News / Nasional
Jum'at, 03 April 2026 | 11:53 WIB
Para petambak kawasan mangrove Delta Mahakam Kaltim dalam mengadopsi teknik budidaya yang adaptif terhadap penyakit dan perubahan iklim melalui silvofishery yang mengintegrasikan penanaman pohon mangrove di dalam maupun di sekitar area tambak. ANTARA/HO-Dok Unmul.
Baca 10 detik
  • Produktivitas tambak tradisional di Delta Mahakam, Kalimantan Timur, menurun drastis akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim sejak lama.
  • Universitas Mulawarman memberikan pendampingan melalui Sekolah Lapang untuk meningkatkan kapasitas petambak dalam mengadopsi teknik budidaya yang lebih adaptif.
  • Penerapan sistem silvofishery dan polikultur mampu memulihkan ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan kualitas serta daya saing produk perikanan.

Suara.com - Produktivitas tambak tradisional di pesisir Kalimantan Timur terus merosot, dipicu kerusakan kualitas lingkungan dan tekanan perubahan iklim. Jika dibiarkan, kondisi ini tak hanya mengancam ekosistem pesisir, tetapi juga memukul keberlanjutan ekonomi para petambak.

Situasi ini terlihat jelas di kawasan Delta Mahakam. Riset akademis menunjukkan masa produktif optimal tambak tradisional di wilayah tersebut rata-rata hanya bertahan sekitar 13 tahun, sebelum kualitas lingkungan menurun drastis.

Pakar lingkungan dari Universitas Mulawarman (Unmul) Prof Esti Handayani Hardim menilai penurunan ini bukan sekadar faktor teknis, melainkan akumulasi krisis ekologis.

“Kemerosotan kualitas air dan substrat tambak itu secara langsung dipicu oleh dampak buruk perubahan iklim, fluktuasi suhu ekstrem, rendahnya kadar oksigen, hingga tingginya polusi air,” ujarnya seperti dikutip dari ANTARA, Jumat, (03/04/2026). 

Sebagai respons, Unmul menggagas program Sekolah Lapang untuk mendampingi petambak beradaptasi. Program ini difokuskan pada transfer pengetahuan dan praktik budidaya yang lebih tahan terhadap perubahan iklim dan serangan penyakit.

“Unmul menyatakan kesiapan melalui Sekolah Lapang untuk terus mendampingi para petambak dalam mengadopsi teknik budidaya yang adaptif terhadap penyakit dan perubahan iklim,” kata Esti.

Salah satu pendekatan yang didorong adalah silvofishery, yakni integrasi tambak dengan penanaman mangrove. Sistem ini dinilai mampu memulihkan kualitas lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas. Akar mangrove berfungsi sebagai filter alami yang menyerap polutan, menstabilkan kondisi substrat, hingga mendukung mikroorganisme pengurai.

Tak hanya itu, metode ini juga berdampak pada kualitas hasil panen. “Udang maupun kepiting yang dibudidayakan dengan sistem integrasi ini terbukti memiliki kandungan asam amino dan asam lemak lebih tinggi sehingga menghasilkan kualitas daging berstandar premium,” jelas Esti.

Selain silvofishery, petambak juga diarahkan menerapkan sistem polikultur yang menggabungkan berbagai komoditas dalam satu kolam. Pendekatan ini memungkinkan siklus nutrisi berjalan lebih efisien—limbah dari satu komoditas menjadi sumber nutrisi bagi yang lain, sehingga menekan kebutuhan pakan tambahan dan pupuk kimia.

Baca Juga: Kenalan sama Godzilla El Nino, Fenomena Iklim Dampaknya Sampai Indonesia?

Menurut Esti, pendekatan ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga menjadi syarat penting untuk menjaga daya saing. “Budi daya perikanan yang sehat tanpa memicu deforestasi mangrove ini menjadi syarat utama agar produk ekspor dari Kaltim bebas dari isu pencemaran serta diterima penuh oleh pasar internasional,” tegasnya.

Di tengah tekanan iklim dan degradasi lingkungan, perubahan model budidaya menjadi tak terelakkan. Tanpa itu, tambak tradisional berisiko kehilangan fungsi—baik sebagai sumber ekonomi maupun penyangga ekosistem pesisir.

Load More