- Irine mengajak para peserta untuk meninjau gerakan rakyat tidak hanya dari permukaan, melainkan melalui konteks yang lebih luas dan komprehensif.
- Peneliti BRIN mengambil contoh reformasi 1998 di Indonesia sebagai studi kasus yang relevan.
- Irine menghubungkan gejolak sosial di Indonesia dengan krisis ekonomi global yang melanda Asia kala itu.
Suara.com - Dinamika gerakan rakyat kerap menjadi denyut nadi perubahan sosial dan politik. Namun, apa sebenarnya yang membentuk "pasang surut" partisipasi masyarakat?
Pertanyaan krusial ini menjadi sorotan utama dalam Kuliah Terbuka bertajuk "Pasang Surut-Kerakyatan" yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Alumni Driyakarya dan Suara Ibu Indonesia.
Acara ini menghadirkan sosok mumpuni sebagai pembicara utama: Irine Hiraswari Gayatri, seorang peneliti senior dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Dalam paparannya yang mendalam, Irine mengajak para peserta untuk meninjau gerakan rakyat tidak hanya dari permukaan, melainkan melalui konteks yang lebih luas dan komprehensif.
"Kalau kita pahami, itu membahas gerakan rakyat, pemahaman melalui konteks," jelasnya, membuka perspektif baru bagi para audiens pada Senin (13/10/2025).
Ia kemudian mengajak kita kembali ke masa krusial, mengambil contoh Reformasi 1998 di Indonesia sebagai studi kasus yang relevan.
Irine menghubungkan gejolak sosial di Indonesia dengan krisis ekonomi global yang melanda Asia kala itu.
"Misalnya, reformasi 98, sebelum itu berlangsung ada ekonomi krisis, di Thailand orang-orang marah, turun ke jalan," urainya, menarik benang merah yang menunjukkan bagaimana krisis ekonomi dapat menjadi pemicu gelombang protes massa yang masif di berbagai negara.
Secara tegas, Irine menggarisbawahi bahwa Reformasi 1998 adalah titik balik historis yang berhasil membuka gerbang demokrasi di Tanah Air.
Baca Juga: BRIN Jelaskan Penyebab Dentuman dan Kilatan Cahaya Langit Cirebon: Benar Meteor?
"Reformasi 98, itu membuka ruang mendemokrasi," tegasnya.
Namun, ia juga tak luput menyoroti berbagai faktor pelik yang menjadi penyebab pasang surutnya semangat kerakyatan. Ini adalah bagian krusial yang sering terlupakan dalam euforia perubahan.
"Faktornya pasang-surut kerakyatan itu banyak, salah satunya lelah situasi, enggak punya duit, enggak jadi bagian keputusan elit," ungkap Irine.
Ia mengidentifikasi tiga pilar utama: kelelahan masyarakat akibat situasi yang tak kunjung membaik, masalah ekonomi yang membelenggu, dan perasaan terasing karena tidak menjadi bagian dari pengambilan keputusan elit.
Lebih jauh, Irine menyingkap jurang pemisah antara teori dan praktik di lapangan. Seringkali, apa yang terlihat ideal di atas kertas tak sejalan dengan realitas.
"Kadang-kadang saluran yang tepat, belum tentu sesuai praktik," ujarnya.
Kuliah terbuka yang interaktif ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga memicu refleksi mendalam di kalangan alumni Driyakarya dan anggota Suara Ibu Indonesia.
Diskusi ini diharapkan dapat mendorong partisipasi aktif masyarakat sebagai pilar penting dalam menjaga dan memperkuat demokrasi.
Reporter: Safelia Putri
Berita Terkait
Terpopuler
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
- Setelah Pelatih Giliran Suporter FC Twente Usir Mees Hilgers: Pemain Malas
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- Di Bursa Capres 2029: Elektabilitas Dedi Mulyadi Tembus 42 Persen, Ungguli Prabowo
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Prakiraan Cuaca: Pekanbaru Waspada Kabut Asap, Padang Hujan Disertai Petir
-
5 Fakta Aturan Kuota Internet Dilarang Hangus, Operator Wajib Sediakan Refund
-
Review Film 27 Steps of May: Perjalanan Panjang Berdamai dengan Trauma
-
Pemulihan Bencana Butuh Rp78 Triliun, Nepal Siap Terima Bantuan Luar Negeri
-
Bisnis Properti Makin Ketat, Komponen Kecil Ini Jadi Penentu Kualitas Bangunan
-
5 Cara Membersihkan Sisa Sunscreen Waterproof dengan Sabun Cuci Muka Biasa
-
Muktamar NU Berjalan Alot, PWNU, PCNU dan PCINU Diizinkan Usul Lima Kandidat
-
ADVAN Hadirkan ADVAN V11 dan AIGEN Ultra T di AGRES.ID Karnaval Gadget Yogyakarta
-
Ulasan Film Rumah Singgah: Cerita Mengharukan tentang Kasih dan Pengorbanan
-
Antrean Mengular di SPBU Bali, Ini Janji Pertamina