- Anggota Komisi X DPR RI, Amure, menyesalkan kekerasan antara oknum guru dan murid SMK di Tanjung Jabung Timur, Jambi.
- Amure mengkritik keras perekaman dan penyebaran video konflik tersebut, menekankan penyelesaian melalui musyawarah lebih beradab.
- Peristiwa ini mendesak pemangku kepentingan serius membangun karakter serta kecerdasan emosional siswa, bukan hanya akademik.
Suara.com - Anggota Komisi X DPR RI, Andi Muawiyah Ramly atau yang akrab disapa Amure, memberikan tanggapan keras terkait video viral aksi kekerasan antara oknum guru dan sejumlah murid di sebuah SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi.
Ia menegaskan bahwa sekolah seharusnya menjadi ruang aman, bukan tempat pelampiasan emosi.
Amure menyatakan keprihatinannya atas hilangnya nilai-nilai empati dan akhlak dalam ekosistem pendidikan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh kedua belah pihak.
"Terlepas dari apa motifnya, saya sangat menyesalkan insiden saling serang, saling pukul, saling tonjok-tonjokan antara guru dan murid. Itu sama sekali bukan cerminan akhlak pendidikan yang baik. Tidak nampak adanya empati, akhlak, dan solidaritas yang seharusnya tercermin di dunia pendidikan kita,” tegas Amure di Jakarta, dikutip Jumat (16/1/2026).
Selain menyayangkan kekerasan fisik yang terjadi, pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini juga mengkritik keras aksi perekaman dan penyebarluasan video tersebut ke media sosial.
Menurutnya, penyelesaian masalah melalui jalur musyawarah jauh lebih beradab dibandingkan mempertontonkan konflik di ruang publik.
"Satu lagi yang tidak kalah penting, jaga betul etika dalam menggunakan gadget. Saya tidak tahu apa motif perekam itu dan mengapa diposting ke media sosial. Kalau ada insiden seperti ini, jauh lebih baik diselesaikan dengan musyawarah, melalui mekanisme sekolah dan orang tua, bukan malah dipertontonkan ke publik,” ujarnya.
Ia menilai budaya memviralkan konflik hanya akan memperkeruh suasana dan memberikan contoh buruk bagi para siswa dalam mencari solusi atas sebuah permasalahan.
Bagi Amure, peristiwa ini harus menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa pendidikan karakter dan kecerdasan emosional sama pentingnya dengan prestasi akademik.
Baca Juga: Beroperasi Cuma Dua Hari, Pasar Rakyat di Muaro Jambi ini Langsung Terbengkalai
Ia mendesak adanya pembenahan sistem agar ruang kelas tidak kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
“Ini menjadi alarm keras bagi kita semua. Pendidikan jangan hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus serius membangun karakter, kecerdasan emosional, dan etika digital. Jika ruang kelas kehilangan nilai kemanusiaan dan kebijaksanaan, maka yang kita wariskan adalah kegagalan,” katanya.
Ia menekankan bahwa penyelesaian persoalan ini tidak cukup hanya dengan tindakan represif, melainkan harus menyentuh akar permasalahan dalam relasi antara pendidik dan peserta didik.
“Pendekatan represif semata tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah pembenahan sistem, penguatan nilai, dan kesadaran kolektif bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia,” pungkasnya.
Berita Terkait
-
Beroperasi Cuma Dua Hari, Pasar Rakyat di Muaro Jambi ini Langsung Terbengkalai
-
Haru Pengukuhan Guru Besar Zainal Arifin Mochtar, Tangis Pecah Kenang Janji pada Sang Ayah
-
Hadiri Pengukuhan Guru Besar UGM, Jusuf Kalla: Sikap Kritis Penting dalam Demokrasi
-
Presiden Prabowo Kumpulkan Rektor dan Guru Besar di Istana, Ini Isu yang Dibahas
-
Sentil Pejabat Perlu Terbiasa Diroasting, Uceng: Kuping Negara Tak Boleh Tipis
Terpopuler
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 5 Tinted Sunscreen yang Bagus untuk Flek Hitam dan Melasma
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Luncurkan Buku, Sekjen Golkar Sarmuji Tegaskan Politik Harus Menolong Rakyat
-
Apa Isi Piagam ASEAN? Disinggung China Terkait Izin Terbang Militer AS di Wilayah Indonesia
-
16 Mahasiswa IPB Diskors Usai Terbukti Lakukan Kekerasan Seksual
-
Legislator DKI Hardiyanto Kenneth Endus Praktik 'Parkir Gelap' di Mal Jakarta
-
Natalius Pigai Desak Pelaku Penembakan 15 Warga Papua Menyerah: Jangan Sembunyi!
-
Berlangsung Masif dan Meluas, Komnas HAM Belum Temukan Dalang Kerusuhan Demo Agustus 2025
-
Nus Kei Dibunuh karena Dendam Lama, Dua Pelaku Terancam Hukuman Mati
-
Bareskrim Siap Miskinkan Mafia Haji dan Umrah, Aset Disita Pakai Pasal TPPU
-
Jangan Tergiur Promo Medsos, 20 Laporan Penipuan Haji dan Umrah Masuk Kemenhaj Tiap Hari
-
Eks Kadis LH DKI Jadi Tersangka Longsor Maut Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang