Suara.com - Eko Cahyono dari Sajogyo Institute, menyoroti minimnya perhatian terhadap isu keadilan ekologi dan agraria dalam tuntutan 17+8.
Menurut Eko, meskipun tuntutan tersebut banyak didominasi isu ketidakadilan sosial, ekonomi, politik, dan militer, namun masih sedikit yang memasukkan agenda tentang keselamatan layanan alam, krisis agraria, dan krisis ekosistem.
Padahal, isu-isu ini tak kalah penting dan berdampak langsung pada kehidupan rakyat.
"Bencana ekosistem itu dirasakan rakyat berlapis," ujar Eko dalam forum diskusi bertajuk "Gerakan 17+8 Tuntutan Rakyat: Makna Politik dan Dampak Sosial", digelar Ikatan Sosiolog Indonesia (ISI) secara online, Rabu (10/9/2025).
Ia mencontohkan dampak dari pertambangan, perkebunan sawit, pertanaman industri, konservasi, hingga program strategis nasional seperti food estate dan kawasan strategis pariwisata nasional.
Semua ini, kata Eko, berkontribusi pada krisis ekologi yang seharusnya menjadi bagian integral dari tuntutan rakyat.
Eko Cahyono menegaskan, seharusnya tuntutan 17+8 ditambah dengan isu keadilan ekologi dan agraria. Ia menyayangkan bahwa isu-isu krusial ini belum terakomodasi.
Dia juga menyoroti karakter partai politik saat ini yang cenderung seragam.
"Kalau partai politik disetirkan semuanya, gak ada bedanya kok, satu dengan yang lain. Gak ada yang sungguh-sungguh berbeda," katanya.
Baca Juga: 17+8 Tuntutan Rakyat Jadi Sorotan ISI : Kekecewaaan Masyarakat Memuncak!
Kondisi ini, menurut Eko, menyebabkan kesewenang-wenangan dan kekuasaan bisa berlaku tanpa kontrol.
Ia menekankan pentingnya membangun kekuatan oposisi kritis di luar negara untuk menyadarkan dan mengimbangi kekuatan yang ada.
Terakhir, Eko Cahyono mengajak untuk merefleksikan kembali ukuran target pembangunan yang selama ini hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, menggunakan PDB dan indeks rasio.
"Itu menurut saya, akar dari kebolehan eksplorasi, eksplorasi dan eksploitasi di alam habis-habisan," tegas Eko.
Ia menjelaskan bahwa pengejaran pertumbuhan semata telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang masif.
Eko menambahkan, di banyak negara, studi tentang pembangunan telah menunjukkan bahwa pendekatan yang hanya mengandalkan pertumbuhan dan ukuran PDB sudah usang dan gagal.
Berita Terkait
-
Respons Prabowo soal Tuntutan 17+8 : Tim Investigasi Independen OK, tapi Penarikan TNI...?
-
Menkeu Purbaya Sebut Tuntutan 17+8 Berasal dari Rakyat yang Hidupnya Kekurangan
-
Soal 17+8 Tuntutan Rakyat, Menkeu: Itu Suara Sebagian Kecil Rakyat
-
Fakta 60 Keluarga Kuasai Separuh Lahan RI, Anggota DPR Desak Pemerintah Naikkan Pajak Konglomerat
-
Gerakan 17+8 di Ujung Deadline, Fathian: Provokator Main Halus
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Jerman Jadi Banyak Maling saat Harga Minyak Dunia Menggila
-
Pemerintah Godok Skema untuk Atasi Kenaikan Harga Komoditas Global, Termasuk Plastik
-
AS - Israel Khianati Perjanjian dengan Bom Lebanon, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
-
Gedung Putih: Proposal Iran Awalnya Dibuang ke Tempat Sampah oleh AS
-
Emisi Karbon Terus Naik, Bisakah CO2 Diubah Jadi Produk Berguna?
-
Iran Mengamuk Siap Hukum Israel yang Nekat Bombardir Lebanon Saat Gencatan Senjata
-
Sidak BGN di Cimahi: Ada Dapur MBG yang Beroperasi Tanpa Pengawas Gizi
-
Misi Artemis II Hadapi Ujian Mematikan: Detik-Detik Menembus 'Neraka' Atmosfer Bumi
-
CELIOS: Ambisi Biofuel Bisa Korbankan Kedaulatan Pangan di Papua
-
Iran Bocorkan Rute Alternatif Selat Hormuz Anti Ranjau Laut