- Lemhannas menyerahkan kajian rahasia mengenai Pilkada kepada Presiden Prabowo Subianto pada Selasa (13/1/2026).
- Kajian tersebut bertujuan mengevaluasi efektivitas sistem Pilkada langsung yang sudah berjalan selama hampir dua dekade.
- Dasar kajian adalah perlunya perbaikan sistem demi menghasilkan kepala daerah berkualitas dan efektif melayani publik.
Suara.com - Wacana untuk mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah (Pilkada) ke tangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kini memasuki babak baru yang lebih serius.
Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) secara resmi mengonfirmasi telah menyerahkan sebuah kajian komprehensif terkait isu ini langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.
Langkah strategis dari lembaga think tank pemerintah ini sontak menjadi sinyal kuat bahwa evaluasi terhadap sistem Pilkada langsung yang telah berjalan selama belasan tahun kini menjadi prioritas di tingkat tertinggi pemerintahan.
Namun, isi dari kajian tersebut masih menjadi misteri yang rapat tertutup.
Gubernur Lemhannas, Ace Hasan Syadzily, menegaskan bahwa dokumen tersebut bersifat rahasia dan merupakan masukan strategis yang ditujukan khusus untuk Presiden.
"Kajian itu sesuai dengan tupoksinya, telah kami serahkan ke Bapak Presiden. dan itu sifatnya rahasia, kami tidak bisa ungkapkan terkait kajian tersebut," kata Ace Hasan Syadzily saat konferensi pers di gedung Lemhannas, Jakarta Pusat, Selasa (13/1/2026).
Meskipun enggan membeberkan detail rekomendasi yang diberikan kepada Presiden Prabowo, Ace memberikan gambaran besar mengenai landasan pemikiran di balik kajian tersebut.
Menurutnya, sudah saatnya Indonesia melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem Pilkada langsung yang telah diimplementasikan selama hampir dua dekade.
Evaluasi ini, kata Ace, menjadi sebuah keniscayaan untuk mengukur efektivitas, efisiensi, dan dampak yang dihasilkan dari sistem pemilihan yang menyedot anggaran besar dan kerap menimbulkan polarisasi sosial di tingkat lokal.
Baca Juga: Tolak Pilkada Lewat DPRD, PDIP Mulai Lobi Fraksi Lain di Parlemen
"Sudah hampir berlangsung 15 tahun kita melakukan pilkada secara langsung, rasanya memang perlu untuk dilakukan perbaikan dari aspek, prosedur, sistem maupun nanti hasilnya sehingga nanti kita bisa menghasilkan kepala daerah yang baik," jelas Ace sebagaimana dilansir kantor berita Antara.
Hasil dari evaluasi mendalam inilah yang akan menjadi penentu, apakah sistem pemilihan langsung oleh rakyat layak dipertahankan dengan perbaikan, atau justru kembali ke mekanisme pemilihan melalui DPRD adalah opsi yang lebih rasional.
Lebih jauh, Ace Hasan menepis kekhawatiran bahwa kembalinya Pilkada ke DPRD akan mencederai atau bahkan membunuh demokrasi.
Ia berpandangan bahwa esensi demokrasi adalah menghasilkan kepemimpinan yang berkualitas dan mampu melayani publik dengan baik. Jika perubahan sistem dapat mencapai tujuan tersebut, maka nilai demokrasinya tidak akan tergerus.
"Evaluasi ini dilakukan upaya kualitas kepemimpinan termasuk di antaranya kepala daerah, itu betul betul bisa dihasilkan dari proses demokrasi yang baik," jelas Ace.
Wacana ini sendiri bukanlah hal baru, namun dengan adanya kajian resmi dari Lemhannas yang kini berada di meja Presiden Prabowo, perdebatan publik diprediksi akan kembali memanas.
Berita Terkait
-
Tolak Pilkada Lewat DPRD, PDIP Mulai Lobi Fraksi Lain di Parlemen
-
Tegas Tolak Pilkada Lewat DPRD, Sikap PDIP Dinilai Tak akan Banyak Mengubah Arah
-
Tak Hanya PDIP, Komisi II DPR Klaim Bakal Tampung Usulan Golkar hingga Gerindra Soal Model Pilkada
-
Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD, PDIP Intens Lobi Partai Lain di Parlemen
-
PDIP Tolak Pilkada Lewat DPRD, Megawati: Bertentangan dengan Putusan MK dan Semangat Reformasi
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
Pilihan
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
Terkini
-
Rismon Bantah Terima Uang Damai Kasus Ijazah Jokowi, Sebut Tuduhan Tak Masuk Akal
-
RUU PPRT Belum Tuntas usai 22 Tahun, Koalisi Minta Presiden Segera Ambil Sikap
-
Stok Bensin dan Gas LPG Aman? Simak 5 Fakta Indonesia Borong Minyak Rusia
-
Sambil Dekap Buku Jokowis White Paper, Rismon Mengaku Bisa Tidur Nyenyak usai SP3
-
YouTube Hapus Video Lego Kritik Trump, Iran Murka: Pembungkaman Ala Barat
-
Antisipasi Lonjakan ISPA, Sudinkes Jaksel Siagakan Puluhan Fasilitas Kesehatan dan Kader
-
Dunia Sibuk dengan Perang AS-Iran, Korut Diam-diam Percepat Produksi Bom Nuklir
-
Warga Terkaya Tercatat Penerima JKN Bersubsidi, Menkes Janji Benahi Data
-
AS Blokade Selat Hormuz, China-Rusia Bersatu Tekan Washington
-
Wamendagri: Penyusunan Anggaran Daerah harus Selaras dengan RKPD