News / Nasional
Senin, 19 Januari 2026 | 11:40 WIB
Ilustrasi Kampung Starling di Jalan Prapatan Baru, RT 01 RW 05, Kelurahan Senen. (Suara.com)
Baca 10 detik
  • Kampung Starling di Senen, Jakarta, adalah pusat komunitas 250 kepala keluarga pedagang kopi keliling dengan sistem agen mandiri.
  • Komunitas ini bertransformasi sejak 2009, berawal dari pedagang kopi yang kucing-kucingan, kini didukung toko kelontong sebagai stokis.
  • Warga kampung ini hidup di bawah ancaman penggusuran karena lahan mereka berstatus Hak Guna Bangunan milik Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta.

Suara.com - DI BALIK deretan gedung pencakar langit yang membelah pusat Jakarta, tepat di samping Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, sebuah denyut kehidupan unik berdetak kencang.

Inilah Kampung Starling, sebuah oasis bagi para pejuang "cuan" recehan yang menjadi urat nadi kafein bagi warga ibu kota.

Terletak di Jalan Prapatan Baru, RT 01 RW 05, Kelurahan Senen, kawasan yang dikunjungi wartawan Suara.com ini menyambut siapa pun dengan gapura merah ikonik. Tulisan "Selamat Datang Komunitas Pedagang Kopi Keliling" di puncaknya menjadi proklamasi bahwa Anda sedang memasuki "wilayah kekuasaan" para ksatria Starbucks Keliling alias Starling.

Begitu melewati bibir gang, realita pemukiman padat langsung menyergap. Tumpukan sampah dan deretan gerobak PKL yang berjejal di kedua sisi jalan membuat lorong terasa sesak.

Namun melangkah lebih dalam, Anda akan melihat pemandangan yang tak ada di tempat lain: barisan sepeda modifikasi yang siap "tempur".

Di atas jok belakang, kotak-kotak kayu memajang ratusan sachet minuman instan warna-warni. Di sampingnya, botol mineral dan termos-termos besar berisi air panas tampak bersiaga, siap melayani dahaga para pekerja kantoran hingga supir angkutan di aspal Jakarta.

Guyub di Tengah Gang Sempit

Suasana di dalam kampung terasa sangat hangat dan guyub. Di tengah gang sempit, para pedagang sibuk dengan ritual sebelum "narik": menata dagangan, mengisi ulang air panas, atau sekadar bertukar tawa.

Toko-toko kelontong di sini bukan sekadar warung, melainkan jantung penyedia stok bagi sekitar 250 kepala keluarga yang menggantungkan hidup dari kopi sepeda.

Baca Juga: Fahri Hamzah: Pilkada Lewat DPRD Diskusi Efisiensi, Jangan Terlalu Curigai Prabowo

Sebagai pendatang, kehadiran saya langsung mencuri perhatian. Di sini, semua orang saling mengenal. Seorang perempuan berusia 30-an menyapa saya dengan ramah namun penuh selidik.

"Mau ke mana, mas?," tanyanya.

"Mau ke tempat RT, di sebelah mana ya?," sahut saya.

Kediaman "orang nomor satu" di kawasan itu berada di ujung gang—titik akhir yang berbatasan langsung dengan aliran Kali Ciliwung. Di sana, saya bertemu Iwan, Ketua RT 01 yang menyambut dengan tangan terbuka sebelum mulai membedah sejarah panjang kampung ini.

Ilustrasi pedagang kopi keliling. (Suara.com/Adiyoga)

Dari Kucing-kucingan Menjadi Komunitas

Dahulu, Kampung Starling hanyalah pemukiman biasa di bantaran kali. Menariknya, meski berada di pinggir sungai, wilayah ini relatif aman dari amukan banjir.

"Kan ini alirannya ngelewatin Istana, jadi ya pengelolaannya lebih ketat," tutur Iwan.

Titik balik terjadi pada 2009. Kampung ini bertransformasi menjadi hunian sekaligus pusat berkumpulnya pedagang kopi sepeda. Awalnya, mereka adalah para pedagang yang kerap kucing-kucingan dengan Satpol PP di jalanan protokol.

"Dari yang dagang Teh Botol itu awalnya," beber Iwan.

Atas dasar solidaritas, para pedagang ini akhirnya diberikan ruang untuk menetap.

"Akhirnya jadi pada ngajakin temen-temennya ke sini," jelasnya singkat.

Cerita juga datang dari Salim, seorang pedagang yang saya temui di sela kegiatannya di kawasan Menteng. Sambil merapikan termos panas di boncengan sepedanya, lelaki paruh baya itu membenarkan bahwa ada bantuan seorang petinggi Marinir untuk para pedagang dari Madura itu menetap di sana.

"Di sana kan memang ada Marinir, akhirnya dibantu," tutur Salim dengan nada penuh hormat.

Kini, mereka semakin terorganisir. Sebuah produsen kopi besar bahkan melirik potensi ekonomi di sini.

"Kapal Api tertarik sponsorin. Akhirnya jadi lah, dibuat gapura yang di depan itu. Saya pikir awalnya ada kontraknya, misal 5 tahun atau gimana. Niatnya, habis itu gapuranya mau saya bikin jadi apa lah, gitu. Ternyata malah bertahan sampai lama," kenang Pak Iwan.

Ketangguhan Ekonomi di Balik Label 'Kumuh'

Kampung Starling adalah potret nyata ketangguhan ekonomi akar rumput. Di sini berlaku sistem agen yang mandiri. Toko kelontong berperan sebagai distributor besar bagi para pedagang.

"Sistemnya agen. Jadi kayak dari satu toko, nyiapin stok buat 10 orang, 20 orang," papar Pak Iwan.

Namun, hidup di bawah naungan komunitas bukan tanpa aturan. Salim menjelaskan ada dua jalur yang biasanya diambil para pedagang.

Mereka yang bernaung di bawah agen memiliki keterikatan yang ketat. Ada sistem setoran harian yang wajib dipenuhi. Setoran itu bukan sekadar biaya operasional, tapi juga standar penilaian kinerja sekaligus biaya sewa tempat tinggal.

Dunia ini keras. Salim menceritakan sisi kelam dari sistem tersebut. "Kalau yang nilainya (setoran) kurang, ada yang pernah sampai diusir," bisiknya.

Meski tak menyebut angka pasti, Salim memberi gambaran bahwa setoran itu berkisar di angka puluhan ribu Rupiah setiap harinya.

Salim pribadi adalah salah satu pedagang mandiri yang tidak terikat agen. Dengan status ini, ia bebas menentukan dari mana stok dagangannya berasal.

"Kalau yang kayak saya gini, mau ambil di agen boleh, mau stok sendiri boleh," terangnya.

Status sebagai pedagang mandiri juga membuat Salim harus menanggung sendiri biaya sewa hunian di sana setiap bulan.

"Saya Rp500 ribu per bulan, itu juga di lantai atas. Kalau yang bawah, paling murah Rp600 ribu," kisah Salim, sembari menggambarkan hunian berjenis kontrakan satu petak menyerupai kamar kos yang ia tempati.

Salim memilih berbelanja langsung ke pasar tradisional daripada mengambil dari distributor resmi di gangnya, karena alasan perbedaan harga.

"Ya misalnya beda Rp1.000 saja per renceng, kalau dikali banyak kan lumayan juga selisihnya," jelasnya logis. Bagi Salim, selisih seribu perak adalah penyambung nyawa yang sangat berarti.

Perputaran uang di gang sempit ini sangatlah masif. Warga pun tegas menolak gambaran kawasan kumuh yang sering disematkan ke wilayah mereka tinggal, kendati memang tingkat kepadatannya tak terelakkan lagi.

"Ya namanya kawasan padat penduduk, mau di Jakarta sebelah mana juga sama aja kan kelihatannya? Tapi di sini, roda perputaran ekonominya kenceng," klaim Pak Iwan. Ia pun sempat menyayangkan beberapa informasi miring yang beredar tentang kampungnya. "Emang banyak yang pada ngawur aja ceritanya," tuturnya dengan tawa kecut.

Ilustrasi pedagang kopi keliling. (Suara.com/Adiyoga)

Bayang-bayang Penggusuran

Di balik hiruk-pikuk ekonomi itu, ada kecemasan yang membayangi setiap dinding rumah. Bagi warga, tanah yang mereka pijak adalah pinjaman yang sewaktu-waktu bisa ditarik kembali.

"Tanah di sini tuh punya Dinas Perairan. Kalau sama BI, kami malah nggak takut. Kampung sini sudah duluan ada ketimbang BI," kisah Pak Iwan.

Status Hak Guna Bangunan (HGB) di atas lahan milik Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta bagaikan pedang Damocles yang menggantung di atas kepala mereka. Ketidakpastian adalah menu sarapan sehari-hari.

"Memang ada undang-undangnya. HGB itu sampai 30 tahun, perpanjang 20 tahun, pembaruan 30 tahun," kata Iwan. Sewaktu-waktu, negara bisa mengambil lahan ini untuk normalisasi sungai atau ruang terbuka hijau. "Itu yang kami khawatirkan setiap waktu," tambahnya pasrah.

Bukan hanya soal lahan hijau, instansi di sekitar pun kerap melirik wilayah mereka. "Dari PLN situ pernah, mau buka akses buat mereka biar di sana nggak macet, yang di Gambir. Kemendag juga pernah, di sini mau dibuat lahan parkiran mereka. Itu belakang juga, Marinir, kalau akses ke sini dibuka, selesai," cerita Iwan.

Salim pun mengamini situasi di lingkungan tinggalnya yang rawan tergusur kapan saja. "Saya lupa, tapi emang udah beberapa kali," ungkapnya mengenang upaya penggusuran di sana.

Bedanya, Salim optimis lolos dari pengusiran paksa karena hubungan baik para "petinggi" komunitas pedagang kopi keliling dengan jenderal-jenderal Marinir di sana. "Ya, aman lah," kata dia.

Ritual Lima Tahunan: Musim Janji dan Harapan Semu

Ketidakpastian ini mencapai puncaknya setiap lima tahun sekali. Menjelang Pemilu atau Pilkada, Kampung Starling mendadak "berbunga" poster politik. Wajah-wajah necis dengan senyum lebar menghiasi setiap sudut gang, menjanjikan keamanan dari relokasi.

"Saya udah berapa kali," celoteh Iwan mengenai kunjungan para politisi.

Namun, Iwan dan warga sudah hafal skenarionya. Begitu tinta di jari memudar, mobil-mobil mewah itu tak lagi terlihat di mulut gang. Harapan yang sempat membumbung tinggi pun menguap bersama asap termos kopi.

"Ya sudah pada lupa. Kami coba WhatsApp aja udah nggak dibaca," cibir Iwan sembari terkekeh.

Jika relokasi benar-benar terjadi, warga hanya bisa membayangkan rusun sebagai tempat pelarian terakhir. Namun, satu pertanyaan besar tetap mengganjal: "Relokasi ya paling ke rusun. Mencukupi kebutuhan hariannya gimana?," tanya Iwan retoris.

Load More