkosaan massal, yang dapat memiliki implikasi serius terhadap karakter kolektif bangsa dan membutuhkan verifikasi berbasis fakta yang kuat,” ujar Fadli Zon.
Dia mengeklaim pernyataan itu tidak bertujuan untuk menyangkal keberadaan kekerasan seksual, tetapi menekankan bahwa sejarah perlu bersandar pada fakta-fakta hukum dan bukti yang telah diuji secara akademik dan legal.
“Penting untuk senantiasa berpegang pada bukti yang teruji secara hukum dan akademik, sebagaimana lazim dalam praktik historiografi. Apalagi menyangkut angka dan istilah yang masih problematik,” tulis Fadli.
Berita Terkait
-
Bawa Boneka Babi, Aktivis Desak Fadli Zon Minta Maaf Usai Sangkal Tragedi Perkosaan Mei 98
-
Wawancara Eksklusif: Sandyawan Bongkar Rekomendasi TGPF yang Diabaikan Negara
-
Aksi Boneka Babi di Kemendikbud: Protes Gelar Pahlawan Soeharto dan Pernyataan Fadli Zon Soal '98
-
Fadli Zon Ngeyel, Deddy Corbuzier Ngaku Pernah Saksikan Pemerkosaan di Kerusuhan 1998
-
Sejarah Tergantung Rezim yang Berkuasa, Pandji Pragiwaksono: Wajah Gajah Mada Mirip Mohammad Yamin
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
Terkini
-
Taruna Akmil akan Dampingi Siswa Sekolah Rakyat Belajar Mandiri di Asrama Selama 5 Hari
-
Tak Lagi 'Macan Ompong', RUU HAM Beri Komnas HAM Kewenangan Penyidikan
-
Menuju Kota Global, Jakarta Kejar Target Bebas Buang Air Sembarangan
-
Jangan Terkecoh! Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Abaikan Ajakan di Medsos
-
Jadi Otak Penyekapan, Bos Percetakan di Senen Perintahkan Anak Buah Pasung Kaki Korban
-
Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi
-
Gelar Budaya Jokowi Disorot, Dinilai Jadi 'Senjata' Politik Incar Masyarakat Paternalistik
-
Satu Tahun Menuju 5 Abad, Apakah Jakarta Sudah Layak Kota Global?
-
Sekjen Golkar: Pasar Tak akan Goyang Hanya Karena Gaya Pidato Prabowo
-
Rp1,1 Triliun Anggaran Pendidikan Jakarta Tak Terserap, DPRD: Harusnya Bisa untuk Sekolah Gratis