- Israel melancarkan serangan udara besar di Lebanon pada Rabu (8/4/2026), menewaskan 254 orang dan memicu eskalasi militer regional.
- Perbedaan persepsi ruang lingkup gencatan senjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mengancam kelancaran perundingan damai di Islamabad.
- Konflik tersebut berdampak pada jatuhnya harga minyak dunia sebesar 14 persen serta penutupan akses strategis Selat Hormuz oleh Iran.
Meskipun situasi keamanan di darat memburuk, pasar keuangan global memberikan reaksi yang beragam namun signifikan. Indeks saham dunia dilaporkan melonjak sementara harga minyak mentah justru jatuh hingga 14 persen ke level sekitar $95 per barel.
Sebelumnya, harga minyak sempat menyentuh titik terendah di angka $90,40 per barel pasca-pengumuman kesepakatan awal pekan ini.
Kendati demikian, harga minyak patokan Brent tetap bertahan sekitar $25 lebih tinggi dibandingkan periode sebelum serangan gabungan AS-Israel dimulai pada akhir Februari lalu.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah mengubah dinamika kekuatan energi di kawasan Teluk secara permanen. Hingga saat ini, Selat Hormuz tetap ditutup bagi kapal-kapal yang tidak memiliki izin khusus.
Angkatan Laut Garda Revolusi Iran bahkan merilis peta rute alternatif guna menghindari ranjau laut, sebuah langkah yang diinterpretasikan sebagai penegasan kendali Teheran atas jalur logistik energi global.
Selain masalah Lebanon, isu program nuklir Iran tetap menjadi duri dalam daging bagi upaya diplomasi. Presiden Donald Trump mengklaim melalui media sosial bahwa Iran telah setuju untuk menghentikan pengayaan uranium dan menyerahkan stok yang ada.
"Amerika Serikat, bekerja sama dengan Iran, akan menggali dan menyingkirkan semua 'Debu' Nuklir yang terkubur dalam-dalam...," tulis Trump.
Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah oleh Qalibaf yang menegaskan bahwa berdasarkan ketentuan gencatan senjata yang dipahami Iran, mereka tetap diizinkan melanjutkan aktivitas pengayaan uranium.
Ketidaksamaan pandangan ini menunjukkan bahwa masalah fundamental antara kedua negara belum tersentuh meskipun kedua belah pihak sempat mendeklarasikan "kemenangan" atas perang lima minggu yang telah menelan ribuan korban jiwa tersebut.
Baca Juga: Negosiator Iran Masih Misterius! Siapa Sosok di Balik Perundingan Panas dengan AS?
Dunia internasional merespons situasi ini dengan kecemasan. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras serangan Israel di Lebanon dan menyebutnya sebagai serangan yang membabi buta.
Ia menegaskan melalui pernyataan di platform X bahwa Lebanon harus sepenuhnya dicakup dalam kesepakatan gencatan senjata demi stabilitas regional.
Sementara itu, pemimpin dari 13 negara Eropa, Jepang, dan Kanada mengeluarkan pernyataan bersama yang mendesak segera diakhirinya permusuhan untuk mencegah krisis energi global yang lebih parah.
Di dalam negeri Iran, ribuan warga turun ke jalan untuk merayakan jeda serangan, namun suasana tersebut dibayangi oleh ketidakpastian.
Banyak warga yang meragukan apakah diplomasi akan benar-benar berhasil di bawah bayang-bayang kebijakan luar negeri Trump yang dinamis dan sikap keras militer Israel.
Kini, perhatian tertuju pada pertemuan di Islamabad hari Sabtu. Jika tidak ada kompromi mengenai status Lebanon dan transparansi program nuklir, gencatan senjata dua minggu ini kemungkinan besar hanya akan menjadi jeda singkat sebelum konflik yang lebih besar kembali berkobar di Timur Tengah.
Berita Terkait
-
Meski Sepakat Gencatan Senjata, Donald Trump Blak-blakan Militer AS Masih Siaga di Dekat Iran
-
DPR Kutuk Serangan Israel ke Beirut, Dinilai Cederai Gencatan Senjata IranAS
-
Selat Malaka Milik Siapa? Bikin Singapura Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz
-
Pemerintah Indonesia Respons Positif Gencatan Senjata Iran-AS
-
Kutuk Serangan Israel, Macron Desak Lebanon Harus Diikutsertakan Dalam Gencatan Senjata AS dan Iran
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Kemnaker Usul Tambah Kuota Program Magang 2026 hingga 150 Ribu Orang
-
Meski Sepakat Gencatan Senjata, Donald Trump Blak-blakan Militer AS Masih Siaga di Dekat Iran
-
Sentil BGN Borong Motor Listrik, Hasto PDI-P: Belajarlah dari Gojek, Jangan Hamburkan Anggaran
-
Roy Suryo Dukung JK Polisikan Rismon Sianipar, Bantah Terima Dana Rp50 M di Kasus Ijazah Jokowi
-
AMSI Minta Dewan Pers Lindungi Magdalene dari Pembatasan Akses Konten
-
Riset WRI Ungkap Paradoks Banjir: Investasi Besar Tak Selalu Kurangi Risiko, Kenapa?
-
DPR Kutuk Serangan Israel ke Beirut, Dinilai Cederai Gencatan Senjata IranAS
-
Kubu Roy Suryo Bantah Keras Isu Dana Rp5 M dari JK: Satu Rupiah Pun Tidak Pernah!
-
Menaker Lapor Ada 1.590 Aduan THR 2026, DKI Jakarta dan Jabar Terbanyak
-
Eks Dirut Inhutani V Divonis 4 Tahun Penjara Kasus Suap Hutan Lampung, Rubicon Dirampas Negara