- Pengusaha Halim Kalla, adik dari Jusuf Kalla, ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi proyek PLTU 1 Kalbar
- Sebelum terseret kasus ini, Halim Kalla dikenal sebagai inovator di bidang bioskop digital, pengusaha properti, dan pionir pengembangan mobil listrik nasional
- Kasus ini bermula dari dugaan persekongkolan untuk memenangkan proyek pada 2008
Suara.com - Nama Halim Kalla, seorang pengusaha yang dikenal inovatif dan pernah menjadi pionir bioskop digital di Indonesia, kini berada di pusaran kasus korupsi raksasa. Adik dari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla ini resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipidkor) Polri dalam skandal proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 1 Kalimantan Barat.
Proyek yang mangkrak sejak 2008 ini diduga telah merugikan keuangan negara dengan nilai fantastis, mencapai total Rp1,3 triliun. Penetapan status tersangka ini menjadi ironi, mengingat rekam jejak Halim Kalla yang cemerlang di dunia bisnis dan politik.
"Ini total kerugian uang negaranya itu sekarang totalnya Rp 1,3 triliun ya. Rupanya Pak Dir (Direktur Penindakan Kortas Tipidkor) ini browsing tadi kursnya Rp 16.600 kurang lebihnya, jadi Rp 1,350 triliun," ujar Kepala Kortas Tipidkor Polri Irjen Cahyono Wibowo dalam konferensi pers, Senin (6/10/2025).
Dalam kasus ini, Halim Kalla tidak sendiri. Kortas Tipidkor juga menetapkan tiga tersangka lainnya, yaitu mantan Direktur Utama PT PLN (Persero) Fahmi Mochtar, serta dua pihak swasta berinisial RR dan HYL. Mereka diduga terlibat dalam permufakatan jahat untuk mengatur proyek sejak tahap perencanaan.
Dari Inovator ke Meja Penyidik
Lahir di Ujung Pandang pada 1 Oktober 1957, Halim Kalla membangun reputasinya sebagai pengusaha yang piawai membaca peluang. Pada 2006, ia merevolusi industri perfilman Tanah Air dengan memperkenalkan Digital Cinema System (DCS), sebuah teknologi yang mengubah total cara pembuatan dan distribusi film di bioskop.
Tak berhenti di situ, ia merambah dunia energi dan properti, hingga berinovasi di sektor kendaraan listrik melalui Haka Auto. Perusahaannya bahkan sempat memperkenalkan tiga prototipe mobil listrik—Smuth, Erolis, dan Trolis—yang digadang-gadang sebagai karya kebanggaan bangsa. Kiprahnya di panggung politik juga tercatat saat ia menduduki kursi anggota DPR RI periode 2009-2014 dari Dapil Sulawesi Selatan II.
Namun, citra inovatif itu kini dibayangi oleh dugaan korupsi proyek PLTU 1 Kalbar yang berlangsung selama satu dekade, dari 2008 hingga 2018.
"Modus operandi terjadinya tindak pidana korupsi di mana dalam prosesnya itu dari awal perencanaan, ini sudah terjadi korespondensi, artinya ada pemufakatan dalam rangka memenangkan pelaksanaan pekerjaan," jelas Cahyono.
Baca Juga: Terungkap, Ini Alasan Polri Tak Tahan Adik Jusuf Kalla di Kasus Korupsi PLTU Rp1,35 T
Akibat persekongkolan ini, proyek strategis tersebut terbengkalai. "Setelah dilakukan kontrak, kemudian ada pengaturan-pengaturan, sehingga ini terjadi keterlambatan yang mengakibatkan sampai dengan 2018, itu sejak tahun 2008-2018 dianggurin terus. Akibat dari pekerjaan itu, ini pembangunannya mangkrak sampai dengan saat ini, dan sudah dinyatakan total loss oleh BPK," sambungnya.
Kasus ini awalnya ditangani oleh Polda Kalimantan Barat sejak 2021 sebelum akhirnya diambil alih oleh Kortas Tipidkor pada Mei 2024. Keempat tersangka, termasuk Halim Kalla, dijerat dengan Pasal 2 dan/atau Pasal 3 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Meski demikian, hingga kini polisi belum melakukan penahanan terhadap para tersangka.
Berita Terkait
-
Apa Jabatan Halim Kalla? Adik Jusuf Kalla Jadi Tersangka Korupsi PLTU Rp1,35 Triliun
-
Terungkap, Ini Alasan Polri Tak Tahan Adik Jusuf Kalla di Kasus Korupsi PLTU Rp1,35 T
-
Proyek PLTU Kalbar Mangkrak, Negara Rugi Rp1,35 Triliun: Uang Lenyap, Listrik Tak Menyala
-
Jadi Tersangka Korupsi PLTU Kalbar, Kenapa Adik Jusuf Kalla hingga Eks Direktur PLN Tidak Ditahan?
-
Rekam Jejak Halim Kalla yang Jadi Tersangka Korupsi PLTU, Pernah Jadi Anggota Dewan
Terpopuler
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Drama Keluarga Halilintar Memanas! Atta Akhirnya Bicara soal Isu Aurel Diabaikan di Foto Keluarga
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
Waspada! WNA Australia Positif Campak Usai dari Bandung, Kemenkes Perketat Surveilans
-
Teror Berantai Ketua BEM UGM 2026: Kritik Kebijakan, Fitnah AI, hingga Ancaman ke Keluarga
-
Wakil Ketua Komisi VI Adisatrya Sulisto Soroti Kebijakan Impor Mobil Operasional KDKMP dari India
-
Tragedi Filisida Sukabumi: Bocah 12 Tahun Tewas di Tangan Ibu Tiri, Ini Penjelasan KPAI
-
BGN Tegaskan Tak Ada Pembagian MBG Saat Sahur, Ini Jadwalnya Selama Ramadan
-
Testimoni Wali Murid: Sekolah Rakyat Bawa Perubahan Nyata bagi Anak
-
Sinergi Kemensos dan Komisi VIII DPR Tingkatkan Layanan Korban Perdagangan Manusia
-
KPK Angkat Bicara, Inilah Alasan Utama RUU Perampasan Aset Wajib Disahkan!
-
Evakuasi Mencekam 26 Warga China di Tambang Emas Nabire Pasca Serangan KKB Aibon Kogoya
-
Menbud Fadli Zon: Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Kebudayaan Dunia dan Super Power Megadiversity