- Iran mengancam akan keluar dari kesepakatan gencatan senjata sementara usai militer Israel melanggar syarat perdamaian dengan membombardir wilayah Lebanon.
- Pejabat Teheran mengultimatum AS agar menertibkan 'anjing gila' Zionis, atau Angkatan Bersenjata Iran akan turun tangan menggunakan kekuatan paksa.
- Meski sepakat berunding di Islamabad berkat mediasi Pakistan, Iran menegaskan tidak pernah percaya pada AS dan tetap menyiagakan militernya.
Suara.com - Pemerintah Iran secara tegas mengancam akan segera menarik diri dari kesepakatan Gencatan Senjata Sementara apabila Rezim Zionis Israel terus melakukan provokasi berdarah di kawasan Lebanon.
Ancaman serius ini muncul setelah Angkatan Bersenjata Iran menilai musuh telah melanggar salah satu syarat utama perdamaian di tengah memanasnya Perang Timur Tengah.
Teheran kini menuntut Militer Amerika Serikat untuk segera mengendalikan sekutu terdekatnya tersebut sebelum kesepakatan damai yang baru seumur jagung ini hancur berantakan.
Menyitat Tasnim News, Kamis (9/4/2026), seorang sumber informasi terpercaya di internal pemerintahan Iran mengungkapkan kekesalannya kepada kantor berita Tasnim pada hari Rabu terkait pelanggaran kesepakatan tersebut.
Menurut sumber tersebut, Teheran saat ini sedang mempertimbangkan dengan sangat matang kemungkinan untuk membatalkan seluruh proses diplomasi yang sedang berjalan.
Keputusan ekstrem ini terpaksa diambil akibat tindakan sepihak rezim Zionis yang tetap melanjutkan operasi militer mematikan mereka terhadap target di Lebanon.
Pejabat tinggi itu menekankan bahwa penghentian permusuhan di semua lini sebenarnya merupakan bagian mutlak dari rencana perdamaian dua minggu yang telah disetujui Washington.
Penghentian serangan tersebut juga secara spesifik mencakup perlindungan terhadap kelompok perlawanan Islam yang selama ini berdiri heroik di wilayah Lebanon.
Namun faktanya, militer Israel justru melancarkan serangan brutal terhadap Lebanon pada Rabu pagi yang jelas-jelas merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan yang ada.
Baca Juga: Trump Ungkap Keuntungan Iran Setuju Buka Selat Hormuz: Akan Banyak Duit yang Dihasilkan
Merespons pengkhianatan ini, militer Iran kini dilaporkan sedang bergerak cepat untuk menentukan berbagai target balasan atas agresi Zionis tersebut.
Pihak Teheran memberikan peringatan keras kepada Washington agar segera mendisiplinkan sekutunya sebelum militer Iran mengambil alih tugas tersebut dengan cara yang kasar.
“Jika AS tidak mampu mengendalikan anjing gilanya di kawasan ini, Iran akan secara khusus membantunya dalam hal ini! Dan itu akan dilakukan dengan kekerasan,” tegas sumber tersebut.
Konflik berskala besar ini sendiri bermula dari kampanye militer tanpa provokasi yang dilancarkan oleh AS dan Israel pada 28 Februari lalu.
Serangan mendadak tersebut secara tragis telah merenggut nyawa Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah komandan militer dan warga sipil.
Tidak tinggal diam, pasukan elite Iran langsung memberikan balasan mematikan ke berbagai posisi strategis milik Amerika dan Israel di kawasan regional.
Berita Terkait
-
Korban Tewas Serangan Israel ke Lebanon Bertambah Jadi 254 Orang
-
Wapres AS JD Vance Sebut Iran Bodoh Jika Gagalkan Gencatan Senjata Gegara Lebanon
-
Dubes UEA: Konflik Iran Bukan Perang Agama, 85% Rudal Justru Sasar Negara Arab, Bukan Israel!
-
Donald Trump Minta Bagian dari Tarif Tol Kapal Selat Hormuz
-
Trump Sebut Lebanon Tak Termasuk Kesepakatan Gencatan Senjata, Timur Tengah Memanas
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Mediasi Dugaan Penistaan Agama Pandji Pragiwaksono, Novel Bamukmin Datangi Polda Metro Jaya
-
Saiful Mujani Dipolisikan! Dituding Hasut Makar Usai Serukan Narasi Jatuhkan Prabowo
-
Hanyut Sejauh 5 Kilometer, Balita yang Terseret Arus di Srengseng Ditemukan Meninggal Dunia
-
PKB Apresiasi Gencatan Senjata ASIran, DPR Dorong Indonesia Aktif Jaga Perdamaian
-
Negosiator Iran Masih Misterius! Siapa Sosok di Balik Perundingan Panas dengan AS?
-
Pemerintah Genjot Perbaikan Transportasi Publik, Dorong Warga-Pejabat Beralih dari Kendaraan Pribadi
-
Siapa Mohammed Wishah? Wartawan Dirudal Israel saat Liputan di Gaza
-
RI Respons Temuan Awal PBB Soal Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon: Segera Tuntaskan Investigasi!
-
April 2026, Prabowo Targetkan Groundbreaking 21 Proyek Hilirisasi dan 29 PSEL
-
Jerman Jadi Banyak Maling saat Harga Minyak Dunia Menggila