-
Donald Trump mengancam serangan besar ke pembangkit listrik dan jembatan Iran pada Selasa.
-
Presiden AS menuntut pembukaan Selat Hormuz dengan ancaman penderitaan bagi rakyat Iran.
-
Eskalasi konflik AS-Israel vs Iran telah menewaskan ribuan orang sejak Februari 2026.
Suara.com - Perang di kawasan Timur Tengah kini memasuki babak baru yang jauh lebih berbahaya dan mengkhawatirkan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka melontarkan ancaman militer yang sangat spesifik terhadap kedaulatan Iran.
Fokus utama dari peringatan keras ini adalah penghancuran fasilitas energi dan jalur transportasi darat di sana.
Langkah ini diprediksi akan melumpuhkan total aktivitas ekonomi dan logistik masyarakat Iran dalam waktu singkat.
Konflik bersenjata yang melibatkan kekuatan AS dan Israel melawan Teheran memang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Melalui kanal komunikasinya di media sosial, Trump memberikan indikasi waktu serangan yang sangat segera dilakukan.
Dunia internasional kini menyoroti hari Selasa sebagai momen krusial bagi keamanan nasional wilayah Republik Islam tersebut.
Trump menegaskan bahwa target yang diincar mencakup sektor-sektor yang paling krusial bagi kehidupan warga sipil.
"Selasa akan menjadi Hari [kemungkinan serangan terhadap] Pembangkit Listrik, dan Hari [kemungkinan serangan terhadap] Jembatan, semuanya digabung menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!!" kata Trump pada Minggu di platform Truth Social miliknya.
Baca Juga: Misi Penyelamatan Pilot Gagal Total! AS Panik Ledakan Pesawat Sendiri, Rugi Rp3,2 Triliun!
Kalimat tersebut memberikan sinyal bahwa operasi militer skala besar sedang dipersiapkan oleh pihak Gedung Putih.
Selain ancaman fisik pada bangunan, aspek geopolitik laut juga menjadi poin utama dalam gertakan tersebut.
Trump menuntut agar akses pelayaran internasional di jalur minyak paling penting di dunia tetap terbuka.
Jika Teheran memutuskan untuk melakukan blokade, maka konsekuensi ekonomi yang sangat berat sudah menanti mereka.
Trump mengatakan Iran harus membuka Selat Hormuz atau mereka akan hidup menderita.
Hal ini menunjukkan ambisi Amerika Serikat untuk tetap memegang kendali penuh atas arus komoditas global.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
Serangan Israel di Jnah Beirut Tewaskan Warga hingga Iran Berhasil Tembak Jatuh Pesawat Militer AS
-
Babak Baru Kasus Pembunuhan Kacab Bank: 3 Prajurit TNI Jalani Sidang Perdana di PN Militer Hari Ini!
-
Puing Helikopter Black Hawk dan C-130 AS Berserakan di Gurun Iran
-
Misi Penyelamatan Pilot Gagal Total! AS Panik Ledakan Pesawat Sendiri, Rugi Rp3,2 Triliun!
-
Donald Trump Ancam Kirim Neraka ke Iran Jika Selat Hormuz Tidak Dibuka Dalam Waktu 48 Jam Mendatang
-
Imbas Kasus Amsal Sitepu, Kajari dan Kasi Pidsus Karo Diboyong Intel Kejagung ke Jakarta!
-
Dunia Tahan Napas, Iran Ancam Luncurkan "Kejutan Besar" untuk Hancurkan AS-Israel
-
Terancam Dipolisikan JK, Kubu Rismon Sianipar Berdalih Tudingan Dana Rp5 Miliar Hasil Olahan AI
-
Krisis Berlapis! Internet Shutdown, Listrik Terancam Ikut Mati, Warga Iran Cemas
-
Kemnaker Buka Sertifikasi Ahli K3 Umum Batch 2: Kuota 2.100 Peserta