News / Internasional
Selasa, 10 Maret 2026 | 15:46 WIB
Analisis mendalam strategi perang atrisi Iran dalam menghadapi gempuran militer skala besar Amerika Serikat dan Israel. (BBC)
Baca 10 detik
  • Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz jika serangan Amerika dan Israel terus berlanjut.

  • Donald Trump menjanjikan serangan 20 kali lebih kuat jika blokade minyak benar-benar terjadi.

  • Konflik ini memicu lonjakan harga minyak dunia dan kekhawatiran krisis ekonomi global.

Suara.com - Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengancam penutupan jalur energi.

Pihak Teheran menyatakan kesiapan mereka untuk menghentikan seluruh aktivitas distribusi minyak melalui kawasan Selat Hormuz.

Langkah berani ini diambil sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan militer yang terus meningkat di wilayah kedaulatan mereka.

Juru bicara IRGC mengklaim bahwa kekuatan militer Iran memiliki kendali penuh atas durasi dan eskalasi konflik saat ini.

Pemerintah Iran menegaskan posisi mereka sebagai pemegang kunci utama dalam menentukan masa depan peperangan yang sedang bergejolak.

Pernyataan keras ini muncul setelah Iran menolak memberikan akses bagi kapal tanker minyak selama agresi luar negeri berlangsung.

Teheran berkomitmen tidak akan membiarkan sumber daya energi keluar dari kawasan selama wilayah mereka masih berada dalam ancaman.

Situasi semakin rumit seiring dengan naiknya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru di negara tersebut.

Kehadiran pemimpin baru ini dianggap oleh pengamat internasional sebagai simbol keteguhan sikap Iran dalam menghadapi tekanan global.

Baca Juga: Rudal dan Drone Iran Bikin Donald Trump Ketar-ketir, Jarak Terbang di Luar Nalar

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan tanggapan yang sangat agresif terhadap gertakan blokade dari pihak IRGC.

Dalam sebuah pernyataan resmi, Trump mengklaim bahwa militer Amerika Serikat telah memberikan dampak kerusakan yang sangat signifikan.

Ia merasa optimis bahwa operasi militer ini akan tuntas lebih awal dibandingkan target awal yang ditetapkan sebelumnya.

Namun, Trump memperingatkan adanya konsekuensi yang jauh lebih mengerikan jika distribusi minyak dunia benar-benar terhambat total.

Amerika Serikat siap melipatgandakan kekuatan tempur mereka untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka bagi perdagangan internasional.

Melalui kanal media sosial pribadinya, Trump merinci bahwa balasan yang diterima Iran bisa mencapai puluhan kali lipat.

Ia menegaskan tidak akan menoleransi tindakan apa pun yang mengganggu stabilitas pasokan energi bagi negara-negara di dunia.

Peringatan ini menjadi sinyal kuat bahwa Washington tidak ragu melakukan konfrontasi fisik secara besar-besaran di wilayah perairan.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima dari total kebutuhan minyak di seluruh bumi.

Kondisi keamanan di ibu kota Iran dilaporkan memburuk setelah fasilitas kilang minyak utama mengalami kerusakan akibat serangan.

Asap tebal terlihat menyelimuti langit Teheran yang menunjukkan betapa seriusnya dampak dari eskalasi militer yang terjadi sekarang.

Di saat yang sama, militer Israel juga dilaporkan memperluas jangkauan operasi mereka hingga ke wilayah Beirut, Lebanon.

Operasi gabungan ini disebut sebagai tindakan balasan atas aktivitas milisi yang terus mengancam keamanan wilayah perbatasan Israel.

Kehancuran infrastruktur di berbagai titik strategis telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang semakin mendalam bagi penduduk lokal di sana.

"Setidaknya 1.332 warga sipil Iran telah terbunuh dan ribuan lainnya luka-luka sejak AS dan Israel meluncurkan rentetan serangan udara dan rudal di seluruh Iran," tulis laporan IRGC.

Dampak dari ancaman keamanan ini membuat operasional kapal tanker terhenti total selama lebih dari satu minggu.

Banyak perusahaan produsen minyak terpaksa menghentikan proses pemompaan karena tangki penyimpanan sudah mencapai kapasitas maksimalnya.

Ketidakpastian ini memicu lonjakan harga minyak mentah jenis Brent yang sempat meroket hingga hampir tiga puluh persen.

Fluktuasi harga energi ini menjadi perhatian utama pasar keuangan dunia karena berpotensi memicu inflasi global yang tidak terkendali.

Pemerintah Amerika Serikat kini menghadapi tekanan internal akibat meroketnya harga bahan bakar di stasiun pengisian kendaraan.

Masalah ekonomi ini menjadi sangat sensitif mengingat momentum politik pemilihan paruh waktu yang akan segera berlangsung.

Warga Amerika mulai mempertanyakan efektivitas dan urgensi dari keterlibatan militer dalam konflik yang terjadi di Timur Tengah.

Banyak pihak merasa khawatir bahwa biaya hidup akan terus membengkak jika peperangan ini tidak segera menemukan jalan keluar.

Ketidakpuasan publik ini tercermin dalam berbagai survei yang menunjukkan rendahnya tingkat persetujuan terhadap langkah militer yang diambil pemerintah.

Hingga kini, komunitas internasional masih memantau dengan saksama setiap pergerakan armada militer di sekitar kawasan Selat Hormuz.

Pasar saham dunia tetap bergerak volatil mengikuti setiap pernyataan yang dikeluarkan oleh para pemimpin negara yang bertikai.

Risiko konfrontasi langsung antara kekuatan besar dunia kini menjadi ancaman nyata yang membayangi stabilitas keamanan internasional secara menyeluruh.

Masa depan pasokan energi global kini bergantung pada keputusan strategis yang akan diambil oleh Teheran dan Washington.

Load More