- Otoritas Bahrain menangkap insinyur telekomunikasi India, Nitin Mohan, atas dugaan spionase untuk badan intelijen Israel, Mossad.
- Tersangka dituduh mengirimkan data geospasial, foto, dan video pengintaian strategis yang berpotensi analisis militer Israel.
- Kasus ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, sementara Iran mengklaim strategi AS dan Israel untuk menjatuhkannya telah gagal.
Suara.com - Otoritas Bahrain menangkap seorang insinyur telekomunikasi asal India yang diduga melakukan kegiatan spionase untuk badan intelijen Israel, Mossad.
Dilansir dari kantor berita Azernews, Pria tersebut dituduh mengirimkan informasi sensitif terkait lokasi strategis di negara itu.
Menurut laporan awal, tersangka bernama Nitin Mohan ditangkap oleh badan intelijen Bahrain karena diduga mengirim data geospasial, foto, dan rekaman video pengintaian ke intelijen Israel.
nformasi tersebut disebut berpotensi digunakan untuk analisis militer dan penentuan target strategis.
Penyidik menduga materi yang dikirim mencakup citra lokasi penting serta data operasional yang dapat membantu lembaga intelijen asing melakukan penilaian strategis.
Dugaan ini membuat kasus tersebut masuk kategori serius dalam keamanan nasional.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain telah mengonfirmasi penangkapan tersebut, namun belum mengungkap rincian lengkap penyelidikan.
“Penyelidikan masih berlangsung dan informasi lebih lanjut akan disampaikan setelah proses berjalan,” kata pejabat kementerian.
Otoritas juga belum memastikan apakah ada pihak lain yang terlibat dalam jaringan dugaan spionase tersebut.
Baca Juga: Adik Benjamin Netanyahu Dikabarkan Tewas Rumahnya Dibom Iran, Begini Kata Israel
Kasus ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama setelah konflik militer yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Bahrain sendiri dikenal sebagai salah satu sekutu utama Amerika Serikat di Teluk Persia dan tuan rumah Armada Kelima Angkatan Laut AS.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan strategi utama Amerika Serikat dan Israel untuk menjatuhkan pemerintah Iran telah gagal.
Dalam wawancara dengan PBS News, Araghchi mengatakan Washington dan Tel Aviv awalnya percaya mereka dapat meraih kemenangan cepat.
“Mereka yakin dalam dua atau tiga hari bisa memicu perubahan pemerintahan dan mendapatkan kemenangan cepat, tetapi mereka gagal,” ujarnya.
Araghchi menilai strategi tersebut kini runtuh sepenuhnya. “Saya pikir ‘Plan A’ mereka telah runtuh, dan sekarang mereka mencoba opsi lain yang juga tidak berhasil,” katanya.
Berita Terkait
-
Adik Benjamin Netanyahu Dikabarkan Tewas Rumahnya Dibom Iran, Begini Kata Israel
-
Ratusan Prajurit Amerika Mulai Membelot, Muak dengan Pembantaian Siswi SD di Minab
-
Rudal 'Kiamat' Iran Gempur Israel, Berat Hulu Ledak 1 Ton
-
The Economist Kritik Habis Trump: Perang Anda Melawan Iran Tak Akan Berhasil
-
Media Iran: Kemungkinan Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Misi Militer Penuh Ironi: Teknisi AS Dicakar Monyet Saat Menuju Medan Konflik Selat Hormuz
-
Benjamin Netanyahu Akui Sempat Jalani Terapi Kanker Prostat Diam-diam
-
Mahasiswa Doktoral USF Tewas Misterius, Diduga Dibunuh Teman Sekamar
-
Penasihat Hukum Nadiem Mangkir dari Sidang, Pengamat: Bisa Dikategorikan Contempt of Court
-
8 Orang Tewas Dalam Serangan Israel ke Lebanon Selama 24 Jam Terakhir
-
Biaya Perang Amerika Serikat Lawan Iran Tembus Rp 1.000 Triliun
-
Ketum Parpol Dibatasi 2 Periode, Eks Penyidik KPK: Cegah Kekuasaan Terlalu Lama dan Rawan Korupsi
-
Kawat Berduri Blokade Anak-anak Palestina Sekolah ke Tepi Barat
-
Praka Rico Gugur Usai Dirawat, Korban Kedua TNI dalam Serangan ke Pos UNIFIL Lebanon
-
Bangun Iklim Kompetitif, Mendagri: Ajang Penghargaan Pemda Pacu Kinerja Kepala Daerah