News / Internasional
Minggu, 29 Maret 2026 | 10:25 WIB
Perang Iran-AS memicu lonjakan harga minyak 45% akibat penutupan jalur strategis Selat Hormuz.
Baca 10 detik
  • Perang Iran-AS memicu lonjakan harga minyak 45% akibat penutupan jalur strategis Selat Hormuz.

  • Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin baru Iran menggantikan Ayatollah Ali Khamenei yang tewas terbunuh.

  • Kerugian pasar keuangan dunia mencapai 11,5 triliun dolar disertai krisis energi di berbagai negara.

Inflasi global pun tak terhindarkan seiring dengan melonjaknya biaya logistik dan transportasi di hampir seluruh belahan bumi.

Iran menggunakan strategi ini sebagai instrumen tekanan politik yang kuat untuk menekan posisi tawar Amerika Serikat dan sekutunya.

Rontoknya Nilai Kapitalisasi Pasar Keuangan Global

Ketakutan para investor terhadap eskalasi perang telah memicu kepanikan luar biasa di berbagai lantai bursa saham dunia.

Tercatat kapitalisasi pasar global harus kehilangan nilai sebesar US$11,5 triliun hanya dalam kurun waktu satu bulan saja.

Indeks saham utama di Amerika, Eropa, hingga kawasan Asia mengalami terjun bebas hingga mencapai angka dua digit.

Situasi ini mencerminkan betapa rapuhnya ekonomi dunia saat dihadapkan pada gangguan pasokan energi dan ketidakpastian keamanan wilayah.

Banyak pihak mengkhawatirkan bahwa tekanan finansial ini akan berujung pada resesi panjang jika gencatan senjata tidak segera dilakukan.

Eskalasi Serangan Balasan ke Pangkalan Militer

Baca Juga: Dampak Perang AS-Israel, Iran Segel Selat Hormuz Hingga Harga BBM Terus Melejit

Iran tidak tinggal diam dan segera mengaktifkan unit militernya untuk menyerang puluhan titik pertahanan milik Amerika Serikat.

Target serangan balasan tersebut mencakup barak-barak militer di Timur Tengah serta infrastruktur pertahanan utama milik negara Israel.

Keterlibatan kelompok Houthi dari Yaman semakin memperkeruh suasana dengan meluncurkan proyektil rudal ke arah wilayah kedaulatan Israel.

Konflik yang semula terlokalisasi kini mulai merembet ke area perairan Laut Merah yang merupakan urat nadi perdagangan.

Risiko gangguan pelayaran internasional semakin nyata dan mengancam stabilitas distribusi barang antarbenua secara masif dan berkelanjutan.

Beban Biaya Perang yang Menguras Kantong

Load More