- Dr. Tifa mengklaim perbedaan mencolok antara dua kelompok foto masa muda Jokowi menggunakan analisis matematika dan anatomi klinis.
- Investigasi saintifik ini melibatkan 17 variabel morfologi wajah dan metode seperti Teorema Bayesian serta FACS.
- Hasil perhitungan menunjukkan tingkat kemiripan kedua kelompok foto tersebut hanya sekitar satu persen, mengindikasikan dua individu berbeda.
Suara.com - Dokter Tifauzia Tyassuma alias dr. Tifa, kembali melontarkan pernyataan mengejutkan terkait keabsahan foto-foto masa muda mantan Presiden Joko Widodo atau Jokowi.
Dengan menggunakan pendekatan matematika dan anatomi klinis, ia mengklaim bahwa terdapat perbedaan mencolok antara dua kelompok foto Jokowi yang selama ini diyakini sebagai orang yang sama.
Dokter Tifa menjelaskan bahwa dirinya menggunakan latar belakang ilmunya sebagai epidemiologist yang ia sebut sebagai "matematikanya kedokteran" untuk melakukan investigasi saintifik terhadap dokumentasi foto tersebut.
Dia mengungkapkan, bahwa ia tidak hanya melihat foto secara kasatmata, melainkan menggunakan metode penghitungan presisi.
Beberapa metode yang digunakan antara lain Teorema Bayesian serta Facial Action Coding System (FACS).
"Saya menggunakan 17 variabel anatomi morfologi wajah yang diekstrapolasikan ke dalam hitungan matematika. Mulai dari rasio panjang wajah, sudut mandibula, lebar rahang, jarak lipatan mata, posisi telinga, hingga hairline pattern," ujar Dr. Tifa, dikutip dari siniar kanal Youtube Bambang Widjojanto, Kamis (8/1/2026).
Menurutnya, variabel-variabel tersebut sudah dikunci dalam sebuah rumus matematika untuk membandingkan dua subjek dalam foto yang berbeda.
Dalam risetnya, dokter Tifa melakukan "exercise" atau uji coba membandingkan dua kelompok foto yang diklaim sebagai Joko Widodo saat muda.
Kelompok pertama adalah foto pemuda berkacamata, berkumis, dengan bentuk hidung dan bibir tertentu.
Baca Juga: Dokter Tifa Bongkar 6 Versi Ijazah Jokowi, Sebut Temuan Polda Blunder
Kelompok kedua adalah foto pemuda tanpa kacamata dengan fitur wajah yang dianggap berbeda secara signifikan. Hasil dari perhitungan rumus tersebut menurutnya sangat kontras.
Ternyata tingkat kemiripannya hanya 1 persen. Perbedaan antara kedua kelompok foto itu mencapai 99,71 persen. Secara matematika, itu adalah dua orang yang berbeda," tegasnya.
Ia bahkan menganalogikan temuan ini dengan istilah emas.
"Kalau ada emas 24 karat, ini adalah palsu 24 karat karena tingkat kemiripannya di bawah 1 persen. Matematika itu ilmu yang tidak bisa didebat, ia adalah hulu dan hilirnya sains," tambahnya.
Dr. Tifa juga menyayangkan sikap aparat penegak hukum yang menurutnya belum mengoptimalkan scientific investigation atau penyidikan berbasis sains dalam menangani kasus ini.
"Sayang sekali polisi tidak menggunakan ilmu kami. Padahal ini adalah kompetensi yang kami uji bertahun-tahun melalui riset empirik," tuturnya.
Dia berharap hasil temuan matematis dan anatomi ini dapat menjadi landasan bagi publik dan aparat untuk melihat persoalan ijazah dan identitas ini secara lebih transparan dan ilmiah. (Tsabita Aulia)
Berita Terkait
-
Dokter Tifa Bongkar 6 Versi Ijazah Jokowi, Sebut Temuan Polda Blunder
-
SBY dan Hoax Ijazah Jokowi, Manuver Demokrat di Pusaran Politik Digital
-
Akhirnya! Demokrat Polisikan Akun Medsos Penuding SBY Dalang Isu Ijazah Palsu Jokowi
-
Demokrat Akhirnya Polisikan Akun-akun Medsos yang Diduga Fitnah SBY Soal Isu Ijazah Jokowi
-
Serasa Magang saat Jabat Menhan, Prabowo Ungkap Alasan Boyong Menteri Jokowi ke Kabinet
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
Pilihan
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
Terkini
-
Balas Pledoi Kerry Riza, Jaksa Minta Hakim Tolak Seluruh Pembelaan Anak Riza Chalid
-
Lasarus Klarifikasi Soal Penutupan Gerai Alfamart-Indomaret: Bukan Ditutup, Tapi Dibatasi
-
Penampakan Before-After TNI Bersihkan Lumpur di Rumah Warga Terdampak Bencana di Aceh
-
Update RUU PPRT dan Revisi UU Ketenagakerjaan di DPR, Partisipasi Publik Digelar Mulai 15 Maret
-
Tragis! Ibu di Sumbawa Tega Bakar Anak Gegara Tolak Cari Pakan Ternak
-
Update RUU Perampasan Aset, Dasco: Komisi III Sedang Belanja Masalah dan Susun Draf RUU
-
Aksi Koboi Curanmor di Tanjung Duren Terekam CCTV, Polisi Ringkus Dua Pelaku
-
Pembangunan Huntap di Tapanuli Terus Berjalan, Kerangka Rumah dan Batu Bata Tersusun Rapi
-
TNI dan Warga Gotong Royong, Tempat Ibadah, dan Sekolah di Tapanuli dan Aceh Kinclong Lagi
-
Eros Djarot Kritik Pedas Kondisi Bangsa: Indonesia Menjadi Nation Without Values