News / Nasional
Selasa, 31 Maret 2026 | 13:45 WIB
Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra - Mantan Intelijen Negara. [YouTube/Forum Keadilan TV]
Baca 10 detik
  • Penyiraman air keras pada aktivis KontraS diindikasi sebagai upaya pelemahan sistemik dan "kudeta merayap" terhadap Presiden.
  • Mantan intelijen menyarankan Presiden melakukan pembersihan internal untuk mengatasi dualisme loyalitas di lingkaran kekuasaan terdekat.
  • Diperlukan evaluasi dan pergantian pejabat strategis seperti Kapolri atau Panglima TNI untuk memulihkan legitimasi publik.

“Yang sampai hanya yang bikin senang beliau... jangan dikasih informasi yang bikin dia pusing,” katanya.

Fenomena tersebut, menurut Sri, berpotensi menciptakan bias dalam pengambilan kebijakan karena Presiden tidak mendapatkan gambaran situasi secara komprehensif.

Dorongan Reshuffle dan Evaluasi Pimpinan Lembaga

Dalam konteks pemulihan kepercayaan publik, Sri menilai perlu adanya langkah berani berupa evaluasi hingga pergantian pejabat strategis.

“Kalau perlu, ini menyangkut situasi keamanan yang belum beres, Kapolri ganti kenapa tidak... Panglima TNI ganti,” tegasnya.

Ia menambahkan, langkah tersebut bukan semata soal pergantian figur, tetapi bagian dari upaya membangun kembali legitimasi pemerintahan di mata publik.

“Untuk membangun legitimasi masyarakat... bersihkan kabinet, evaluasi Kapolri dan Panglima TNI... itu dengan sendirinya akan meningkatkan kepercayaan publik,” pungkasnya.

Reporter: Dinda Pramesti K
 
 
 

Baca Juga: Pesan Haru Keluarga Andrie Yunus di DPR: Orang Lampung Itu Pelampung Penyelamat Demokrasi

Load More