-
Investigasi PBB menyatakan tank Merkava Israel menembakkan peluru ke arah posisi pasukan TNI.
-
Selain tank, ditemukan peledak IED yang diduga milik Hizbullah sebagai penyebab kematian prajurit.
-
Pemerintah Indonesia menuntut perlindungan keamanan penuh bagi seluruh personel UNIFIL di wilayah Lebanon.
Dujarric juga menyoroti adanya ancaman lain yang datang dari perangkat peledak rakitan di area sekitar.
"Berdasarkan bukti yang tersedia, termasuk analisis lokasi ledakan, kendaraan yang terdampak, serta perangkat peledak rakitan (IED) kedua yang ditemukan di dekat lokasi pada hari yang sama, ledakan tersebut disebabkan oleh IED yang diaktifkan oleh korban (tripwire)," lanjut dia.
Selain serangan tank, ditemukan fakta mengejutkan mengenai ranjau yang sengaja dipasang di jalur mobilitas pasukan perdamaian.
Pemasangan peledak ini diduga kuat bertujuan untuk menghalangi pergerakan unit militer maupun pengamat internasional di lapangan.
Pihak PBB menyatakan bahwa karakteristik ledakan tersebut merujuk pada pola operasional kelompok gerilya yang menguasai wilayah tersebut.
Penyelidikan teknis memperlihatkan bahwa perangkat tersebut memang didesain untuk meledak ketika tersentuh secara fisik oleh target.
Hal ini menambah daftar panjang risiko yang harus dihadapi oleh para prajurit TNI saat menjalankan mandat dunia.
"IED tersebut kemungkinan besar dipasang oleh Hizbullah," tegas Dujarric saat memberikan keterangan pers di New York.
Organisasi dunia ini berjanji tidak akan berhenti pada kesimpulan awal dan akan terus mencari keadilan bagi korban.
Baca Juga: 'Prabowo Subianto' Jadi Model Drummer Video Klip LEGO soal Perang Iran vs Amerika - Israel
Dewan Penyelidikan segera dibentuk untuk menyisir setiap detail kronologi mulai dari keberangkatan hingga detik-detik kejadian.
Pihak Indonesia sebagai negara pengirim pasukan sudah mendapatkan laporan resmi mengenai hasil investigasi sementara dari PBB ini.
Tiga negara utama yakni Indonesia, Israel, dan Lebanon telah duduk bersama untuk mendengarkan paparan teknis ini.
PBB berkomitmen untuk melakukan transparansi penuh agar keluarga korban mendapatkan kepastian hukum dan informasi yang jujur.
Dujarric menekankan temuan tersebut masih tahap awal dan berdasarkan bukti awal.
Pemerintah Republik Indonesia melalui perwakilannya menuntut adanya langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali di masa depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Terdakwa Militer Dituntut Ringan, Keluarga Kacab BRI Gugat Pasal Peradilan Koneksitas ke MK
-
Hujan Lebat Disertai Petir Ancam Akhir Pekan Warga Jakarta Selatan dan Timur Jelang Petang
-
Program MBG Serap 1,28 Juta Tenaga Kerja, Ribuan UMKM hingga Peternak Ikut Kecipratan
-
Jateng Genjot Investasi EBT dan Pengelolaan Sampah, Ahmad Luthfi Tawarkan ke Para Pengusaha Tiongkok
-
'Kan Bisa di-Google', Jimly Asshiddiqie Sindir Pansel yang Loloskan Hery Susanto
-
Pansel Dinilai Kecolongan Loloskan Hery Susanto Jadi Ketua Ombudsman
-
Studi Temukan Mikroplastik Menyusup ke Sperma dan Ketuban, Apa Dampaknya?
-
Momen Prabowo Mau Reshuffle Zulhas Gara-Gara Salah Kasih Info Nama Desa, Ternyata Cuma Guyon
-
Hindari Area Kuningan, Dishub DKI Terapkan Buka-Tutup Jalan Hingga 26 Mei 2026
-
Usai 9 WNI Dipulangkan, Wanda Hamidah Serukan Konvoi Lebih Besar ke Palestina