News / Internasional
Kamis, 12 Maret 2026 | 09:00 WIB
Mojtaba Khamenei (Tasnim)
Baca 10 detik
  • Mojtaba Khamenei terluka dalam serangan Israel namun tetap menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran.

  • Pemerintah Iran memanfaatkan cedera Mojtaba untuk membangun narasi pahlawan perang di garis depan.

  • Pakar meragukan kendali penuh Mojtaba karena ia belum muncul ke publik pasca dilantik.

Suara.com - Media Israel menilai Republik Islam Iran dikabarkan tengah memanfaatkan situasi cedera yang dialami oleh pemimpin barunya yakni Mojtaba Khamenei.

Langkah ini dilakukan guna membentuk citra dirinya sebagai sosok pejuang yang tangguh di mata rakyat.

Seorang spesialis urusan Iran dari Institute for National Security Studies (INSS) mengungkapkan narasi heroik ini pada hari Rabu.

Mojtaba yang merupakan putra kedua dari mendiang Ali Khamenei dilaporkan terkena dampak serangan udara Israel beberapa waktu lalu.

Meskipun menderita luka ringan namun dua informan internal memastikan bahwa sang pemimpin tetap mampu menjalankan tugas-tugas kenegaraannya.

Informasi mengenai kondisi medis ini awalnya mencuat melalui laporan eksklusif media internasional sebelum dikonfirmasi oleh sumber-sumber lainnya.

Pejabat pemerintah di Teheran mengakui kepada media asing bahwa pemimpin tertinggi tersebut sedang dalam pemulihan akibat luka di bagian kaki.

Berdasarkan data lapangan ia terkena dampak serangan pada hari pertama pelaksanaan operasi militer bertajuk Roaring Lion dan Epic Fury.

Laporan medis menunjukkan adanya retakan pada tulang kaki serta memar yang cukup parah di sekitar area mata kiri.

Baca Juga: Laporan Intelijen Bongkar Kondisi Parah Mojtaba Khamenei Habis Dibom Israel

Selain itu terdapat beberapa luka sayatan di bagian wajah yang memerlukan penanganan medis secara intensif pasca ledakan tersebut.

Beni Sabti yang merupakan pakar dari INSS menilai bahwa luka-luka tersebut sengaja dipublikasikan untuk membangun kewibawaan spiritual.

“Ada sebuah aura yang sudah melekat padanya, dan dia kini dianggap sebagai ‘veteran perang Ramadan’, yang berarti perang saat ini,” ujar Sabti.

Pihak pemerintah berusaha keras memoles reputasi Mojtaba agar terlihat layaknya prajurit yang berada di garis depan pertempuran.

“Mereka mencoba mempromosikan citranya dan mengubahnya menjadi pahlawan yang berada di garis depan sejak saat pertama perang dimulai,” tegas Sabti dalam analisanya.

Hingga saat ini publik belum melihat penampilan fisik Mojtaba di depan kamera sejak pengangkatan resminya oleh Majelis Ahli.

Pengumuman penunjukannya dilakukan tak lama setelah kabar kematian ayahnya yakni Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara pada akhir Februari.

Dalam peristiwa yang sama saluran televisi nasional Iran mengabarkan bahwa ibu dan saudara perempuan Mojtaba juga turut menjadi korban jiwa.

Bahkan istri dari pemimpin baru ini dilaporkan tidak selamat dalam serangan udara yang dilancarkan oleh pasukan pertahanan Israel tersebut.

Kehilangan keluarga besar ini menjadi beban emosional yang berat di tengah transisi kepemimpinan yang sedang berlangsung di Teheran.

Mojtaba sendiri sebenarnya bukan orang baru dalam lingkungan militer karena ia tumbuh besar di tengah kecamuk perang Iran-Irak.

Sejak era 1990-an putra mendiang pemimpin besar ini telah menancapkan pengaruhnya di berbagai sendi vital pemerintahan Iran.

Kekuasaannya merambah hingga ke kebijakan media nasional serta penentuan posisi strategis di berbagai universitas terkemuka di sana.

Departemen Keuangan Amerika Serikat bahkan telah memasukkan namanya ke dalam daftar hitam sanksi internasional sejak beberapa tahun silam.

“Mojtaba Khamenei mewakili Pemimpin Tertinggi meskipun tidak pernah dipilih atau diangkat ke posisi pemerintahan mana pun, selain pekerjaannya di kantor ayahnya,” tulis keterangan resmi AS.

Ia juga dituduh sebagai sosok di balik layar yang menekan aksi protes besar-besaran Gerakan Hijau pada tahun 2009 silam.

Absennya Mojtaba dari pandangan mata publik menimbulkan tanda tanya besar mengenai siapa yang sebenarnya memegang kendali negara.

Beberapa pihak berpendapat bahwa persembunyian ini bertujuan untuk menjaga keselamatan sang pemimpin dari ancaman serangan lanjutan.

Namun Beni Sabti memiliki pandangan yang cukup kontradiktif mengenai menghilangnya sang pemimpin dari ruang publik secara total.

Ia meragukan apakah Mojtaba benar-benar mengoperasikan roda pemerintahan secara mandiri atau hanya sekadar simbol formalitas belaka.

“Saya tidak berpikir dia benar-benar menjalankan Iran,” kata Sabti dengan nada skeptis terhadap situasi politik di Teheran.

Sabti meyakini bahwa manajemen negara saat ini masih dipegang oleh para loyalis lama yang tersisa dari era kepemimpinan ayahnya.

“Saya yakin para pejabat senior yang tersisa dari era ayahnya lah yang mengelola negara,” jelas pakar INSS tersebut memberikan gambaran internal.

Kecurigaan ini diperkuat dengan fakta bahwa suara Mojtaba pun belum pernah terdengar melalui pidato radio maupun rekaman audio apa pun.

Bagi Sabti ketiadaan komunikasi langsung dengan rakyat menunjukkan adanya hambatan fungsi sebagai seorang pemimpin tertinggi yang sah.

“Jika memang demikian, itu bukan pertanda baik bagi dirinya,” pungkas Sabti menutup analisis mendalam mengenai dinamika kekuasaan Iran.

Load More