Militer Amerika Serikat menyerang 50 target militer di Pulau Kharg Iran pada Selasa malam.
Serangan dipicu penolakan Iran untuk membuka Selat Hormuz sesuai ultimatum Presiden Donald Trump.
Iran menolak gencatan senjata dan menuntut kompensasi kerusakan sebelum memulai dialog perdamaian resmi.
Suara.com - Ketegangan di kawasan Teluk Persia mencapai titik didih setelah militer Amerika Serikat meluncurkan operasi serangan udara.
Sasaran utama dalam operasi militer ini adalah Pulau Kharg yang merupakan wilayah strategis milik Iran.
Langkah ofensif ini terjadi tepat pada hari Selasa, 7 April 2026, yang mengagetkan stabilitas keamanan global.
Media internasional melaporkan bahwa ledakan hebat terdengar di sekitar terminal ekspor minyak utama milik pemerintah Iran.
Meskipun ledakan terjadi sangat masif, laporan awal menyebutkan bahwa fasilitas infrastruktur minyak utama tidak mengalami kerusakan.
Detail Serangan Militer Amerika Serikat
Kantor berita Iran, Mehr, memberikan konfirmasi mengenai keterlibatan pihak asing dalam serangan yang terjadi di pulau tersebut.
"Musuh Amerika-Zionis (Israel) telah meluncurkan beberapa serangan di pulau Kharg, dan beberapa ledakan telah terdengar di sana," demikian laporan kantor berita Iran, Mehr.
Informasi ini diperkuat oleh jurnalis senior Barak Ravid yang mengutip data valid dari sumber di pemerintahan Amerika Serikat.
Baca Juga: Serangan Baru Bombardir Pulau Kharg Saat Donald Trump Ancam Kehancuran Iran
Pihak Washington mengakui bahwa operasi tersebut memang dirancang untuk melumpuhkan titik-titik kekuatan militer di pantai barat Iran.
Bahkan laporan terbaru menyebutkan setidaknya ada 50 titik sasaran yang berhasil dihantam oleh armada tempur Amerika Serikat.
Latar Belakang Ancaman Donald Trump
Aksi militer ini dilakukan hanya beberapa jam sebelum batas waktu yang ditentukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Trump sebelumnya telah mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran terkait akses navigasi internasional di kawasan perairan tersebut.
Mantan presiden yang kembali berkuasa ini mengancam akan mengubah kondisi Iran menjadi situasi yang sangat mengerikan jika tuntutannya diabaikan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Terdakwa Militer Dituntut Ringan, Keluarga Kacab BRI Gugat Pasal Peradilan Koneksitas ke MK
-
Hujan Lebat Disertai Petir Ancam Akhir Pekan Warga Jakarta Selatan dan Timur Jelang Petang
-
Program MBG Serap 1,28 Juta Tenaga Kerja, Ribuan UMKM hingga Peternak Ikut Kecipratan
-
Jateng Genjot Investasi EBT dan Pengelolaan Sampah, Ahmad Luthfi Tawarkan ke Para Pengusaha Tiongkok
-
'Kan Bisa di-Google', Jimly Asshiddiqie Sindir Pansel yang Loloskan Hery Susanto
-
Pansel Dinilai Kecolongan Loloskan Hery Susanto Jadi Ketua Ombudsman
-
Studi Temukan Mikroplastik Menyusup ke Sperma dan Ketuban, Apa Dampaknya?
-
Momen Prabowo Mau Reshuffle Zulhas Gara-Gara Salah Kasih Info Nama Desa, Ternyata Cuma Guyon
-
Hindari Area Kuningan, Dishub DKI Terapkan Buka-Tutup Jalan Hingga 26 Mei 2026
-
Usai 9 WNI Dipulangkan, Wanda Hamidah Serukan Konvoi Lebih Besar ke Palestina