- Pedagang nasi bernama Ali telah tiga tahun berdagang dekat tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.
- Ali telah beradaptasi ekstrem sehingga tidak lagi terganggu oleh bau menyengat sampah yang menggunung tinggi di sekitar lapaknya.
- Faktor ekonomi membuat Ali bertahan berdagang di lokasi tersebut meskipun kondisi lingkungan sekitar dinilai sangat kurang higienis.
Suara.com - Bagi sebagian besar orang, tumpukan sampah dengan aroma busuk yang menyengat adalah tempat yang harus dihindari sejauh mungkin.
Namun, bagi pedagang nasi dan lauk, Ali, tumpukan sampah di kawasan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, adalah "kawan" sehari-hari dalam mencari rezeki.
Di tengah hiruk pikuk aktivitas pasar yang tak pernah sepi, Ali tetap tenang menyajikan sepiring demi sepiring nasi lauk kepada pelanggannya. Yang mengejutkan, lapak dagangannya hanya berdiri dalam jarak yang tak jauh dari gunungan sampah yang menggunung tinggi.
Indra Penciuman yang Telah 'Berdamai'
Sudah tiga tahun Ali menggantungkan hidupnya di lokasi ini. Selama itu pula, ia telah melewati proses adaptasi yang ekstrem terhadap lingkungannya.
Jika pengunjung baru akan menutup hidung atau bahkan merasa mual saat melintasi area tersebut, Ali justru tampak santai tanpa masker yang menutupi wajahnya.
Saat ditanya mengenai perasaannya berjualan di dekat limbah pasar yang menggunung, ia memberikan jawaban yang menunjukkan betapa kuatnya pembiasaan terhadap kondisi lingkungan sekitar.
“Kalau sudah terbiasa jadi biasa aja, nggak terlalu terganggu,” ujar Ali saat ditemui di lokasi, Senin (30/3/2026).
Bagi Ali, bau yang menusuk hidung itu bukan lagi gangguan, melainkan latar aroma dari rutinitasnya. Ia mengakui bahwa bau tersebut hanya akan terasa bagi mereka yang tidak terbiasa.
"Kalau sudah terbiasa ya nggak (tercium). Kalau yang baru datang itu baru kecium baunya," tambahnya.
Baca Juga: Gunungan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati Menumpuk hingga 6 Meter, Ini Penyebabnya
Kondisi yang Berulang dan Tak Terhindarkan
Tumpukan sampah setinggi enam meter tersebut memang terlihat sangat parah. Namun, menurut Ali, fenomena sampah yang meluap itu sudah menjadi pemandangan harian.
Meski terkadang volume sampah bertambah drastis seperti yang terjadi sejak semalam, ia tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang luar biasa.
"Enggak tiap hari begini (separah ini), tapi ya nggak terlalu beda jauh," jelasnya.
Kondisi higienitas di sekitar tempat makan biasanya menjadi prioritas utama konsumen. Namun, di sudut Pasar Kramat Jati ini, hal tersebut seolah tidak berlaku.
Ali mengklaim bahwa kualitas dagangannya tetap terjaga dan tidak terganggu oleh keberadaan sampah. Hal yang sama pun diungkapkan oleh para pelanggannya yang seolah memiliki tingkat toleransi yang sama tingginya dengan sang penjual.
Bertahan Demi Nafkah
Ali bukannya tidak ingin berjualan di tempat yang lebih bersih dan nyaman. Namun, faktor ekonomi dan strategi lokasi pasar membuatnya memilih untuk tetap bertahan. Baginya, berjualan di area tersebut adalah pilihan realistis demi menyambung hidup.
Berita Terkait
-
Gunungan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati Menumpuk hingga 6 Meter, Ini Penyebabnya
-
Sampah Menggunung 6 Meter di Pasar Induk Kramat Jati, Bau Menyengat Ganggu Aktivitas
-
Sarung Tangan Plastik Makan: Higienitas, Efisiensi, atau Limbah Baru?
-
Sampah Menggunung di Pasar Induk Kramat Jati Capai 6.970 Ton, Pasar Jaya Kebut Pengangkutan
-
Miris, Pandawara Tunjukkan Banyak Amplop THR Bekas Ditemukan di Sungai
Terpopuler
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Tak Sembarang Orang Bisa Beli, Begini Alur Distribusi Narkoba 'VIP Only' di B Fashion Hotel
-
Nasib Ahmad Syahri Merokok dan Main Game Saat Rapat, Terancam Dipecat dari DPRD Jember?
-
Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
-
Nasib Santri Ponpes Pati Usai Geger Kasus Pelecehan, Sekolah Tetap Lanjut atau Pindah?
-
Polda Metro Jaya Bentuk Tim Pemburu Begal, Kombes Iman: Kami Siap Beraksi 24 Jam!
-
Kepulauan Seribu Diserbu Wisatawan Saat Liburan, Polres Sebar Polisi di Tiap Dermaga
-
Kedubes Jepang Warning Warganya: Nekat Prostitusi Anak di RI, Siap-siap Dibui di Dua Negara
-
Polisi Ciduk Komplotan Jambret di Tamansari, Uang Hasil Kejahatan Dipakai Buat Pesta Sabu
-
Sebut Prabowo Anggap Gagasannya Suci, Sobary: Oh Paus Saja Ndak Begitu Bung!
-
Tak Ada Ampun! Hanya 6 Hari Pasca Penggerebekan, Pemprov DKI Sikat Habis Izin B Fashion Hotel