News / Internasional
Selasa, 10 Maret 2026 | 11:02 WIB
Serangan Israel ke depot minyak Iran memicu hujan asam beracun dan krisis kesehatan bagi warga.
Baca 10 detik
  • Serangan udara Israel ke depot minyak Teheran menyebabkan polusi udara ekstrem dan hujan asam.

  • Warga mengalami gangguan pernapasan serta iritasi mata akibat gas beracun dari kebakaran minyak.

  • Pakar kesehatan memperingatkan risiko kanker dan penyakit jantung bagi penduduk yang terpapar polutan.

Suara.com - Ibu kota Iran Teheran kini sedang dibalut kecemasan luar biasa akibat polusi udara ekstrem yang menyelimuti seluruh kota.

Awan hitam pekat nampak menggantung rendah setelah jet tempur Israel menghantam instalasi penyimpanan bahan bakar strategis.

Operasi militer yang berlangsung pada Sabtu malam tersebut menargetkan infrastruktur yang diklaim sebagai penyokong kekuatan militer Teheran.

Dampaknya tidak hanya merusak fasilitas energi, namun juga meracuni ruang hidup jutaan warga sipil di sekitarnya.

Jalanan yang biasanya sibuk kini tertutup lapisan debu gelap yang sangat mengganggu aktivitas harian penduduk setempat.

Lendir hitam dilaporkan menempel pada area balkon rumah warga sementara udara di luar ruangan menjadi sangat berbahaya.

Laporan dari media internasional menggambarkan pemandangan kota yang mencekam layaknya sebuah akhir zaman yang nyata.

Kegelapan menyelimuti kota pada siang hari sehingga lampu-lampu kendaraan dan rumah terpaksa dinyalakan lebih awal.

Setidaknya terdapat empat pusat penyimpanan bahan bakar serta satu titik logistik yang hancur akibat serangan udara tersebut.

Baca Juga: Chappy Hakim: Perang AS-Israel vs Iran Bisa Berhenti Jika 3 Pihak Ini Bergerak

Pemerintah setempat mengonfirmasi bahwa insiden maut ini telah merenggut sedikitnya enam nyawa dan melukai 20 orang.

Kondisi lingkungan semakin memburuk ketika hujan mulai mengguyur wilayah tersebut pada Minggu pagi (8/3/2026) setelah ledakan.

Otoritas lingkungan segera mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi jatuhnya hujan asam yang membawa zat kimia berbahaya.

Dikutip dari The Guardian, seorang aktivis dengan nama samaran Negin mengungkapkan penderitaan warga melalui pesan suara kepada media asing.

Meskipun udara sangat beracun, sebagian masyarakat tidak memiliki pilihan selain tetap beraktivitas di luar ruangan.

Beberapa sektor usaha sempat mencoba beroperasi kembali namun segera tutup karena kualitas udara yang tidak tertahankan.

Kebutuhan akan alat pelindung diri seperti masker dan alat bantu pernapasan kini melonjak drastis di pasar lokal.

Negin menekankan bahwa saat ini masyarakat sangat membutuhkan perhatian dunia internasional atas apa yang mereka alami.

Rasa takut yang mencekam membuat banyak warga teringat akan masa-masa sulit saat pandemi global melanda beberapa tahun lalu.

Seorang pengusaha kuliner bernama Mehdi menyatakan bahwa warga kini sangat waspada terhadap segala bentuk kontak fisik.

Ketidakpastian ini memicu keinginan sebagian penduduk untuk mengungsi demi menghindari kontaminasi pada sumber air.

Warga merasa pasrah karena merasa tidak mendapatkan perlindungan yang cukup dari pihak penguasa maupun bantuan luar.

Instansi Lingkungan Hidup di Iran secara resmi telah meminta warga Teheran untuk tidak melakukan aktivitas luar ruang.

Palang Merah setempat juga memberikan edukasi mengenai bahaya iritasi kulit kronis akibat paparan zat kimia di udara.

Penduduk dilarang keras mengoperasikan sistem pendingin udara yang dapat menyedot polutan dari luar ke dalam rumah.

Saran medis juga menekankan agar warga tidak langsung keluar rumah sesaat setelah hujan turun untuk menghindari racun.

Shahram Kordasti, seorang ahli kesehatan dari Inggris, menyebutkan bahwa partikel halus ini bisa masuk ke aliran darah.

Polutan yang dilepaskan dari kebakaran depot minyak memiliki karakteristik yang sangat merusak bagi sistem pernapasan manusia.

Paparan gas beracun secara terus-menerus dapat memicu kambuhnya penyakit asma serta memperburuk kondisi jantung pasien.

Lebih mengkhawatirkan lagi, partikel ultra-mikroskopis tersebut diketahui mampu meningkatkan risiko terbentuknya sel kanker di masa depan.

Kebakaran kilang minyak secara ilmiah selalu membawa dampak ekologis yang jauh lebih luas daripada sekadar kerugian materi.

Para ilmuwan lingkungan memperingatkan bahwa senyawa organik volatil atau VOC kini sedang beterbangan bebas di atmosfer Teheran.

Selain partikel debu, terdapat kandungan nitrogen oksida dan sulfur dioksida yang sangat pekat di langit Iran saat ini.

Zat-zat kimia tersebut jika bereaksi dengan air akan menciptakan larutan asam yang merusak jaringan kulit dan tanaman.

Penelitian global menunjukkan bahwa lonjakan polusi mendadak seperti ini adalah pembunuh senyap bagi kelompok usia rentan.

Anak-anak dan lansia di Teheran menjadi kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi kesehatan permanen akibat insiden ini.

Serangan ini membuktikan bahwa sabotase energi memiliki konsekuensi kemanusiaan jangka panjang yang seringkali terlupakan oleh publik.

Load More