- Jaksa ungkap terjadi kemahalan harga pengadaan Chromebook Kemendikbudristek periode 2020 hingga 2022.
- Metode e-katalog tanpa kontrol kementerian membuat harga ditentukan sepihak oleh penyedia barang.
- Pengadaan tahun 2022 terindikasi konsolidasi harga yang sengaja ditutup-tutupi sebagai rahasia perusahaan.
Suara.com - Sidang dugaan korupsi program digitalisasi pendidikan melalui pengadaan laptop Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) kembali digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta. Sidang kali ini beragenda pemeriksaan saksi untuk terdakwa Ibrahim Arief alias Ibam dan Sri Wahyuningsih.
Jaksa Penuntut Umum (JPU), Roy Riyadi, mengungkapkan bahwa berdasarkan keterangan saksi, ditemukan adanya kemahalan harga yang signifikan pada pengadaan laptop Chromebook tahun anggaran 2020, 2021, dan 2022.
Roy menjelaskan bahwa kemahalan harga tersebut dipicu oleh metode pengadaan melalui online shop e-katalog. Menurutnya, harga pada sistem tersebut tidak terkendali karena ditentukan sepenuhnya oleh pihak penyedia.
“LKPP menyatakan ada kemahalan harga pada tahun 2020, 2021, dan 2022. Pada tahun 2020, metode pengadaannya menggunakan online shop e-katalog yang harganya tidak terkendali karena ditentukan sepihak oleh penyedia,” ujar Roy di sela skors sidang, Selasa (10/2/2026).
Roy menegaskan bahwa pihak kementerian seharusnya memiliki kewajiban untuk mengontrol dan melakukan negosiasi agar harga tetap wajar. Kondisi serupa berlanjut pada tahun 2021, di mana penetapan harga oleh Kemendikbudristek tidak melibatkan LKPP.
“Di tahun 2021, penetapan harga hanya melibatkan pihak penyedia dan prinsipal tanpa melibatkan LKPP. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) seharusnya melakukan kontrol harga jika ditemukan kemahalan, bukan sekadar mengikuti harga di e-katalog,” tambahnya.
Lebih lanjut, Roy mengendus adanya indikasi konsolidasi pengadaan pada tahun 2022. Langkah konsolidasi ini dicurigai muncul karena evaluasi harga pada dua tahun sebelumnya yang dinilai cenderung tidak wajar atau terlalu tinggi oleh pihak LKPP.
“Pihak LKPP menyebut harga tahun 2020 dan 2021 itu 'kurang baik' atau mahal. Hal ini terjadi karena metodenya menyerahkan tanggung jawab harga kepada penyedia tanpa kontrol ketat dari kementerian sebagai pemilik proyek,” jelas Roy.
Roy juga menyayangkan sikap tertutup dari pihak-pihak terkait saat dilakukan audit atau pengecekan harga sebenarnya pada tahun 2022.
Baca Juga: Takut Tidak Jalankan Perintah, Pengakuan Mengejutkan Saksi Soal Sosok Jurist Tan di Kasus Nadiem
“Saat konsolidasi harga di 2022, mereka tidak memberikan data harga yang sebenarnya dengan alasan rahasia perusahaan,” pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 30 Kode Redeem FF 25 Maret 2026: Klaim Bundle Panther Gratis dan Skin M14 Sultan Tanpa Top Up
- 5 Rekomendasi HP Samsung Terbaru Murah dengan Spek Gahar, Mulai Rp1 Jutaan
- 10 Potret Rumah Baru Tasya Farasya yang Mewah, Intip Detail Interiornya
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Satu Mobil ke Bandara, Prabowo Antar Langsung Anwar Ibrahim Tinggalkan Indonesia
-
Stok Tomahawk Menipis, Operasi Militer AS di Iran Picu Kekhawatiran
-
Mundurnya Yudi Abrimantyo dari Kepala BAIS Dinilai Tamparan untuk Elite
-
Kematian Pekerja Tambang di Morowali Disorot DPRD, Diminta Diusut Tuntas
-
Kabar Duka, Tokoh Agama dan Juru Damai Konflik Poso Ustad Adnan Arsal Wafat
-
'Ini Terakhir Kali Saya ke Jakarta': Curahan Hati Perantau yang Balik Kampung Demi Jaga Sang Putri
-
Gus Ipul Dukung Narapidana Dapat Bansos PBI, Kemensos Siap Tindak Lanjut
-
Tiga Jam Bertemu di Istana hingga Antar ke Bandara, Ini Obrolan Presiden Prabowo dan PM Anwar
-
Dorong Penyaluran Bantuan di Tapteng, Kasatgas Tito Tekankan Percepatan Pendataan
-
12 Tahun Transjakarta: Layani 1,4 Juta Penumpang per Hari, Cakupan Tembus 92,5 Persen Jakarta