- Pakar menilai Menteri Kehutanan baru tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan akibat banjir dan longsor.
- Kerusakan ekologis merupakan akumulasi praktik buruk yang terjadi selama puluhan tahun melibatkan banyak pihak.
- DPR meminta Menteri Kehutanan menindak tegas praktik ilegal logging dan pengangkutan kayu di wilayah bencana.
Suara.com - Isu kerusakan lingkungan yang dikaitkan dengan bencana banjir dan longsor di Sumatra menjadi sorotan publik dalam beberapa pekan terakhir.
Namun, sejumlah pakar menegaskan bahwa pemerintah saat ini tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas kondisi ekologis yang memburuk.
Pakar lingkungan, Mahawan Karuniasa, menyatakan bahwa Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni tidak bisa dipertanggungjawabkan secara langsung atas kerusakan alam yang terjadi saat ini. Pasalnya, Raja Juli baru menjabat sebagai Menteri Kehutanan sejak tahun lalu dan masih dalam tahap menata kebijakan di kementeriannya.
“Terkait siapa yang bertanggung jawab, menteri yang sekarang tidak bisa dilihat begitu saja. Beliau baru dipilih dan baru bekerja,” ujar Mahawan.
Mahawan menekankan bahwa meski pemerintah tetap memiliki tanggung jawab utama dalam menjaga lingkungan, persoalan kerusakan alam adalah akumulasi panjang yang melibatkan banyak pihak. Ia menyebut bahwa tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan tidak hanya berada di pundak pemerintah, tetapi juga perusahaan swasta dan masyarakat.
Menurutnya, pemerintah tetap harus melakukan pengawasan ketat terutama terhadap praktik pembalakan liar (ilegal logging) dan aktivitas perusahaan pemegang izin pengelolaan hutan.
“Pemerintah harus mengaudit kinerja perusahaan, apakah izin kehutanan mereka sesuai ketentuan. Lalu fokus pada restorasi serta pelestarian,” jelasnya.
Mahawan kemudian menyoroti bahwa praktik ilegal logging sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu, bahkan sejak era Orde Baru. Ia menyebut adanya praktik jual beli izin dan lemahnya pengawasan yang membuat pembalakan liar tumbuh subur.
“Ini bagian dari korupsi sumber daya alam yang sangat masif sejak zaman Orde Baru,” ujarnya.
Baca Juga: Polda Riau Kirim Bantuan Gelombang Keempat, 3.459 Alat Kerja Dikerahkan ke Aceh dan Sumbar
Masalah kerusakan hutan juga mendapat perhatian serius dari DPR RI. Anggota Komisi IV, Firman Soebagyo, mengingatkan bahwa kerusakan ekologis tidak terjadi dalam waktu singkat, melainkan buah dari kebijakan dan praktik buruk selama puluhan tahun.
Dalam rapat kerja bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Firman menegaskan bahwa pejabat yang baru menjabat tidak bisa menjadi kambing hitam atas kondisi hutan yang saat ini mengkhawatirkan.
“Pak Menteri ini sedang cuci piring. Kerusakan hutan ini bukan satu atau dua tahun. Setelah reformasi, hutan kita hancur,” kata Firman
Firman juga menyoroti sejumlah kebijakan, termasuk program reforma agraria, yang menurutnya turut memperparah degradasi hutan dan meningkatkan risiko bencana.
Ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi geologis Indonesia yang rawan longsor, terutama setelah ia melihat sendiri kondisi lapangan di berbagai titik.
Firman juga mengecam aktivitas pengangkutan kayu yang masih terjadi di wilayah terdampak bencana di Sumatra. Meskipun memiliki izin resmi, ia menilai kegiatan tersebut menunjukkan tidak adanya “sense of crisis”.
“Dalam situasi bencana masih ada yang angkut kayu. Saya minta kepada Pak Menteri ditindak tegas, bila perlu cabut izinnya. Itu pelecehan terhadap negara dan rakyat di Sumbar, Sumut, dan Aceh,” tegas Firman.
Berita Terkait
-
Polda Riau Kirim Bantuan Gelombang Keempat, 3.459 Alat Kerja Dikerahkan ke Aceh dan Sumbar
-
Pemkot Padang Siapkan 80 Hunian Sementara untuk Penyintas Banjir Bandang
-
Seruan Taubat Ekologi, Gus Baha Ungkap Ancaman Allah Bagi Perusak Lingkungan
-
Mengawal Tata Ruang Sumut demi Menjaga Keutuhan Ekosistem Batang Toru
-
Keren! Popok Bekas Pakai Disulap Jadi BBM, Pakai Teknologi Pirolisis yang Revolusioner
Terpopuler
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Polisi Ungkap Kronologi-Motif Wanita Bunuh Diri Pakai Senpi di Medan
-
Korset dari Kuala Lumpur: Siasat Gagal WNA Malaysia Selundupkan Sabu Rp2,7 Miliar
-
OJK Blokir 36.735 Rekening, Mayoritas Terindikasi Judi Online
-
7 Ide Lomba 17 Agustus Lucu untuk Bapak-bapak dan Ibu-ibu
-
Narasi 'Antek Asing' Disebut Warisan Hendropriyono, Dipakai Untuk Delegitimasi Kritik Publik
-
Wamendagri Wiyagus Dorong Percepatan Desa dan Kelurahan Siaga TBC di Provinsi Riau
-
Momen Akrab Prabowo dan PM Anutin, Antar Sampai Tangga Pesawat
-
Menyaksikan Lahirnya Sebuah Peradaban dari Buku Bara di Atas Demak Bintara
-
War Tiket Upacara 17 Agustus di Istana Daftar di Mana? Ini Link dan Syarat yang Dibutuhkan
-
Bukan Akar Masalah! Pencopotan 137 Kepala Dapur SPPG Tak Perbaiki Program MBG