Gedung Putih membantah klaim bahwa Presiden Donald Trump telah menyetujui sepuluh tuntutan dari Iran.
Juru bicara menegaskan bahwa penghentian program pengayaan uranium tetap menjadi syarat mutlak dari Amerika.
Gencatan senjata selama dua pekan menjadi awal negosiasi baru bagi kedua negara yang berkonflik.
Suara.com - Gedung Putih secara resmi mengeluarkan pernyataan tegas mengenai posisi Amerika Serikat terhadap tuntutan pihak Iran.
Gencatan senjata AS Iran yang berlangsung selama dua pekan tidak berarti Trump menerima semua syarat.
Karoline Leavitt selaku Juru Bicara Gedung Putih menyebut berita mengenai penerimaan proposal Iran itu salah.
Pemerintah Amerika Serikat menekankan bahwa kepentingan nasional tetap menjadi prioritas utama dalam setiap perundingan internasional.
Posisi tawar Washington terhadap Teheran dianggap masih sangat kuat meskipun ada jeda dalam konflik militer.
"Gagasan bahwa Presiden Trump akan menerima daftar keinginan Iran sebagai bagian dari kesepakatan adalah hal yang sama sekali tidak masuk akal," ujar Leavitt dikutip dari Al Jazeera.
Kabar mengenai keberpihakan Trump terhadap keinginan Iran dinilai sebagai informasi yang sangat tidak masuk akal.
Gencatan senjata AS Iran ini justru menjadi momen bagi Amerika untuk tetap mengawal ketat aturan.
Setiap kebijakan yang diambil dipastikan hanya akan menguntungkan posisi Amerika Serikat di mata dunia internasional.
Baca Juga: Apa Itu Amandemen ke-25? Didorong untuk Lengserkan Trump Pasca Kekalahan AS dari Iran
Leavitt menyebutkan bahwa dokumen yang diajukan Iran berbeda dengan apa yang dilaporkan oleh pihak Teheran.
Poin-poin awal yang disodorkan oleh pemerintah Iran kabarnya langsung ditolak mentah-mentah oleh tim perunding.
Gencatan senjata AS Iran tetap berjalan meski ada perbedaan tajam mengenai isi dokumen kesepakatan awal.
Pihak Amerika Serikat merasa poin-poin yang diminta Iran tidak sejalan dengan visi keamanan global mereka.
Tim diplomatik Washington dikabarkan memiliki standar yang sangat tinggi sebelum menyetujui sebuah pakta perdamaian permanen.
"Benar-benar dibuang ke tempat sampah oleh tim AS," kata Leavitt dalam sebuah konferensi pers.
Iran kemudian mencoba mengirimkan revisi proposal baru untuk mendapatkan persetujuan dari pihak Gedung Putih.
Gencatan senjata AS Iran memberikan ruang bagi kedua negara untuk meninjau kembali persyaratan yang memungkinkan.
Meski ada revisi namun rincian mengenai poin mana yang disetujui masih dirahasiakan oleh pemerintah.
Amerika Serikat tetap bersikeras agar program nuklir yang dijalankan oleh Teheran segera dihentikan sepenuhnya.
"Garis merah presiden, yaitu penghentian pengayaan Iran di Iran, tidak berubah," kata Leavitt dengan sangat tegas.
Secara mengejutkan Donald Trump melalui akun Truth Social miliki pribadinya memberikan sebuah pandangan yang berbeda.
Gencatan senjata AS Iran disebut oleh Trump sebagai sebuah fondasi yang cukup masuk akal dilakukan.
Presiden menganggap bahwa pembicaraan ini merupakan langkah awal yang baik untuk menuju kesepakatan yang nyata.
Optimisme Trump terlihat jelas ketika ia menyebut proses negosiasi ini bersifat timbal balik bagi kedua negara.
"Periode dua minggu akan memungkinkan Perjanjian tersebut untuk diselesaikan dan diwujudkan," tulis Presiden AS ini.
Beberapa poin yang diinginkan Teheran meliputi hak pengayaan uranium hingga penghapusan sanksi ekonomi secara permanen.
Gencatan senjata AS Iran juga diharapkan oleh Iran mampu menghentikan serangan militer ke wilayah mereka.
Namun Amerika Serikat tetap menuntut agar Teheran menyerahkan seluruh cadangan uranium yang mereka miliki saat ini.
Ketegangan nuklir ini memang menjadi pemicu utama perang yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu.
Pihak Israel dan Amerika Serikat terus memantau aktivitas nuklir yang diklaim Iran hanya untuk tujuan damai.
Dunia kini menanti apakah gencatan senjata AS Iran ini akan berlanjut menjadi perdamaian yang abadi.
Setelah lebih dari satu bulan berperang kedua negara akhirnya setuju untuk menghentikan kontak senjata sementara.
Publik berharap tidak ada lagi gempuran militer yang merusak stabilitas ekonomi dan keamanan di Timur Tengah.
Proses diplomasi masih terus berjalan di belakang layar untuk menyamakan persepsi antara Trump dan Iran.
Kepastian mengenai masa depan program nuklir Iran menjadi kunci utama dalam menjaga kesepakatan gencatan senjata.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Vonis 8 Tahun Cuma Jalan 4 Tahun, Doni Salmanan Eks Crazy Rich Resmi Bebas Bersyarat!
-
Prabowo Bakal Tutup 13 Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, Negara Hemat 200 Ribu Barel Sehari
-
Prabowo Bocorkan Jadwal Produksi Massal Sedan Listrik RI
-
Kapolda Riau Gandeng Satuan Elite PDRM Malaysia, Sikat Narkoba dan Terorisme Lintas Batas
-
Cak Imin Sebut Diplomasi Prabowo Tahan PHK, tapi Data BPS Tunjukkan Warga Rentan Miskin Naik
-
Narkoba 'Saset' Malaysia Sasar Bali: Bareskrim Bongkar Kamuflase Minuman Serbuk Berisi MDMA
-
4 Syarat Novel Bakmumin Agar Laporan ke Pandji Pragiwaksono Dicabut
-
Viral! Cinta Segitiga Berakhir Tragis, Pemakaman Berubah Jadi Arena Baku Hantam
-
Gebrakan Prabowo: 'Sulap' Sawit Hingga Jelantah Jadi Avtur Pesawat, Siapkan Investasi Besar-besaran!
-
Mediasi Dugaan Penistaan Agama Pandji Pragiwaksono, Novel Bamukmin Datangi Polda Metro Jaya