Suara.com - Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI menggelar sidang dengan agenda mendengarkan keterangan teradu terkait kasus Anggota Komisi XIII DPR RI Prana Putra yang dilaporkan terkait dugaan memeragakan gestur jari tak senonoh saat live TikTok.
Wakil Ketua MKD DPR RI Adang Daradjatun, menyampaikan jika laporan itu masuk ke MKD pada 25 Juni 2025.
"Yang mengadukan saudara atas dugaan pelanggaran atas gesture yang tidak pantas secara etika simbol yang secara luas dikenal SBG isyarat seksual dan disiarkan dalam live streaming dalam media sosial TikTok pada tanggal 19 Juni pukul 12.40 WIB kepada sekretariat persilakan bukti," kata Adang dalam sidang.
Kemudian dalam sidang Prana sebagai teradu pun memberikan keterangannya soal dirinya dilaporkan.
Ia mengaku siaran live streaming TikTok yang melibatkannya tersebut tak tahu akan direkam oleh orang lain dan diupload ulang.
Menurutnya, kejadian itu terjadi sebelum Komisi XIII menggelar kunjungan reses, kemudian dirinya makan siang melihat siaran live streaming lalu diajak bergabung dalam satu frame siaran tersebut.
"Pertama saya tidak tahu kalau itu live TikTok terus terang saya tidak tahu demi Allah dan kemudian saya masuk di situ. Saya ngobrol biasa karena ngobrolnya nyantai semuanya, jadi saya hanya menjelaskan ketua yang mulia. Jadi saya hanya menjelaskan bahwa kalau mau awet muda ya seperti itu tadi," kata Prana dalam sidang.
Dalam obrolan live itu, Prana mengaku ditanya oleh temannya soal rahasia awet muda. Lalu dia menjawab dengan gestur jari tak senonoh.
"Nah, saya pakai gesture yang seperti itu untuk hanya menjelaskan dan kemudian kita ketawa-ketawa lagi seperti yang ada di dalam video tadi," katanya.
Baca Juga: Dua 'Senjata' Baru di RKUHAP: Polisi Wajib Proses Laporan 14 Hari, Hak Pilih Pengacara Dijamin Penuh
Ia mengaku saat menunjukan gestur jari tak senonoh itu ternyata siaran live itu direkam dan diunggah ulang.
"Dan setelah itu, saya tidak tahu ada yang merekamnya, merekam dan memposting ulang lagi, daripada video tersebut dengan narasi-narasi yang negatif tersebut," katanya.
Ia merasa telah dicemarkan nama baiknya atas kejadian itu. Ia membela diri kalau gestur jari ada juga di Meseum Fatahilah Jakarta tepatnya di Meriam Si Jagur.
"Saya pikir hal tersebut bukanlah hal yang berkaitan dengan sensual atau pornografi karena itu juga ada dimana, cuma narasi yang sudah dikembangkan oleh si pelapor ini bukan main. Saya mendapat serangan yang demikian rupa di media-media sosial yang saya tahu tidak semua media sosial se kota Palembang itu melakukan penyerangan seperti itu," ujarnya.
"Artinya saya tidak ada niat sama sekali, untuk menjelaskan tentang Kepornoan tersebut atau sensual itu tidak ada. Saya hanya menjelaskan yang sesungguhnya, saya dengar juga Dokter boyke sering juga Menyampaikan bahwa Kalau ingin awet budaya harus sering-sering berhubungan badan dan sebagainya. Jadi saya hanya melihat dibelakang ini adalah niat si pengadu untuk menjatuhkan saya," sambungnya.
Atas penjelasannya tersebut, Prana meminta MKD tak menjatuhkan hukuman terhadapnya terkait kejadian tersebut.
"Berdasarkan dali-dalih alasan dan hal-hal yang tidak bertanggung jawab yang terbantahkan itu, saya berharap kepada mulia kiranya dapat menyatakan saya tidak terbukti melakukan pelanggaran tersebut dan memerintahkan kepada pengadu yang bernama peralawanan rakyat meminta maaf kepada saya Dan mengembalikan nama baik saya," tuturnya.
"Itu orangnya sama ketua yang mulia. Jadi orang yang merekam itu sama orang yang melapor memgramimg untuk viral itu sama yang demo Di DPP PKB juga sama dan tapi alhamdulillah saya belum tidak mendapat kegunaan apapun kemudian juga yang melapor ke ini juga sama orangnya Itu yang mulia," katanya lagi.
Tag
Berita Terkait
-
PKS Lanjutkan Perombakan di DPR: Wakil Ketua MKD Aboe Bakar Alhabsyi Digeser Adang Daradjatun
-
Revisi KUHAP: Mimpi Buruk Korban Salah Tangkap? Kisah Fikri dan Ribuan Lainnya yang Terlupakan
-
KPK Bakal Tumpul? Draf KUHAP Baru Batasi Penyadapan dan Degradasi Peran Penyelidik
-
Selama 'Janur Kuning' Paripurna Belum Diketuk, Masih Ada Peluang Revisi KUHAP Diubah
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
Terkini
-
Ulasan Novel Burung-Burung Berkisah: Keindahan Alam dalam Sastra Klasik
-
Daftar Negara yang Bisa QRIS Cross-Border BRImo
-
Uji Rasa Aditya Kwetiau Jambi: 15 Tahun Eksis, Porsinya Bikin Dompet Aman Perut Kenyang!
-
Tiga Penjarah Fasilitas Masjid di Tulang Bawang Berakhir di Tangan Polisi
-
Mimpi Besar Motor Listrik Nasional Dituntut Bukan Sekadar Proyek Seremonial Belaka
-
Ulasan Anggur Kemurkaan: Kisah Tragis Keluarga Joad di Tengah Krisis Amerika
-
Tragedi Rem Blong di Jombang: Truk Seruduk Buruh Pabrik, Dua Nyawa Melayang Seketika
-
Donald Trump Restui Arab Saudi Kembangkan Nuklir
-
Sinopsis 72 Hours, Film Komedi tentang Pesta Bujangan Berujung Kekacauan
-
Dorong Ekonomi Kerakyatan, Danantara Sambangi Nasabah Binaan PNM di Mojokerto